GUGAH – Digitalisasi pendidikan kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Di tengah percepatan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), madrasah dan pesantren menghadapi tantangan baru untuk memastikan para santri tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu bersaing di era global.
Kesadaran itulah yang melatarbelakangi kunjungan Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, ke Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School, Parung, Kabupaten Bogor, Sabtu (5/9/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan implementasi Program Layar Interaktif Presiden Prabowo berjalan sesuai tujuan.
Bagi pemerintah, program ini bukan sekadar distribusi perangkat teknologi ke madrasah. Lebih dari itu, layar interaktif diharapkan menjadi pintu masuk transformasi pembelajaran yang mampu memperluas akses ilmu pengetahuan, memperkaya metode belajar, dan meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.
Dalam dialog bersama para santri, Gugun menekankan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter, wawasan global, dan kemampuan berbahasa asing.
“Santri harus melek digital, memiliki wawasan yang luas tentang dunia, mampu berdaya saing global, serta menguasai bahasa asing. Layar interaktif ini bukan hanya perangkat teknologi, tetapi menjadi sarana untuk membuka akses ilmu pengetahuan yang lebih luas bagi para peserta didik,” ujar Gugun.
Menurutnya, dunia kerja dan persaingan global terus berubah. Karena itu, santri masa kini dituntut memiliki kemampuan literasi digital agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk belajar, berinovasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Program Layar Interaktif Presiden Prabowo, lanjut Gugun, merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat kualitas pembelajaran di madrasah agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi pendidikan. Dengan dukungan perangkat digital, proses belajar mengajar diharapkan menjadi lebih interaktif, efektif, dan membuka akses terhadap sumber belajar yang lebih luas.
Namun demikian, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh tersedianya teknologi. Kesiapan guru, tenaga kependidikan, serta kemampuan madrasah memanfaatkan perangkat tersebut secara optimal akan menjadi faktor penentu apakah digitalisasi benar-benar mampu meningkatkan mutu pendidikan.
Di tengah transformasi pendidikan nasional, madrasah dan pesantren kini berada pada momentum penting. Jika teknologi dimanfaatkan secara tepat tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan pembentukan karakter, lembaga pendidikan Islam berpeluang melahirkan generasi yang religius, adaptif terhadap perubahan, sekaligus memiliki daya saing di tingkat nasional maupun global.***



Tinggalkan Balasan