GUGAH — Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, mulai menata langkah menuju desa yang lebih mandiri dan berdaya saing melalui program KKN Tematik Universitas Garut (Uniga) 2026.
Langkah tersebut diawali dengan lokakarya bertajuk “Pamalayan Berdaya 2026: Kolaborasi Multidisiplin untuk Mewujudkan Desa Digital, Mandiri, Edukatif, dan Berdaya Saing Berbasis Potensi Lokal” yang digelar di Aula Desa Pamalayan, Kamis (6/8/2026).
Lokakarya yang dimulai pukul 13.00 WIB dan diikuti sekitar 55 peserta itu menjadi ruang awal untuk menyatukan gagasan mahasiswa dengan kebutuhan pemerintah desa dan masyarakat. Berbagai potensi serta persoalan yang ditemukan melalui pemetaan lapangan dibahas untuk menjadi dasar penyusunan program KKN.
Koordinator Desa KKN Tematik Uniga 2026 Desa Pamalayan, Alfan Al Falaliansyah, memaparkan sejumlah program yang akan dijalankan mahasiswa. Program tersebut mencakup pemberdayaan ekonomi dan UMKM, pertanian, digitalisasi, pendidikan, kepemudaan, sosial kemasyarakatan hingga pengembangan budaya lokal.
Alfan mengatakan, mahasiswa tidak ingin hadir dengan membawa program yang sudah jadi kemudian sekadar diterapkan di tengah masyarakat. Sebaliknya, setiap kegiatan dirancang berdasarkan kebutuhan dan potensi yang ditemukan di desa.
“Mahasiswa hadir sebagai mitra dan fasilitator. Program yang dijalankan harus benar-benar berangkat dari potensi dan kebutuhan Desa Pamalayan, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut terlibat dalam prosesnya,” ujar Alfan.
Salah satu fokus utama KKN diarahkan pada penguatan potensi ekonomi masyarakat. Produk pertanian dan usaha lokal didorong agar memiliki nilai tambah melalui pengolahan, peningkatan kualitas, penguatan identitas produk, branding serta pemasaran yang memanfaatkan teknologi digital.
Menurut Alfan, digitalisasi tidak cukup hanya dengan membuat akun media sosial atau platform promosi. Masyarakat juga perlu dibekali kemampuan agar teknologi tersebut benar-benar dapat digunakan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan promosi desa secara berkelanjutan.
“Harapannya, ketika mahasiswa sudah kembali ke kampus, masyarakat tetap mampu melanjutkan apa yang sudah dibangun selama KKN,” katanya.
Pendekatan serupa diterapkan pada bidang pendidikan dan kepemudaan. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu akan membuka ruang kegiatan yang mendorong proses belajar sekaligus meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam pembangunan desa.
Kolaborasi lintas bidang tersebut diharapkan dapat membuat program ekonomi, pendidikan, teknologi dan sosial saling terhubung. Dengan begitu, kegiatan KKN tidak berjalan secara terpisah berdasarkan latar belakang keilmuan mahasiswa, melainkan menghasilkan program yang saling menguatkan.
Alfan menilai keberhasilan KKN tidak semestinya hanya dilihat dari banyaknya kegiatan yang terlaksana selama mahasiswa berada di desa. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana program tersebut memberikan manfaat dan dapat diteruskan masyarakat setelah masa KKN berakhir.
“Dari potensi menjadi aksi, dari aksi menjadi kebermanfaatan, dan dari kebermanfaatan menuju kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Selain sektor ekonomi dan digitalisasi, KKN Tematik Uniga juga memberi perhatian terhadap potensi budaya Pamalayan. Identitas budaya lokal dipandang sebagai aset yang dapat dikembangkan sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat yang lebih luas.
Rangkaian program tersebut direncanakan bermuara pada Festival Budaya Potensi Pamalayan. Kegiatan ini akan menjadi ruang untuk menampilkan produk UMKM, hasil pertanian, kreativitas pemuda, potensi masyarakat serta kekayaan budaya lokal.
Festival tersebut tidak hanya diposisikan sebagai acara penutup KKN. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi etalase yang mempertemukan berbagai potensi yang sebelumnya telah dipetakan dan dikembangkan melalui program pemberdayaan.
Sebagai koordinator desa, Alfan juga bertugas memastikan berbagai program yang dijalankan mahasiswa memiliki arah yang sama. Kolaborasi multidisiplin menjadi salah satu kunci agar pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dari berbagai bidang dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Melalui lokakarya awal ini, KKN Tematik Uniga berupaya membangun fondasi kerja sama antara mahasiswa, pemerintah desa dan masyarakat sebelum memasuki tahap pelaksanaan program.
Dengan pemetaan potensi sebagai titik awal, Pamalayan Berdaya 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai rangkaian kegiatan mahasiswa. Program tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengolah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi, sosial dan budaya yang mampu mendorong Pamalayan menuju desa yang lebih digital, mandiri, edukatif dan berdaya saing.***



Tinggalkan Balasan