ABG: Ayo Bersama Gus Yahya, Melanjutkan Khidmat NU

|

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama bukan hanya momentum memilih siapa yang akan memimpin PBNU lima tahun mendatang. Muktamar menjadi ruang untuk menimbang arah perjalanan jam’iyah, menjaga kesinambungan khidmat, sekaligus memastikan NU tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.

Di tengah momentum tersebut, dukungan agar KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) kembali melanjutkan kepemimpinan PBNU patut disampaikan sebagai bagian dari dinamika demokrasi jam’iyah.

Dukungan kepada Gus Yahya bukan berarti menutup ruang bagi figur lain. Muktamar adalah musyawarah para ulama dan Nahdliyin. Setiap calon memiliki kehormatan, kapasitas, dan jalan khidmat masing-masing.

Namun, bagi mereka yang melihat perlunya kesinambungan agenda organisasi, Gus Yahya dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan pekerjaan yang telah dirintis sekaligus menyempurnakan hal-hal yang masih memerlukan pembenahan.

Karena itu muncul semangat: ABG — Ayo Bersama Gus Yahya. Lanjutkan Khidmat, Kuatkan Jam’iyah.

Dukungan ini harus diletakkan dalam niat yang benar. Kaidah fikih mengingatkan:

Al-umūru bi maqāṣidihā.

“Setiap perkara bergantung pada maksud dan tujuannya.”

Karena itu, mendukung Gus Yahya hendaknya bukan karena fanatisme figur, kedekatan kelompok, atau kepentingan sesaat. Tujuannya harus lebih besar: menjaga kesinambungan khidmat, memperkuat NU, melayani jamaah, serta menghadirkan kemaslahatan yang semakin luas.

Melanjutkan, Bukan Sekadar Mengulang

Kepemimpinan periode kedua seharusnya bukan sekadar mengulang apa yang telah dilakukan. Ia harus menjadi kesempatan melakukan evaluasi sekaligus percepatan.

Yang sudah baik dilanjutkan, yang belum sempurna diperbaiki, dan yang menimbulkan kritik harus dijawab melalui keterbukaan serta pembenahan organisasi.

Semangat tersebut sejalan dengan prinsip yang sangat dikenal di lingkungan Nahdliyin:

Al-muḥāfaẓatu ‘alal-qadīmis-ṣāliḥ wal-akhdzu bil-jadīdil-aṣlaḥ.

“Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.”

Prinsip ini sangat relevan bagi kepemimpinan NU pada abad keduanya. Kesinambungan bukan berarti mempertahankan semuanya tanpa koreksi. Sebaliknya, kesinambungan harus memungkinkan evaluasi, inovasi, dan pembaruan tanpa tercerabut dari tradisi pesantren.

Baca Juga:  Kasepuhan Krapyak Nyatakan Dukungan kepada Gus Yahya untuk Kembali Pimpin PBNU

NU membutuhkan kepemimpinan yang berani melihat ke depan tanpa memutus hubungan dengan akar pesantren. Tantangan abad kedua NU semakin kompleks. Digitalisasi, kecerdasan buatan, ekonomi jamaah, pendidikan, lingkungan, geopolitik, hingga perubahan karakter generasi muda membutuhkan jawaban yang tidak cukup dilakukan melalui pola lama.

Dalam konteks inilah dukungan kepada Gus Yahya seharusnya dimaknai sebagai dukungan terhadap keberlanjutan yang disertai koreksi. Bukan memberikan cek kosong kepada kepemimpinan, tetapi memberikan kesempatan untuk menyelesaikan agenda yang telah dimulai dengan kerja yang lebih terukur, inklusif, dan semakin dekat dengan jamaah.

Ada pula kaidah yang patut direnungkan:

Mā lā yudraku kulluhu lā yutraku kulluhu.

“Jika sesuatu tidak dapat dicapai seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya.”

Artinya, apabila masih terdapat pekerjaan yang belum tuntas dalam satu periode, ketidaksempurnaan itu tidak serta-merta menjadi alasan meninggalkan semua yang telah dirintis. Yang diperlukan adalah evaluasi: mana yang baik dilanjutkan, mana yang kurang diperbaiki, dan mana yang harus dipercepat.

Mempertemukan Tradisi Pesantren dan Percakapan Dunia

NU lahir dari pesantren dan tidak boleh tercerabut dari pesantren. Kekuatan terbesar NU tetap berada pada kiai, santri, madrasah, dayah, majelis taklim, ranting, dan masyarakat akar rumput.

Pada saat yang sama, NU hari ini tidak dapat menutup diri dari percakapan global.

NU membutuhkan pemimpin yang mampu berdiri di dua ruang sekaligus: tetap bersimpuh di hadapan para kiai, tetapi juga mampu membawa suara Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke ruang dunia.

Dukungan kepada Gus Yahya dapat diletakkan pada harapan tersebut. Kepemimpinan ke depan harus semakin memperkuat pesantren, memperluas kaderisasi, mendengar suara cabang dan wilayah, sekaligus menjadikan NU lebih aktif menawarkan gagasan perdamaian, kemanusiaan, toleransi, dan peradaban.

