Dari Panas Ekstrem hingga Blue Fire Papandayan, Climate Corner Garut Baca Ancaman Iklim

|

GUGAH – Panas yang terasa semakin menyengat, disusul hujan yang datang tanpa pola jelas, mulai memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Fenomena yang kerap dianggap sebagai perubahan cuaca biasa itu menjadi pintu masuk pembahasan Climate Corner bertema “Bukan Cuma Bikin Gerah: Panas Ekstrem Juga Bisa Bikin Bencana?!” pada Jumat (2/10/2026).

Kegiatan tersebut digelar secara hybrid melalui Zoom dan Corner Nasional dengan menghadirkan Ahmad Arif, Senior Journalist Kompas sekaligus Founder LaporIklim, serta Arami Kasih, Climate Art Curator dan Climate Ranger. Keduanya mengajak peserta melihat perubahan iklim melalui cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk bagaimana panas ekstrem dan perubahan pola cuaca dapat berkelindan dengan risiko bencana.

Melalui pendekatan climate story, pembahasan diarahkan untuk melihat perubahan iklim dari pengalaman nyata, bukan semata melalui angka atau istilah ilmiah. Peserta diajak memahami bahwa perubahan kondisi lingkungan dapat diamati dari berbagai kejadian yang berlangsung di sekitar mereka.

Ahmad Arif dan Arami Kasih juga membuka ruang bagi peserta untuk menghubungkan isu iklim dengan cerita tapak. Setelah pemaparan, diskusi dilanjutkan secara langsung agar peserta dapat membagikan pengalaman dari wilayah masing-masing dan mengaitkannya dengan kondisi lingkungan yang mereka hadapi.

Pendekatan tersebut membuat isu perubahan iklim terasa lebih dekat. Panas ekstrem, perubahan cuaca, hingga kondisi alam tertentu dapat menjadi bagian dari cerita yang membantu masyarakat memahami bahwa persoalan iklim memiliki dampak yang berbeda di setiap wilayah.

Baca Juga:  PBNU Dorong NU Garut Perkuat Akar Gerakan, Dari Lailatul Ijtima hingga Pelayanan Sosial Berbasis Umat

Salah satu peserta, Anisa S. Nurma Yunita, mengaku memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru setelah mengikuti diskusi tersebut. Ia menilai pembahasan mengenai cuaca ekstrem membuat dirinya semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi alam.

“Kegiatan ini memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi saya. Dari kegiatan ini, saya jadi lebih memahami dampak cuaca ekstrem dan pentingnya menjaga lingkungan serta meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi perubahan cuaca.”

Cerita lain datang dari Salfa Aulia Al Azizah yang mengaitkan pembahasan Climate Corner dengan kemunculan blue fire di kawasan Kawah Manuk, Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, pada 23 September 2026. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi salah satu peristiwa di daerah yang relevan untuk dibicarakan dalam ruang diskusi mengenai lingkungan dan perubahan iklim.

“Menyoroti kemunculan blue fire di kawasan Kawah Manuk, Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, pada 23 September 2026, saya rasa pertemuan Climate Corner hari ini sangat beririsan dengan situasi yang sedang terjadi.”

Salfa mengatakan fenomena tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi tetap membutuhkan perhatian karena kondisi alam berlangsung di tengah perubahan cuaca yang dinilai semakin ekstrem. Ia juga menyoroti panas yang muncul di kawasan tersebut dan dampaknya terhadap sejumlah titik wilayah.

“Panas yang keluar cukup tinggi hingga membakar beberapa titik wilayah. Fenomena ini memang bukan sesuatu yang baru, tetapi tetap perlu diwaspadai, terutama dengan kondisi cuaca dan perubahan iklim yang semakin ekstrem.”

Baca Juga:  KSARBUMUSI Garut Serukan Keadilan Buruh pada May Day 2026, Tegaskan Perlawanan terhadap Eksploitasi

Cerita dari Papandayan memperlihatkan bagaimana diskusi perubahan iklim dapat ditarik ke persoalan yang lebih dekat dengan masyarakat. Fenomena alam yang terjadi di wilayah Garut dapat menjadi bahan refleksi untuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan.

Ketua PC IPPNU Garut, Rahma Nurwahidah, turut memberikan apresiasi terhadap keberlanjutan Climate Corner sebagai ruang diskusi bagi anak muda. Menurutnya, forum tersebut memiliki nilai karena mampu mempertemukan peserta dalam suasana yang ringan sekaligus membuka pembicaraan mengenai persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Saya senang dan mengapresiasi karena kita kembali dipertemukan di ruang diskusi yang kecil dan ringan, tetapi selalu berkesan.”

Rahma menilai setiap pertemuan dapat memberikan pengetahuan baru yang kemudian dibawa peserta ke lingkungan masing-masing. Ia berharap ruang semacam itu terus membantu generasi muda membangun kepekaan terhadap berbagai persoalan lingkungan yang kerap luput dari perhatian.

“Dari setiap pertemuan, selalu ada hal baru yang bisa kita bawa pulang, terutama untuk lebih peka melihat isu lingkungan yang ternyata dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.”

Bagi peserta, diskusi semacam ini tidak hanya memperluas pemahaman tentang perubahan iklim, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membaca kondisi wilayah dari perspektif yang berbeda. Pengalaman lokal kemudian menjadi bagian dari cerita yang lebih besar mengenai perubahan lingkungan dan risiko yang mungkin menyertainya.

Baca Juga:  Pemkab Garut Tuntaskan Bantuan untuk 10 Penyintas KM Virgo Transport 8, Seluruh Hak Telah Disalurkan

Climate Corner juga menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam percakapan mengenai lingkungan. Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi diberi ruang untuk membawa pengalaman dari daerah masing-masing ke dalam diskusi.

Di tengah perubahan pola cuaca yang semakin menjadi perhatian, kemampuan masyarakat mengenali kondisi lingkungan menjadi semakin penting. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus mendorong tindakan yang sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing.

Climate Corner diharapkan dapat terus menjadi ruang belajar bersama yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan cerita masyarakat mengenai lingkungan. Dengan pendekatan yang sederhana namun kontekstual, isu perubahan iklim dapat dibicarakan tanpa kehilangan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Dari panas ekstrem hingga fenomena alam di Papandayan, berbagai cerita yang muncul dalam forum tersebut menunjukkan bahwa isu iklim tidak selalu berada jauh dari kehidupan masyarakat. Perubahan lingkungan dapat dibaca melalui apa yang terjadi di sekitar, sehingga kepekaan dan kewaspadaan menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai kemungkinan risiko.

Memahami perubahan iklim bukan hanya tentang mengetahui penyebab dan dampaknya. Lebih jauh, masyarakat perlu mampu membaca perubahan di lingkungan sekitar dan memahami langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keselamatan, keberlanjutan lingkungan, serta ketahanan komunitas.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran