Keuntungan Petani Padi di Kuningan Anjlok 33 Persen Akibat Kemarau, Modal Naik Hasil Panen Turun

|

GUGAH — Musim kemarau tidak hanya mengurangi hasil panen, tetapi juga memangkas keuntungan petani padi di Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kenaikan biaya produksi yang dibarengi penurunan hasil panen membuat pendapatan petani tergerus hingga sekitar 33 persen dalam satu musim tanam.

Mengutip dari IDN Times, biaya produksi padi kini meningkat dari sekitar Rp8 juta menjadi Rp10 juta per hektare. Pada saat yang sama, produksi gabah turun dari rata-rata 6 ton menjadi 4,8 ton per hektare akibat keterbatasan pasokan air selama musim kemarau.

Baca Juga:  Program Swasembada Pangan untuk Siapa?

Dengan asumsi harga gabah Rp6.000 per kilogram, penerimaan petani menyusut dari sekitar Rp36 juta menjadi Rp28,8 juta per hektare. Setelah dikurangi biaya produksi, keuntungan bersih yang sebelumnya mencapai sekitar Rp28 juta kini tinggal sekitar Rp18,8 juta.

Petani di Maleber, Asep (52), mengatakan kenaikan biaya paling besar berasal dari kebutuhan pengairan. Lahan yang sebelumnya mengandalkan aliran air kini harus diairi menggunakan pompa berbahan bakar, sehingga biaya irigasi meningkat hingga tiga kali lipat.

“Kalau dihitung dari hasil panen memang masih ada keuntungan. Cuma sekarang modalnya jauh lebih besar dan hasilnya lebih sedikit,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga:  Pembakaran Bendera Merah Putih di Bandung Diselidiki, Polisi Buru Pelaku

Selain biaya pengairan yang naik dari sekitar Rp500 ribu menjadi Rp1,5 juta per musim, pengeluaran untuk pestisida juga bertambah karena tanaman lebih rentan terdampak cuaca panas. Akumulasi kenaikan biaya tersebut membuat beban produksi meningkat di tengah hasil panen yang terus menurun.

Kondisi ini mulai memengaruhi keputusan petani untuk musim tanam berikutnya. Sebagian petani mempertimbangkan mengurangi luas lahan tanam atau beralih ke komoditas yang membutuhkan air lebih sedikit demi menekan risiko kerugian.

Baca Juga:  GP Ansor Kabupaten Bogor Gandeng ITB Vinus, Siapkan Beasiswa S1 untuk Kader

“Yang dikhawatirkan bukan hanya panennya. Kalau modal Rp10 juta sudah keluar tetapi hasilnya turun, uang untuk memulai musim tanam berikutnya juga ikut berkurang,” kata Asep.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak kemarau tidak berhenti pada penurunan produksi pangan, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha tani. Jika kondisi serupa terus berlanjut tanpa dukungan pengairan dan kebijakan mitigasi, tekanan terhadap pendapatan petani dikhawatirkan akan semakin besar.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran