Dari Tambak ke Puncak NU: Jejak Kepemimpinan KH Juhadi Muhammad

|

Bau amis lumpur tambak dan deru angin pesisir pantai utara Jawa mungkin bukan lanskap yang lazim dibayangkan orang sebagai tempat lahirnya seorang pemimpin besar organisasi Islam. Di benak kebanyakan orang, pucuk pimpinan ormas keagamaan lahir dari bilik-bilik pesantren salontong tua atau ruang kuliah ber-AC tebal. Namun, KH Juhadi Muhammad meruntuhkan stereotip itu dengan elegan. Ia adalah potret nyata dari sebuah sintesis langka: kiai santri, pengusaha ulet, dan juru kemandirian organisasi.

Lahir dan dibesarkan di Indramayu, perjalanan hidup Kiai Juhadi tidak serta-merta karpet merah. Selepas menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, di mana ia menggembleng tempaan mental dan keagamaannya di bawah asuhan para kiai sepuh, Kiai Juhadi muda memilih jalan hidup yang membumi. Alih-alih hanya duduk di atas mimbar, ia turun langsung bergelut dengan realitas ekonomi masyarakat pesisir. Ia merintis jalan hidupnya dari bawah—bermula sebagai seorang “bakul udang”.

Di balik sarung kiai dan sorbannya, tersimpan naluri bisnis yang tajam. Dengan keringat sendiri, ia membangun usaha budidaya tambak udang dan bandeng hingga menjadi pengusaha perikanan yang sukses di Pantura. Bahkan, rekam jejak profesionalismenya di bidang ekonomi pernah mengantarkannya menyabet penghargaan dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2001 sebagai pelaku bidang intensifikasi tambak terbaik pertama se-Indonesia. Bagi Kiai Juhadi, dunia bisnis bukanlah sekadar sarana mencari kekayaan materi, melainkan instrumen penting untuk mencapai kemandirian. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), di mana ketergantungan finansial sering kali menjadi titik rentan gerakan, kehadiran sosok kiai yang mandiri secara ekonomi adalah sebuah oase.

Baca Juga:  Ketua PCNU Purwakarta Bantah Opini ‘Menjaga Konstitusi Jam’iyah di Jawa Barat’

Kemandirian inilah yang kemudian ia bawa manakala memimpin Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Indramayu. Tidak tanggung-tanggung, kepiawaian manajerial dan ketulusan berkhidmatnya membuat ia dipercaya memimpin cabang tersebut hingga tiga periode berturut-turut (2006–2021). Di bawah komandonya saat itu, PCNU Indramayu menorehkan prestasi gemilang sebagai pelopor penyelenggaraan Madrasah Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (MKNU) terbanyak dan paling produktif, melahirkan barisan kader militan hingga ke akar rumput.

Langkah kaki sang kiai pengusaha tak berhenti di batas kabupaten. Melalui Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jawa Barat tahun 2021, Kiai Juhadi dipercaya menakhodai PWNU Jawa Barat masa khidmat 2021–2026. Di sinilah babak baru kepemimpinannya di tingkat regional diuji, dan ia berhasil menorehkan pelbagai prestasi gemilang dalam menakhodai PWNU Jabar.

Baca Juga:  Adab dan Etika Seorang Medsosul Karimah dalam Perspektif Islam

Selama memimpin PWNU Jawa Barat, Kiai Juhadi sukses membawa ormas terbesar ini bertransformasi menjadi institusi yang progresif, terstruktur, dan solutif terhadap problem keumatan. Fokus kepemimpinannya di tingkat wilayah diarahkan secara konkret pada penguatan tata kelola organisasi yang solid, merajut harmoni institusional antara struktur wilayah dan cabang, serta menjaga kedamaian dan marwah jam’iyah di tengah dinamika sosial-politik yang kompleks.

Selain itu, di bawah kepemimpinannya, PWNU Jabar mencatatkan prestasi monumental dalam hal akselerasi pengkaderan formal. Gerbong kaderisasi yang sukses ia bangun di Indramayu dahulu diekstensifikasi ke tingkat regional secara masif dan terstruktur. Ia berhasil mendorong puluhan cabang di Jawa Barat untuk menggiatkan Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKPNU) dan PMKNU, menjadikan PWNU Jawa Barat sebagai salah satu etalase kaderisasi nasional yang paling produktif, terstandardisasi, dan militan.

Baca Juga:  Hakikat Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81: Kesetaraan, Perubahan, dan Pengabdian melalui Pendidikan

Tak hanya itu, Kiai Juhadi juga aktif memperkuat sinergi strategis lintas sektoral—termasuk dalam bidang pendidikan tinggi, kesehatan, dan kemandirian ekonomi umat—guna memastikan kehadiran NU dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Ketegasan sikap moralnya dalam menyerukan islah dan menjaga ukhuwah an-nahdliyah turut memperkokoh stabilitas internal organisasi di Jawa Barat.

KH Juhadi Muhammad telah membuktikan bahwa ulama masa depan bukan sekadar mereka yang fasih membaca kitab kuning di atas mimbar, tetapi juga mereka yang mampu membaca denyut nadi zaman, mengentalkan kemandirian ekonomi, serta merawat mesin organisasi melalui derap kaderisasi dan prestasi nyata. Dari lumpur tambak Indramayu hingga kursi kepemimpinan tertinggi Nahdliyin Jawa Barat, ia menginspirasi bahwa marwah ulama sejati terpancar dari ketulusan kerja nyata, kepemimpinan yang teruji, dan warisan kader-kader militan yang terus hidup di tengah umat.

Oleh: Akhmad Rifai – Penulis adalah Wakil Sekretaris Lakpesdam PWNU Jawa Barat

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran