Harga BBM Per 4 Mei 2026: Pertamax Turbo dan Diesel Nonsubsidi Resmi Naik, Vivo-BP Tembus Rp30 Ribu

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) resmi melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di seluruh SPBU per 4 Mei 2026. Kenaikan ini menyasar produk dengan angka oktan tinggi seperti Pertamax Turbo (RON 98) serta varian diesel nonsubsidi, yakni Dexlite dan Pertamina Dex.

Langkah ini menyusul fluktuasi harga minyak mentah dunia yang sempat melonjak di atas USD100 per barel akibat memanasnya situasi geopolitik global.

Di wilayah DKI Jakarta, kenaikan harga terlihat cukup signifikan pada lini produk diesel. Pertamax Turbo mengalami kenaikan sebesar Rp500 per liter, sementara produk diesel nonsubsidi melonjak lebih tajam.

Baca Juga:  Proyeksi IHSG April 2026: Uji Level Psikologis 7.000 di Tengah Penantian Suku Bunga Global

Berikut adalah rincian perbandingan harga lama dan baru:

  • Pertamax Turbo (RON 98): Naik menjadi Rp19.900 per liter dari sebelumnya Rp19.400.

  • Dexlite: Naik menjadi Rp26.000 per liter dari sebelumnya Rp23.600.

  • Pertamina Dex: Naik menjadi Rp27.900 per liter dari sebelumnya Rp23.900.

Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite (Rp10.000) dan Bio Solar (Rp6.800) dipastikan tetap atau tidak mengalami perubahan. Begitu pula dengan Pertamax (RON 92) yang masih bertahan di harga Rp12.300 per liter.

Baca Juga:  IHSG Melejit ke Level 7.186 di Awal Perdagangan, Tertular Sentimen Positif Global

Lonjakan harga paling mencolok terjadi pada SPBU swasta. Produk diesel unggulan dari Vivo dan BP kini telah menembus level psikologis Rp30.000 per liter.

  1. SPBU Vivo: Produk Diesel Primus kini dibanderol Rp30.890 per liter, naik drastis dari harga sebelumnya yang hanya Rp14.610 per liter.

  2. SPBU BP: BP Ultimate Diesel juga menyentuh angka Rp30.890 per liter.

  3. SPBU Shell: Belum ada pembaruan harga resmi dikarenakan laporan stok di sejumlah SPBU yang masih kosong.

Pemerintah menentukan harga BBM berdasarkan dua faktor utama: rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi pemicu utama biaya impor energi yang membengkak.

Baca Juga:  IHSG Terperosok ke Zona Merah Menjelang Rilis PDB Kuartal I-2026 di Tengah Eskalasi Konflik Global

Meski memicu kekhawatiran masyarakat, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi terhadap inflasi nasional masih terkendali. Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menyebutkan bahwa kenaikan ini diperkirakan hanya menyumbang inflasi sekitar 0,04 persen. BI tetap optimis target inflasi 2026 berada di kisaran 2,5 persen ± 1 persen.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *