Transaksi Saham Meledak 72%, Tapi IHSG Justru Anjlok 3,28%

|

GUGAH – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat perdagangan saham yang jauh lebih ramai sepanjang pekan 28 September–2 Oktober 2026. Namun, ramainya transaksi tidak berbanding lurus dengan kinerja pasar.

Rata-rata volume transaksi harian saham melonjak 72,51% menjadi 50,37 miliar saham dari 29,20 miliar saham pada pekan sebelumnya.

Di saat volume perdagangan melesat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru merosot 3,28%. Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG ditutup di level 6.036,888, turun dari posisi pekan sebelumnya di level 6.241,89.

Data BEI yang dikutip Sabtu (3/10/2026) juga menunjukkan rata-rata nilai transaksi harian meningkat 5,40% menjadi Rp12,63 triliun, dibandingkan Rp11,98 triliun pada pekan sebelumnya.

Baca Juga:  BREAKING NEWS: Saham FORU Disuspensi BEI Usai Melonjak Hampir 99%

Artinya, uang yang berpindah tangan di pasar saham bertambah, meski indeks utama justru bergerak turun.

Volume Naik, Frekuensi dan Kapitalisasi Turun

Di tengah lonjakan volume, rata-rata frekuensi transaksi harian malah mengalami penurunan 7,54%. Frekuensi perdagangan turun menjadi 1,68 juta kali transaksi dari sebelumnya 1,82 juta kali.

Penurunan juga terjadi pada kapitalisasi pasar. BEI mencatat kapitalisasi pasar turun 2,55%, dari Rp10.905 triliun menjadi Rp10.627 triliun.

Kontras tersebut menjadi gambaran penting bagi investor dalam membaca kondisi pasar pekan lalu: tingginya volume perdagangan tidak serta-merta menunjukkan pasar sedang menguat.

Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing. Pada perdagangan Jumat (2/10), investor asing mencatatkan net sell Rp1,27 triliun.

Baca Juga:  HP Terbaik untuk UMKM 2026: Murah, Tahan Lama, dan Cocok untuk Bisnis Digital

Secara kumulatif sepanjang 2026, net sell investor asing telah mencapai Rp82,55 triliun.

Bersamaan dengan Perubahan Mekanisme Bursa

Lonjakan aktivitas perdagangan tersebut berlangsung bersamaan dengan sejumlah perubahan mekanisme perdagangan di BEI.

Mulai Senin (28/9), BEI memberlakukan penyesuaian batas harga minimum efek bersifat ekuitas dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1.

Bursa juga menyesuaikan ketentuan Auto Rejection. Untuk saham dengan rentang harga Rp1-Rp10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp1.

Perubahan berikutnya datang pada Kamis (1/10), ketika BEI mulai menerapkan transaksi Short Selling dan Intraday Short Selling (IDSS).

Pada tahap awal, fasilitas tersebut dapat dilakukan melalui dua Anggota Bursa yang telah memiliki lisensi Short Selling, yakni PT Ajaib Sekuritas Asia dan PT Semesta Indovest Sekuritas.

Baca Juga:  Bayang-bayang Hasil RDG Bank Indonesia, IHSG Ambruk ke Level 6.200 Pagi Ini

Dengan demikian, pekan terakhir September hingga awal Oktober bukan hanya mencatat perubahan pada angka perdagangan, tetapi juga menjadi periode ketika sejumlah mekanisme baru mulai masuk ke aktivitas pasar.

Bagi pembaca pasar modal, deretan angka tersebut memberi satu catatan penting: pasar yang lebih ramai belum tentu pasar yang lebih kuat. Volume, nilai transaksi, frekuensi, kapitalisasi, pergerakan IHSG, serta arus dana investor asing perlu dibaca secara bersamaan untuk memahami ke mana arah aktivitas pasar sebenarnya.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran