GUGAH — Setelah beras, jagung, hingga sejumlah komoditas pangan lain mampu memenuhi kebutuhan nasional, pemerintah kini mengalihkan perhatian pada dua pekerjaan rumah yang belum tuntas: bawang putih serta daging sapi dan daging kerbau.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman optimistis target tersebut bisa dikejar. Presiden Prabowo Subianto memberi waktu tiga tahun untuk mewujudkan swasembada bawang putih. Sementara swasembada daging sapi ditargetkan tercapai dalam lima tahun.
Target itu kembali ditegaskan Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI. Pemerintah, kata Prabowo, masih memiliki pekerjaan rumah untuk memenuhi kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri, khususnya bawang putih serta daging sapi dan kerbau.
Amran menyadari bawang putih bukan komoditas yang bisa dikejar hanya dengan memperluas lahan. Tanaman ini memiliki siklus produksi yang berbeda dibandingkan padi dan jagung.
Salah satu tantangannya adalah bibit bawang putih yang membutuhkan masa dorman sekitar delapan bulan sebelum dapat ditanam.
“Doakan [agar swasembada bisa tercapai], karena gini, bawang putih itu tantangannya ya, bawang putih itu harus dorman delapan bulan, tidak seperti padi jagung,” kata Amran dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026).
Karena itu, pemerintah tidak sembarang memilih wilayah pengembangan. Ketinggian lahan menjadi salah satu pertimbangan penting untuk membangun sentra produksi bawang putih.
Amran menyebut wilayah dengan ketinggian sekitar 1.000 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut dinilai paling sesuai. Pemerintah menyiapkan sejumlah wilayah, termasuk Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat; Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara; serta sejumlah kawasan di Jawa Tengah.
“Yang kedua adalah daerah ketinggian, makanya kami pilih Sembalun, tanggal 19 kita tanam bersama bersama Kapolri seluruh Indonesia, kemudian [kami] pilih Kabupaten Humbang Hasundutan dengan Jawa Tengah ini jadikan sentra karena ketinggian dari permukaan laut itu adalah 1.000 sampai 1.200 [meter] itu paling bagus,” ujarnya.
Mengejar 100 Ribu Ton
Di tengah berbagai tantangan itu, Amran tetap menyimpan optimisme. Ia melihat kebutuhan produksi bawang putih untuk mencapai swasembada masih berada dalam skala yang memungkinkan untuk dikejar.
Kebutuhan bawang putih nasional untuk mencapai swasembada diperkirakan berada di kisaran 100 ribu ton.
Amran membandingkan target tersebut dengan keberhasilan pemerintah mengawal produksi beras yang mencakup sekitar 7,4 juta hektare lahan sawah.
Menurut dia, jika produksi beras dalam skala sebesar itu mampu dikawal, maka peningkatan produksi bawang putih juga bukan sesuatu yang mustahil. Namun, Amran memilih tidak jemawa. Baginya, target pemerintah tetap membutuhkan kerja lapangan yang konsisten.
“Jadi gini, yang 7 juta [hektare sawah untuk beras] saja bisa kita kawal [swasembada] oleh Bapak Presiden, 7,4 juta beras sawah hektare, apa lagi cuma 50-100 juta [hektare untuk bawang putih]. Kita berdoa, enggak boleh takabur,” kata Amran.
Pengalaman swasembada beras menjadi salah satu alasan Amran optimistis. Pemerintah sebelumnya memasang target empat tahun untuk mencapai swasembada beras. Namun, realisasinya datang jauh lebih cepat.
“Saya tidak pernah janji bahwa swasembada [beras)]satu tahun. [Kemarin saya target swasembada beras] empat tahun kan, tapi Allah kasih satu tahun, jadi jangan takabur,” ujarnya.
Delapan Komoditas Sudah Terlewati
Target bawang putih dan daging sapi datang setelah pemerintah mengklaim telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan dalam setahun terakhir.
Delapan komoditas tersebut meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Capaian itu lebih cepat dibandingkan proyeksi awal pemerintah yang menargetkan swasembada pangan dalam empat tahun.
Namun, pekerjaan belum selesai.
Bawang putih masih harus dikejar dalam tiga tahun. Sementara daging sapi dan daging kerbau diberi horizon waktu lima tahun.
Bagi pemerintah, dua target itu bukan sekadar angka produksi. Di baliknya ada tantangan lahan, bibit, iklim, geografis, produktivitas peternakan, hingga kemampuan menjaga pasokan agar kebutuhan pangan nasional tidak lagi bergantung pada luar negeri.
Dan dari semua hitungan itu, satu hal yang kini sedang diuji: seberapa cepat Indonesia mampu mengubah target swasembada menjadi kenyataan di lapangan.***
Sumber: CNN Indonesia



Tinggalkan Balasan