GUGAH — Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah ulama sepuh menyerukan agar proses pergantian kepemimpinan di tubuh organisasi tidak digiring oleh kepentingan pihak tertentu. Para Kyai Sepuh mengingatkan agar keputusan strategis NU, termasuk pemilihan Rais Aam, sepenuhnya lahir dari mekanisme internal dan hati nurani para ulama.
Seruan itu mengemuka dalam pertemuan sejumlah ulama sepuh NU yang digelar menjelang muktamar. Pertemuan tersebut dilakukan di tengah dinamika internal yang dinilai mulai diwarnai berbagai isu yang berpotensi mencederai marwah muktamar.
KH Ma’ruf Amin mengatakan pertemuan tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap berkembangnya sejumlah isu dan cara-cara yang dinilai tidak semestinya digunakan dalam menghadapi muktamar.
“Pertemuan ini didorong oleh rasa keprihatinan adanya dinamika yang berkembang menjelang muktamar,” kata KH Ma’ruf dikutip dari siaran langsung TVNU, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, muktamar harus tetap menjadi ruang musyawarah yang mencerminkan akhlak para ulama. Karena itu, berbagai upaya yang dapat mencederai proses tersebut perlu dihindari.
“Muktamar ini jangan dicederai dengan yang tidak sesuai dengan akhlaknya para ulama,” ujarnya.
Salah satu perhatian utama para ulama adalah mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam proses pemilihan Rais Aam. KH Ma’ruf menegaskan, representasi ulama dalam Ahwa harus mampu mengambil keputusan secara bebas berdasarkan pertimbangan keulamaan dan hati nurani.
“Ahwa itu adalah representasi para ulama untuk memilih Rais Aam. Yang lahir mestinya dari suara hati nurani,” katanya.
Jangan Ada “Restu” dari Luar NU
Kyai Ma’ruf juga mengingatkan agar proses muktamar tidak dipengaruhi kekuatan eksternal. Ia secara terbuka menyinggung isu mengenai kemungkinan adanya restu dari pihak istana dalam proses politik internal NU.
“Jangan sampai ada muktamar yang diwarnai atau dipengaruhi pihak-pihak tertentu. Restu istana misalnya,” kata Kyai Ma’ruf.
Meski demikian, ia menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah tidak akan mencampuri proses internal NU. Menurut dia, dinamika yang terjadi di tubuh organisasi seharusnya diselesaikan melalui mekanisme internal dan semangat islah.
“Saya yakin mereka tidak mempertaruhkan hal itu. Karena selama ini mereka tidak ikut campur. Penyelesaiannya melalui islah di internal,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena muktamar bukan hanya menentukan arah kepemimpinan NU, tetapi juga menyangkut legitimasi moral organisasi di hadapan jutaan warga Nahdliyin.
Karena itu, para ulama sepuh menyerukan agar seluruh tahapan menuju muktamar dikembalikan pada prinsip dasar NU: musyawarah, akhlak, kemandirian, dan penghormatan terhadap suara para ulama.
“Para ulama kita menyerukan seruan moral supaya berjalan sesuai dengan hati nurani dan sesuai dengan akhlak NU,” kata Kyai Ma’ruf.
Pertemuan tersebut diikuti sejumlah ulama yang hadir secara langsung maupun melalui konferensi Zoom. Di antaranya KH Anwar Mansyur, KH Said Aqil, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Kafabih, KH Muhtadi Dimyati, KH Zuhur Zaini, dan KH Zuhri dari Aceh.
Sementara yang hadir secara langsung antara lain KH Ali Akbar Marbun, KH Haris Sadaka, KH Nurdin Ishak, KH Ubang Maimun, dan KH Muhib.
Seruan para ulama sepuh itu pada akhirnya menempatkan muktamar bukan sekadar sebagai arena kontestasi kepemimpinan, melainkan sebagai ujian bagi NU dalam menjaga tradisi musyawarah dan kemandirian organisasi.***



Tinggalkan Balasan