Jangan Biarkan Museum Galuh Cisaga Menunggu Dilupakan

|

GUGAH — Bangsa yang kehilangan ingatan sedang berjalan menuju kepunahan identitasnya. Ironisnya, di tengah gegap gempita pembangunan fisik dan hiruk-pikuk proyek yang silih berganti, ruang-ruang penyimpan sejarah justru kerap berdiri dalam sunyi, menunggu perhatian yang tak kunjung datang.

Museum Galuh Cisaga adalah salah satunya.

Selasa (28/7/2026), museum yang menyimpan jejak panjang peradaban Tatar Galuh itu kembali hidup. Bukan karena seremoni besar pemerintah, melainkan oleh langkah-langkah sederhana puluhan mahasiswa Keluarga Mahasiswa Ciamis Galuh Taruna Bandung (KMC Galuh Taruna Bandung) yang datang membawa semangat pengabdian dan kepedulian terhadap warisan budaya.

Mereka disambut langsung oleh RH. Gurnadi Gumelar Djajadiharja, pemrakarsa sekaligus kurator Museum Galuh Cisaga, bersama jajaran pengelola, yakni Gunawan Jayadiharja, Johan Jouhar Anwari, dan Pandu Radea.

Di hadapan para mahasiswa, mereka memperkenalkan museum bukan sekadar sebagai tempat menyimpan benda-benda kuno, melainkan rumah bagi memori kolektif masyarakat Galuh.

Baca Juga:  Journalist Chess Exhibition 2026, Saat Wartawan Bertarung di Atas Papan Catur

“Museum Galuh bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi menjadi ruang yang memperlihatkan perjalanan panjang peradaban Tatar Galuh,” ujar Kang Pandu.

Kalimat itu seolah menjadi pengingat bahwa setiap artefak yang tersimpan di dalam museum bukan benda mati. Di balik batu, naskah, uang kuno, senjata tradisional, hingga lambang kerajaan, tersimpan kisah tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang diwariskan kepada generasi hari ini.

Para peserta kemudian dibagi ke dalam sepuluh kelompok sesuai klasifikasi koleksi museum, mulai dari Arkeologika, Biologika, Filologika, Historika, Geologika, Teknologika, Seni Rupa, Kramologika, Heraldika hingga Numismatika.

Mereka melakukan observasi, pendataan, identifikasi, dan dokumentasi setiap koleksi. Dengan teliti, mahasiswa mencatat asal-usul, fungsi, nilai sejarah, hingga keunikan setiap artefak sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan warisan budaya yang selama ini belum banyak dikenal publik.

Baca Juga:  Isu Jual Nama KDM: Publik Berhak Tahu, Siapa Oknumnya dan Apa Buktinya?

Namun kegiatan itu menyisakan sebuah pertanyaan besar: mengapa menjaga sejarah justru lebih banyak dipikul oleh komunitas, pegiat budaya, dan mahasiswa?

Museum seharusnya tidak dibiarkan berjuang sendirian. Ia adalah benteng terakhir yang menjaga identitas daerah ketika arus globalisasi perlahan mengikis ingatan generasi muda. Tanpa perhatian yang serius, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal sejarah Tatar Galuh dari potongan gambar di internet, sementara benda-benda aslinya perlahan lapuk dimakan waktu.

Sudah saatnya pelestarian museum menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap agenda kebudayaan. Dukungan terhadap museum bukan hanya soal anggaran, tetapi juga keberpihakan pada identitas, pendidikan, dan masa depan sebuah bangsa. Museum yang hidup akan melahirkan generasi yang mengenal akar budayanya; museum yang ditinggalkan akan melahirkan generasi yang asing terhadap sejarahnya sendiri.

Baca Juga:  Gokil! Emak-Emak Makassar “Gendong” Motor Pakai Motor, Polisi Langsung Gercep

Apa yang dilakukan KMC Galuh Taruna Bandung menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap budaya masih tumbuh di kalangan anak muda. Namun semangat mereka tidak boleh berjalan sendiri. Pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor swasta, hingga masyarakat luas perlu bergandengan tangan memastikan Museum Galuh Cisaga memperoleh perhatian yang layak sebagai pusat edukasi, riset, dan pelestarian budaya.

Sebab sejarah tidak akan hilang dalam sehari. Ia menghilang sedikit demi sedikit ketika kita memilih untuk tidak peduli.

Dan ketika sebuah museum kehilangan pengunjung, sesungguhnya yang sedang hilang bukan hanya koleksi di dalamnya, melainkan ingatan sebuah peradaban.

Merawat museum bukan sekadar menjaga bangunan tua. Merawat museum berarti menjaga jati diri. Karena bangsa yang besar bukan hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi juga menjaga akar sejarah yang membuatnya tetap berdiri tegak.***

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran