GUGAH – Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Garut mengajak masyarakat dan pemerintah memperkuat langkah mitigasi menghadapi musim kemarau. Selain mengedepankan efisiensi pemanfaatan air, LPPNU juga menyoroti pentingnya pencegahan kebakaran hutan, penguatan ketahanan pakan ternak, serta kesiapan menghadapi musim hujan melalui rehabilitasi lingkungan.
Ketua LPPNU Kabupaten Garut, Dendim Samsudin, mengimbau warga Nahdliyin dan masyarakat luas untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Garut. Menurutnya, ancaman berkurangnya debit mata air, kekeringan lahan pertanian, keterbatasan pakan ternak, hingga potensi kebakaran hutan memerlukan langkah antisipasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Ia menilai pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara bijaksana dengan mengedepankan kebutuhan yang bersifat paling mendesak. Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap air bersih sekaligus menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian, peternakan, dan perikanan selama musim kemarau berlangsung.
Dendim mengingatkan agar penggunaan sumber mata air dilakukan secara efisien dan diprioritaskan bagi tanaman yang benar-benar membutuhkan pasokan air. Ia juga mengajak masyarakat mengurangi pemborosan penggunaan air, terutama di wilayah yang mengalami penurunan debit mata air maupun kawasan yang selama ini bergantung pada aliran sungai kecil.
Menurutnya, sektor peternakan dan perikanan juga memerlukan perhatian khusus karena keduanya sangat bergantung pada ketersediaan air. Oleh sebab itu, pemanfaatan air untuk kebutuhan tersebut harus diatur secara proporsional agar tidak mengganggu kebutuhan dasar masyarakat sekaligus tetap menjaga produktivitas usaha petani dan peternak.
Selain persoalan air, Dendim menyoroti ancaman berkurangnya hijauan pakan ternak yang hampir selalu terjadi ketika musim kemarau berkepanjangan. Ia mendorong peternak mulai beralih pada penyediaan pakan silase sebagai cadangan pakan sehingga kebutuhan ternak tetap dapat dipenuhi meskipun rumput segar semakin sulit diperoleh.
“Silase menjadi salah satu solusi yang perlu diperkenalkan lebih luas kepada peternak. Edukasi mengenai cara membuat dan menyimpan pakan fermentasi harus terus diperkuat agar masyarakat tidak mengalami kesulitan mencari hijauan ketika musim kemarau mencapai puncaknya,” ujarnya.
Di sektor kehutanan, LPPNU juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Dendim mengajak masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, memperkuat pengawasan lingkungan, serta menyiapkan langkah rehabilitasi melalui penanaman kembali atau reboisasi ketika musim hujan tiba.
Ia menambahkan bahwa apabila terdapat sumber mata air yang terbatas, pemanfaatannya sebaiknya diprioritaskan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Setelah kebutuhan air penduduk terpenuhi, pemanfaatannya untuk kepentingan pertanian dapat dilakukan melalui pengelolaan yang terencana dan berkoordinasi dengan pemerintah.
Bagi kelompok tani yang membutuhkan pasokan air untuk irigasi, Dendim mendorong agar segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian guna memperoleh dukungan berupa akses terhadap bantuan alat dan mesin pompa air. Menurutnya, pemanfaatan teknologi tersebut dapat menjadi solusi sementara untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah keterbatasan sumber air.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, LPPNU Kabupaten Garut selama beberapa waktu terakhir telah melaksanakan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan di berbagai wilayah. Kegiatan tersebut menyasar kawasan Garut Selatan, di antaranya Bayongbong wilayah Panembong, Cigedug, Cihurip, Cisompet, dan Cikelet, yang memiliki kawasan hutan dan lahan rawan terbakar pada musim kemarau.
Program serupa juga dilaksanakan di wilayah Garut Utara meliputi Kadungora, Leles, Cibiuk, serta kawasan hutan Gunung Haruman. Sementara di wilayah tengah, sosialisasi dipusatkan di Kecamatan Sucinaraja dengan cakupan beberapa desa seperti Cigadog, Sukamukti, dan Sukalaksana, serta menjangkau kawasan Garut Kota, Kelurahan Sukanegla, hingga Margawati.
Menurut Dendim, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun budaya mitigasi bencana berbasis komunitas. Ia menilai keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan akan jauh lebih efektif apabila dibarengi dengan pendampingan, sosialisasi, dan koordinasi lintas sektor secara berkelanjutan.
LPPNU juga meminta Pemerintah Kabupaten Garut melalui Bupati beserta organisasi perangkat daerah terkait segera memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan. Salah satu solusi yang dinilai mendesak ialah penyediaan bantuan sumber air bagi wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih selama musim kemarau.
Kepada Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim), LPPNU mendorong agar bantuan mesin pompa air diprioritaskan bagi daerah yang memiliki sumber mata air namun belum memiliki sarana distribusi yang memadai. Dukungan tersebut diyakini dapat membantu masyarakat mempertahankan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko gagal panen.
Sementara kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kehutanan, Dendim berharap sosialisasi pencegahan kebakaran dilakukan secara lebih masif, baik di kawasan hutan negara maupun lingkungan permukiman. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat kembali menghidupkan budaya gotong royong membersihkan saluran irigasi, sungai, dan lingkungan sekitar agar ketika musim hujan tiba, aliran air tetap lancar serta risiko banjir dan kerusakan infrastruktur dapat diminimalkan.
Menurutnya, menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika bencana terjadi, tetapi memerlukan perencanaan jangka panjang yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat, akademisi, hingga warga di tingkat desa. Kolaborasi menjadi kunci agar ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, dan keselamatan masyarakat tetap terjaga di tengah perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi. ***



Tinggalkan Balasan