Ansor Depok Tantang Pesantren Jadi Garda Terdepan Atasi Persoalan Sampah

|

11 Pesantren dari 11 Kecamatan Jadi Pilot Project Satgas Hijau Pesantren

GUGAH.CO — Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Depok mulai mendorong pesantren mengambil peran lebih besar dalam menghadapi persoalan lingkungan, khususnya dalam upaya pengurangan dan pengelolaan sampah.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Program Satgas Hijau Pesantren, sebuah gerakan yang dirancang untuk membangun sistem pengelolaan sampah sekaligus menumbuhkan budaya hidup bersih dan peduli lingkungan di lingkungan pesantren.

Program ini diawali dengan Training of Trainers (TOT) Satgas Hijau Pesantren yang dibuka langsung oleh Ketua PC GP Ansor Kota Depok dan dihadiri perwakilan Pemerintah Kota Depok.

Sebanyak 11 pesantren dari 11 kecamatan di Kota Depok mengikuti pelatihan tersebut. Masing-masing kecamatan mengirimkan satu pesantren sebagai peserta awal atau pilot project program.

Kegiatan menghadirkan dua praktisi lingkungan sebagai narasumber, yaitu Marni Dewi Yanti, penggiat Bank Sampah, dan Cokky Guntara, penggiat sekaligus pemerhati persoalan sampah.

Membangun Sistem, Bukan Sekadar Bersih-Bersih

Ketua PC GP Ansor Kota Depok menegaskan bahwa Satgas Hijau Pesantren tidak dirancang sebagai kegiatan bersih-bersih yang berhenti setelah sebuah acara selesai. Menurutnya, persoalan sampah hanya dapat diatasi melalui perubahan perilaku yang didukung oleh sistem pengelolaan yang berjalan secara konsisten.

Baca Juga:  KH. Anwar Nasihin Imbau Kader NU Purwakarta Tetap Solid dan Fokus Urus Kemaslahatan Umat

“Kita tidak ingin pesantren hanya menjadi tempat yang bersih karena ada kegiatan bersih-bersih. Kita ingin membangun sistem dan budaya. Sampah harus dikurangi dari sumbernya, dipilah, diolah, dan kalau memungkinkan memiliki nilai ekonomi,” tegasnya.

Ia menambahkan, pesantren memiliki posisi strategis dalam gerakan lingkungan karena merupakan ruang pendidikan yang membentuk karakter, kebiasaan, dan cara pandang generasi muda.

“Kalau kita ingin mengubah perilaku masyarakat, jangan hanya datang ketika sampah sudah menumpuk. Kita harus masuk ke tempat di mana karakter dan kebiasaan dibentuk. Salah satunya adalah pesantren,” ujarnya.

Pesantren sebagai Subjek Perubahan

Dalam konsep Satgas Hijau Pesantren, pesantren tidak ditempatkan sebagai penerima program semata, melainkan sebagai subjek sekaligus pusat gerakan lingkungan.

Peserta TOT dipersiapkan menjadi penggerak di pesantrennya masing-masing dengan membawa pengetahuan, keterampilan, dan sistem pengelolaan sampah yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Materi pelatihan meliputi pengurangan sampah dari sumber, pemilahan sampah, pengembangan bank sampah, pengolahan sampah organik, pengelolaan sampah anorganik, hingga pembentukan budaya hidup bersih di lingkungan pesantren.

“Kami ingin setiap pesantren memiliki kader yang memahami persoalan sampah, memiliki sistem pemilahan, dan mampu menggerakkan para santri. Jadi bukan hanya punya tempat sampah, tetapi juga memiliki tata kelola sampah yang baik,” jelas Ketua PC GP Ansor Kota Depok.

Baca Juga:  Kader Ansor Purwakarta Raih Juara Lomba Mural Ditlantas Polda Jabar

Dimulai dari 11 Pesantren

Sebelas pesantren yang mengikuti TOT merupakan tahap awal dari gerakan yang akan dikembangkan secara bertahap ke lebih banyak pesantren di Kota Depok.

“Sebelas pesantren ini adalah titik awal, bukan titik akhir. Setelah para peserta kembali ke pesantrennya masing-masing, kami akan melakukan pendampingan dan mendorong replikasi ke pesantren lainnya,” katanya.

Melalui pola tersebut, Satgas Hijau Pesantren diharapkan berkembang menjadi jejaring pesantren yang mampu mengelola sampah secara mandiri sekaligus menjadi contoh bagi masyarakat sekitar.

Memperkuat Kolaborasi

Kehadiran perwakilan Pemerintah Kota Depok dalam kegiatan TOT menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, pesantren, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan masyarakat.

GP Ansor Depok menilai persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi berbagai elemen agar solusi yang dibangun dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Kami tidak ingin berjalan sendiri. Kalau pemerintah punya kebijakan, pesantren punya komunitas, Ansor punya kader penggerak, dan dunia usaha punya sumber daya, semuanya bisa dipertemukan dalam satu gerakan,” ungkapnya.

Mendorong Ekonomi Sirkular di Pesantren

Selain berorientasi pada pelestarian lingkungan, Satgas Hijau Pesantren juga diarahkan untuk membuka peluang ekonomi melalui pengelolaan sampah.

Baca Juga:  Dari Lahan Sepi ke Kebun Kakao, Ansor Ciamis Menanam Asa Kemandirian Ekonomi

Pengembangan bank sampah serta pemanfaatan sampah yang memiliki nilai ekonomis diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pesantren dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular yang produktif dan berkelanjutan.

Dengan demikian, gerakan ini tidak berhenti pada slogan “Pesantren Bersih”, tetapi berkembang menjadi pesantren yang mampu mengelola sampah secara mandiri, produktif, dan bernilai ekonomi.

Dari Depok untuk Gerakan yang Lebih Luas

GP Ansor Depok berharap model Satgas Hijau Pesantren dapat terus dikembangkan dan direplikasi di lebih banyak pesantren, bahkan menjadi inspirasi bagi daerah lain.

“Kami ingin memulai dari sesuatu yang sederhana, tetapi dikerjakan secara serius dan konsisten. Dimulai dari 11 pesantren, kemudian diperluas. Kalau model ini berhasil, bukan tidak mungkin gerakan serupa dapat direplikasi di daerah lain,” tuturnya.

Bagi GP Ansor Kota Depok, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial dan moral bersama.

Gerakan ini membawa semangat:

“Dari Pesantren Kita Bangun Kesadaran.
Dari Santri Kita Gerakkan Perubahan.
Dari Depok Kita Mulai Gerakan Hijau.”

SATGAS HIJAU PESANTREN

Kurangi • Pilah • Olah • Manfaatkan

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran