Kemarau Panjang, Warga Harumandala Gelar Shalat Istisqa di Persawahan

|

GUGAH – Kemarau yang berkepanjangan dan mulai berdampak pada kebutuhan air serta lahan pertanian mendorong warga Desa Harumandala, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, menggelar Shalat Istisqa di area persawahan Lewi Mole, Kampung Jelat, Minggu (4/10/2026).

Ibadah tersebut menjadi ikhtiar spiritual masyarakat di tengah kondisi alam yang belum menunjukkan tanda-tanda hujan.

Shalat Istisqa diikuti warga Desa Harumandala bersama sebagian masyarakat Desa Sindangasih, Kabupaten Tasikmalaya, termasuk warga Curug Dengdeng dan Ci Eceng. Mereka berkumpul di hamparan sawah untuk memanjatkan doa agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Pelaksanaan Shalat Istisqa tidak dilakukan secara spontan. Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Harumandala mengimbau masyarakat menjalankan puasa selama tiga hari sebagai bentuk persiapan batin sebelum melaksanakan salat berjamaah.

Baca Juga:  PC IPNU Tasikmalaya Tegaskan Peran Generasi Muda dalam Deklarasi Jaga Rawat Jawa Barat

Pengurus MUI Desa Harumandala, Ijan, mengatakan rangkaian ibadah tersebut merupakan bentuk ikhtiar yang menggabungkan usaha lahiriah dan pendekatan spiritual.

“Shalat Istisqa ini merupakan bentuk ikhtiar kita sebagai umat Islam. Sebelum pelaksanaannya, MUI menyerukan masyarakat untuk berpuasa selama tiga hari. Setelah itu kami bersama-sama melaksanakan Shalat Istisqa dan bermunajat kepada Allah SWT agar diberikan rahmat berupa turunnya hujan,” katanya.

Menurut Ijan, Shalat Istisqa tidak hanya dimaknai sebagai permohonan turunnya hujan, tetapi juga menjadi momentum memperbanyak istighfar, bertaubat, serta melakukan muhasabah.

Baca Juga:  LAK2PB MUI Jabar Minta Pemprov Jabar Segera Mitigasi Dampak Kemarau, Dorong Rekayasa Cuaca dan Penyediaan Air Bersih

“Manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, selain berusaha secara lahiriah, kita juga perlu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Shalat Istisqa mengajarkan kita untuk menyadari kelemahan sebagai manusia sekaligus memperbanyak istighfar dan taubat,” ujarnya.

Ia menambahkan, air merupakan kebutuhan mendasar yang menentukan keberlangsungan kehidupan, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat.

“Air dibutuhkan semua makhluk. Sawah membutuhkan air, tanaman membutuhkan air, hewan juga membutuhkan air. Karena itu kami memohon kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan,” tuturnya.

Baca Juga:  Santri Ponpes Babakan Jamanis Parigi Rintis Budidaya Lele Fokus Pemijahan

Ijan berharap ikhtiar yang dilakukan masyarakat, mulai dari berpuasa hingga melaksanakan Shalat Istisqa, menjadi jalan turunnya rahmat Allah SWT.

“Semoga Allah menerima ibadah dan doa kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta menurunkan hujan yang bermanfaat bagi masyarakat, pertanian, hewan, dan seluruh kehidupan,” katanya.

Di tengah ancaman kemarau yang mulai dirasakan masyarakat pedesaan, pelaksanaan Shalat Istisqa di Harumandala menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat tidak hanya dibangun melalui upaya teknis, tetapi juga melalui nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas. Bagi warga, doa bersama di tengah hamparan sawah menjadi simbol harapan agar musim kering segera berakhir dan aktivitas pertanian kembali berjalan normal.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran