“Londo Ireng” dan Retorika yang Menabrak Sejarah Sendiri

|

Istilah yang begitu dalam maknanya, kini kembali menggema dari panggung politik tertinggi. Saat Presiden Prabowo Subianto melontarkan sebutan “londo ireng” dalam pidatonya pada Harlah ke-28 PKB, belum lama ini.

Sang Presiden sepertinya tak sekadar berbicara tentang kelompok yang dinilai lebih memihak kepentingan asing, ia tanpa sadar atau sengaja, sedang membuka lembaran sejarah yang justru beririsan erat dengan silsilah keluarganya sendiri.

Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti pihak-pihak yang dinilainya kerap menebar pesimisme, lebih lantang mengangkat kekurangan daripada capaian, serta mempertanyakan asal-usul dana yang mendukung gerakan kritik mereka. Ia menegaskan kebebasan berpendapat tetap dijunjung, namun kritik seharusnya konstruktif, bukan senjata untuk meruntuhkan kepercayaan bangsa.

Baca Juga:  Prabowo Ungkap Alasan Copot Dadan Hindayana Cs: Program MBG Terlalu Penting untuk Dibiarkan Tercemar Penyimpangan

Namun di balik tajamnya kalimat itu, tersimpan sebuah paradoks yang tak terelakkan. Secara harfiah, “londo ireng” berarti “Belanda hitam”. Lahir di masa kolonial, sebutan ini awalnya ditujukan bagi prajurit pribumi maupun asal Afrika yang direkrut dalam barisan KNIL untuk memperkuat kekuasaan Belanda.

Seiring waktu, maknanya bergeser menjadi label bagi siapa saja yang dianggap berpihak pada kepentingan asing, mengkhianati semangat kebanggaan sendiri.

Sejarah mencatat silsilah ibu Prabowo, Dora Marie Sigar, bersambung dengan sosok Benjamin Thomas Sigar, seorang pemimpin asal Minahasa yang juga perwira dalam barisan militer kolonial pada abad ke-19. Pasukan di bawah kepemimpinannya kala itu tercatat terlibat dalam operasi militer yang berujung pada penangkapan Pangeran Diponegoro.

Baca Juga:  Respons atas Video Amien Rais yang Beredar, Komunitas Cinta Literasi: Ruang Publik Butuh Kerja Nyata, Bukan Ujaran Kebencian

Di sinilah letak ironinya: ketika istilah “londo ireng” digunakan untuk mencela pihak yang dianggap melayani kekuasaan asing, akar sejarah dari garis keturunan yang melekat pada pembicara sendiri, justru menyimpan kisah tentang keterlibatan dalam struktur kekuasaan kolonial masa itu.

Fakta ini bukan untuk mengurangi makna kritik yang disampaikan, melainkan mengingatkan kita bahwa sejarah tak pernah hitam atau putih semata. Para leluhur kita hidup dalam masa yang penuh pilihan sulit, di mana batas antara perlawanan, penyesuaian diri, dan kepatuhan terhadap kekuasaan yang ada sering kali samar.

Baca Juga:  Adab dan Etika Seorang Medsosul Karimah dalam Perspektif Islam

Menggunakan istilah sejarah yang sarat emosi memang efektif untuk membangun narasi politik. Namun akan lebih bijak jika disertai kesadaran bahwa kita semua adalah pewaris masa lalu yang kompleks, di mana setiap keluarga, setiap bangsa, memiliki jejak yang saling berkait, baik yang kita banggakan maupun yang perlu kita maknai dengan kearifan. (Redaksi)

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran