Secangkir teh hangat di pagi hari kerap menjadi simbol ketenangan, sebuah ritual sederhana yang menyapa hari sebelum kesibukan tiba. Namun jarang yang merenungkan: di balik uap hangat itu, tersembunyi tetes demi tetes kepahitan yang tak terlihat.
Kepahitan itu bukan berasal dari rasa tehnya, melainkan dari kenyataan hidup para petani teh rakyat di Kabupaten Purwakarta, tanah yang justru menjadi saksi awal mula perkebunan teh di Indonesia.
Padahal, di Kecamatan Kiarapedes dan Wanayasa, penanaman teh dilakukan secara massal pertama kali di negeri ini. Bahkan di Desa Pusakamulya, Kiarapedes, masih berdiri sisa pohon teh jenis kaligua yang ditanam sekitar tahun 1827, bersaksi atas sejarah panjang perkebunan nasional.
“Pohon teh yang pertama itu masih tersisa, berdiri di antara delapan jenis pohon teh lain yang datang belakangan,” ujar Asep Rahmat Saleh Setiaji, atau yang akrab disapa Kang Zaeng, tokoh petani teh setempat, belum lama ini.
Dari kejauhan, hamparan kebun teh di dataran tinggi Wanayasa, Kiarapedes, Bojong, hingga Darangdan tampak memesona. Permadani hijau yang memanjakan mata para pelancong.
Luas lahan teh rakyat di Purwakarta pernah mencapai 4.506 hektare, menyebar di empat kecamatan tersebut, dengan potensi rata-rata sekitar dua ton daun teh basah per hektar. Namun angka-angka indah itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.
Kenyataan di lapangan berbicara lain. Tahun ini saja, tercatat sekitar 8 hektar lahan perkebunan teh di Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, telah beralih fungsi. Angka itu bukan sekadar catatan di atas kertas, ia adalah lahan mata pencaharian yang hilang.
“Alih fungsi lahan ini menjadi hal yang sangat menggerus bagi perkebunan teh rakyat di sini,” ungkap Kang Zaeng dengan nada prihatin.
Desakan ekonomi membuat lahan-lahan produktif berpindah tangan atau berubah menjadi komoditas lain, bahkan kawasan wisata. Ketika kebun teh lenyap, para buruh petik dan petani mandiri kehilangan sumber nafkah harian.
Hilangnya perkebunan teh bukan sekadar pukulan ekonomi. Tanaman teh adalah penjaga alami daerah resapan air. Akarnya yang kuat menahan lereng perbukitan agar tidak longsor dan menjaga ketersediaan air bersih bagi warga di hilir. Jika tutupan lahan berubah secara serampangan, kerusakan ekologis bisa bersifat permanen.
Di balik hijaunya daun-daun yang dipetik fajar hingga petang, tersembunyi ketimpangan yang menganga. Harga jual daun teh basah di tingkat petani kerap tidak sebanding dengan peluh yang dicurahkan.
Rantai pasok yang panjang hingga campur tangan tengkulak membuat keuntungan terserap di tengah, sementara biaya pupuk, perawatan, dan kebutuhan hidup terus merangkak naik. Belum lagi pohon teh yang sudah tua dan mati yang tak ditanam bibit kembali.
Tanpa pengolahan mandiri yang memadai, petani hanya mampu menjual bahan mentah dengan harga murah. Daun yang dipetik tangan-tangan kasar itu dikemas indah di rak-rak supermarket kota dengan harga tinggi, namun nilai tambahnya tidak pernah kembali ke mereka yang merawat pohonnya.
Lebih memprihatinkan, regenerasi petani terancam mandek. Generasi muda kini lebih memilih merantau atau bekerja di sektor industri. Kebun teh dianggap tidak menjanjikan masa depan yang layak. Jika dibiarkan, warisan yang ditanam sejak 1827 itu bisa saja berakhir tanpa penerus.
Sungguh ironi yang menyayat hati: tanah yang subur, yang menjadi cikal bakal perkebunan teh di Indonesia, justru gagal menyejahterakan mereka yang merawatnya.
Keindahan kebun teh bukan sekadar pemandangan untuk difoto, bukan sekadar komoditas untuk diperdagangkan. Ia adalah rumah, kehidupan, dan warisan bagi ribu keluarga yang berhak hidup layak dari tanah yang mereka pelihara.
Sudah saatnya pemerintah daerah hadir bukan sekadar menyaksikan. Perlindungan lahan perkebunan rakyat, insentif bagi petani, pendampingan pengolahan pascapanen, hingga penegakan regulasi tata ruang, semuanya mendesak untuk diwujudkan, bukan sekadar tertulis di atas meja.
Negeri yang subur tidak pantas membiarkan penanamnya menelan kepahitan. Harum teh yang kita nikmati setiap pagi seharusnya dinikmati bersama, bukan hanya dinikmati segelintir orang, sementara mereka yang menanamnya tetap berjuang bertahan hidup. ***



Tinggalkan Balasan