Dalam setiap organisasi keagamaan, mekanisme pengambilan keputusan tidak hanya dituntut menghasilkan keputusan yang sah secara konstitusional, tetapi juga memiliki legitimasi moral. Ketika dinamika organisasi diwarnai perbedaan pandangan, persaingan kepentingan, bahkan polarisasi, diperlukan sebuah sistem yang mampu menjaga marwah organisasi agar tetap berpijak pada nilai-nilai keilmuan, kebijaksanaan, dan kemaslahatan.
Di sinilah konsep Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menemukan relevansinya. AHWA bukan sekadar mekanisme kelembagaan, melainkan representasi otoritas moral yang menempatkan para ulama sebagai penjaga arah organisasi. Supremasi AHWA dimaksudkan untuk memastikan bahwa keputusan strategis, termasuk penentuan kepemimpinan, lahir dari pertimbangan ilmu, hikmah, dan tanggung jawab keagamaan, bukan dari tarik-menarik kepentingan politik.
Namun, supremasi tersebut tidak akan bermakna apabila tidak ditopang oleh integritas pribadi para anggotanya. Kewibawaan AHWA tidak hanya bersumber dari aturan organisasi, tetapi juga dari kualitas moral para ulama yang mengisinya. Karena itu, anggota AHWA semestinya merupakan sosok yang mampu menjadi uswatun hasanah—teladan dalam ilmu, akhlak, kesantunan, dan kebijaksanaan—serta memiliki rekam jejak yang bersih dari konflik kepentingan.
Supremasi yang diberikan kepada AHWA pada hakikatnya merupakan bentuk kepercayaan besar dari organisasi. Kepercayaan tersebut menuntut tanggung jawab yang tidak ringan. Jika lembaga yang memiliki otoritas tertinggi justru diisi oleh figur yang gemar mempertajam konflik atau membawa kepentingan pribadi, maka legitimasi moral keputusan yang dihasilkan akan mudah dipertanyakan. Sebaliknya, ketika AHWA diisi oleh ulama yang arif, teduh, dan mampu merangkul berbagai pandangan, setiap keputusan akan lebih mudah diterima sebagai hasil musyawarah yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Kesantunan menjadi modal utama dalam menjalankan fungsi tersebut. Ulama yang santun tidak memandang perbedaan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari kekayaan khazanah berpikir. Perdebatan diselesaikan melalui argumentasi ilmiah, pendekatan fikih, dan kemuliaan akhlak, bukan melalui tekanan politik atau dominasi kekuasaan. Dalam ruang musyawarah seperti itulah keputusan yang lahir akan memiliki kekuatan moral sekaligus keteguhan organisatoris.
Lebih dari itu, keteladanan para anggota AHWA akan membentuk budaya organisasi yang sehat. Kepatuhan terhadap keputusan tidak lahir karena rasa takut, melainkan karena tumbuhnya kepercayaan terhadap integritas para pengambil keputusan. Tradisi sam’an wa tha’atan tidak akan berkembang secara kokoh apabila tidak didahului oleh keteladanan dari mereka yang diberi amanah.
Ketika para ulama menunjukkan sikap rendah hati, terbuka terhadap perbedaan, dan mengedepankan persaudaraan, nilai-nilai tersebut akan mengalir ke seluruh jenjang organisasi. Sebaliknya, jika elit organisasi mempertontonkan konflik berkepanjangan, maka perpecahan akan mudah menjalar hingga ke tingkat akar rumput. Oleh sebab itu, menjaga kualitas moral AHWA sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang bagi persatuan organisasi.
Pada akhirnya, supremasi AHWA bukanlah upaya memusatkan kekuasaan pada segelintir orang, melainkan ikhtiar menjaga kesucian arah perjuangan organisasi. Otoritas yang besar harus selalu berjalan beriringan dengan keteladanan yang besar pula. Semakin tinggi kewenangan yang dimiliki, semakin tinggi pula tuntutan untuk menjaga akhlak, keikhlasan, dan independensi.
Marwah organisasi tidak ditentukan semata oleh kuatnya konstitusi, melainkan oleh kualitas pribadi orang-orang yang mengemban amanah di dalamnya. Karena itu, supremasi AHWA hanya akan benar-benar bermakna apabila dijalankan oleh para ulama yang menjadikan ilmu sebagai pedoman, akhlak sebagai identitas, serta kemaslahatan umat sebagai tujuan utama. Dari tangan merekalah organisasi akan tetap berdiri sebagai mercusuar moral yang mampu membimbing umat dengan kebijaksanaan, persatuan, dan keteladanan.
Oleh: H.M. Zahrul Azhar As’ad, M.Kes – Penulis adalah Sekretaris Jenderal Gernas Ayo Mondok



Tinggalkan Balasan