Baca Juga:  PC IPNU Harus Jawab Tantangan Regenerasi Pelajar NU Purwakarta

Namun, internasionalisasi NU tidak boleh membuat akar rumput merasa jauh. Justru pada periode berikutnya, pekerjaan besarnya adalah mempertemukan NU global dengan NU kampung, mempertemukan diplomasi internasional dengan kebutuhan guru ngaji, pesantren, petani, nelayan, pedagang kecil, dan keluarga Nahdliyin.

Di sini berlaku prinsip:

Mā lā yatimmul-wājibu illā bihī fahuwa wājib.

“Sesuatu yang tanpanya suatu kewajiban tidak dapat terlaksana, maka ia menjadi bagian yang wajib diupayakan.”

Jika tujuan besarnya adalah menguatkan NU dan meningkatkan manfaatnya bagi jamaah, maka penguatan ranting, pesantren, kaderisasi, pendidikan, ekonomi jamaah, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia merupakan sarana yang tidak boleh diabaikan.

NU harus mampu berbicara mengenai perdamaian dunia, tetapi pada saat yang sama tetap mendengar guru ngaji di desa. NU boleh membangun jaringan internasional, tetapi ranting dan cabang harus semakin kuat.

Kemajuan NU harus dapat dirasakan dari panggung dunia hingga pelosok kampung.

Merangkul Semua, Mengakhiri Sekat

Jika kembali memperoleh amanah, Gus Yahya harus menjadi pemimpin bagi seluruh NU, bukan hanya mereka yang mendukungnya dalam muktamar.

Muktamar akan menghadirkan pilihan. Itu biasa. Tetapi setelah palu keputusan diketukkan, tidak boleh ada lagi kelompok “kita” dan “mereka”.

Tidak boleh ada politik penyingkiran. Yang berbeda harus diajak kembali duduk bersama. Yang mengkritik harus didengar. Yang sebelumnya berada pada kubu berbeda tetap harus memperoleh ruang khidmat.

Di sinilah periode kedua—jika diberikan oleh para muktamirin—harus menjadi periode rekonsiliasi, konsolidasi, dan perluasan pengabdian.

Kaidah:

Al-khurūju minal-khilāfi mustaḥabbun.

“Keluar dari perselisihan merupakan sesuatu yang dianjurkan.”

Semangatnya relevan bagi muktamar. Perbedaan pilihan boleh terjadi selama proses musyawarah, tetapi setelah keputusan diambil, perselisihan jangan dipelihara menjadi dendam organisasi. Energi Nahdliyin harus kembali dipersatukan untuk bekerja.

Baca Juga:  Supremasi AHWA: Menjaga Marwah Organisasi melalui Keteladanan Ulama

NU terlalu besar untuk dihabiskan energinya dalam konflik internal. Umat menunggu kerja nyata. Pesantren membutuhkan penguatan. Ekonomi jamaah memerlukan keberpihakan. Generasi muda membutuhkan ruang. Dan bangsa membutuhkan NU sebagai kekuatan moral yang menyejukkan.

Maka dukungan kepada Gus Yahya semestinya tidak dibangun dengan merendahkan calon lain. Dukungan yang sehat adalah dukungan yang menawarkan gagasan, rekam kerja, harapan, sekaligus keberanian melakukan evaluasi.

ABG bukan berarti asal bersama Gus Yahya. ABG harus berarti Ayo Bersama Gus Yahya untuk memperkuat NU.

Bersama untuk merawat pesantren.

Bersama untuk menjaga marwah ulama.

Bersama untuk memperkuat ranting dan cabang.

Bersama untuk memperluas ekonomi jamaah.

Bersama untuk memberi ruang kepada kader muda.

Dan bersama untuk membawa khidmat NU semakin luas bagi Indonesia dan kemanusiaan.

Muktamar adalah musyawarah. Keputusan akhirnya berada di tangan para muktamirin. Siapa pun yang terpilih wajib kita hormati. Tetapi selama ruang musyawarah masih terbuka, menyampaikan pilihan dengan santun adalah bagian dari kehidupan jam’iyah.

Maka bagi mereka yang meyakini kesinambungan masih diperlukan, seruannya sederhana:

ABG — Ayo Bersama Gus Yahya.

Sekali lagi, untuk melanjutkan khidmat, memperbaiki yang kurang, merangkul yang berbeda, dan menguatkan Nahdlatul Ulama.

Berangkat dari uraian di atas, slogan ini bukan semata untuk memenangkan seorang figur, tetapi untuk memastikan NU semakin kuat, ulama semakin dimuliakan, jamaah semakin dilayani, dan khidmat semakin diperluas.

Sebab pada akhirnya, figur adalah wasilah, sedangkan kemaslahatan jam’iyah adalah tujuan. Kepemimpinan akan berganti, tetapi khidmat kepada NU harus terus hidup.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Oleh: Azwar A GaniPenulis adalah Kader Muda NU Aceh

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran