Kemarau Ekstrem Ancam Kabupaten Tangerang, Krisis Air Bersih Meluas dan 15 Kecamatan Terancam Puso

|

GUGAH – Dampak musim kemarau yang semakin panjang mulai dirasakan di berbagai wilayah Kabupaten Tangerang. Ancaman krisis air bersih kini dipetakan berpotensi meluas hingga 20 kecamatan, sementara lahan pertanian di 15 kecamatan terancam mengalami kekeringan yang berujung pada gagal panen atau puso.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan pemerintah daerah telah memetakan sejumlah potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi selama musim kemarau tahun ini.

“Menurut hasil kajian, memang di Kabupaten Tangerang berpotensi untuk terjadinya bencana kebanjiran, puting beliung, serta kekeringan,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Baca Juga:  Alarm Keras! Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Sukabumi Melonjak Awal 2026

Mengantisipasi dampak tersebut, BPBD Kabupaten Tangerang telah menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang mulai terdampak kekeringan. Pendataan terus dilakukan untuk memastikan distribusi bantuan menjangkau wilayah yang benar-benar membutuhkan.

“Kami terus mengantisipasi sambil berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk mendukung kegiatan ini,” ucapnya.

Sebagai langkah siaga, BPBD juga mengerahkan armada distribusi air bersih serta menempatkan personel di 14 pos pemadam kebakaran yang beroperasi selama 24 jam secara bergiliran. Selain itu, Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD disiagakan penuh untuk menerima laporan darurat dari masyarakat maupun petugas di lapangan.

Baca Juga:  Sekda: Semangat Harkitnas Harus Tercermin dalam Pelayanan Publik

“Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD bersiaga penuh menerima laporan darurat 24 jam,” ujarnya.

Hingga saat ini, lima kecamatan telah mengajukan bantuan distribusi air bersih, yakni Curug, Panongan, Legok, Jambe, dan Tigaraksa. Seluruh wilayah tersebut sebelumnya telah masuk dalam pemetaan BPBD sebagai kawasan rawan kekeringan.

“Saat ini baru lima kecamatan yang mengalami krisis air bersih,” katanya.

Di sektor pertanian, ancaman yang muncul tidak kalah serius. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 15 kecamatan berpotensi mengalami gagal panen akibat berkurangnya pasokan air irigasi selama musim kemarau.

Baca Juga:  Polisi Ungkap Dugaan Tiga Kali Percobaan Bunuh Diri dalam Kematian Kabid Aset BKAD Purwakarta

Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengatakan proses pendataan lahan terdampak masih terus dilakukan. Beberapa wilayah yang telah masuk pemantauan antara lain Kecamatan Rajeg, Gunung Kaler, Mekar Baru, dan Kronjo.

“Pendataan terhadap lokasi yang mengalami kekeringan masih terus berlangsung,” ujarnya. “Namun, yang sudah berpotensi ada pada 15 kecamatan.”

Ia memperkirakan puncak musim kemarau akan berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan risiko kekeringan di sektor pertanian apabila pasokan air tidak mencukupi.

“Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan berkurangnya pasokan air untuk lahan pertanian,” ucapnya.***

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran