GUGAH – Di tengah tantangan panjangnya rantai distribusi pangan di Indonesia, PT Aset Pangan Nusantara (APN) hadir dengan pendekatan berbeda. Perusahaan yang berbasis di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ini memosisikan diri sebagai agregator yang mempertemukan petani, pemasok, dan distributor dalam satu ekosistem rantai pasok terintegrasi.
Model bisnis tersebut dirancang untuk memangkas mata rantai distribusi yang selama ini dinilai kurang efisien dan berdampak pada harga maupun kesejahteraan petani. APN menghubungkan pemasok berbagai komoditas pangan, mulai dari beras, gula, minyak goreng hingga komoditas segar, dengan distributor di Kalimantan dan wilayah lain di Indonesia.
Perusahaan menyebut membangun jaringan rantai pasok dari hulu hingga hilir dengan sistem pembagian hasil yang transparan. Dalam enam bulan pertama operasionalnya, APN menargetkan nilai transaksi (GMV) lebih dari Rp10 miliar serta menjangkau ribuan mitra potensial melalui lima bidang usaha berbasis KBLI.
Mengandalkan Teknologi untuk Efisiensi
Di balik model bisnisnya, APN mengembangkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang memungkinkan seluruh proses bisnis terdokumentasi secara digital, mulai dari pemesanan, konfirmasi stok, pengiriman hingga penyelesaian transaksi.
Setiap calon mitra juga diwajibkan melewati proses verifikasi legalitas (Know Your Business/KYB) sebelum dapat melakukan transaksi. Langkah tersebut diklaim menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola bisnis yang transparan dan dapat diaudit secara real time.
Fokus pada Ketahanan Pangan
Dalam dokumen profil perusahaan, APN menetapkan visi menjadi platform agregator pangan terdepan di Kalimantan yang mendukung ketahanan pangan nasional melalui rantai pasok yang efisien, transparan, dan berkelanjutan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, perusahaan mengusung sejumlah misi, di antaranya membangun jaringan supplier dan distributor yang terverifikasi, menghadirkan sistem ERP, mengembangkan model bisnis berbasis sharing fee, memberikan konsultasi bisnis bagi UMKM pangan, serta meningkatkan efisiensi distribusi di daerah.
Menawarkan Nilai bagi Tiga Kelompok Mitra
APN membagi layanannya ke dalam tiga segmen utama, yakni supplier dan petani, distributor, serta investor.
Bagi petani dan pemasok, perusahaan menawarkan akses pasar yang lebih luas tanpa melalui rantai tengkulak yang panjang, harga yang lebih transparan, pembayaran melalui sistem escrow, serta pengelolaan stok secara digital. Sementara bagi distributor, APN menyediakan akses terhadap pasokan komoditas yang terverifikasi dengan sistem pelacakan distribusi dan pembelian dalam skala besar.
Di sisi investor, APN menawarkan model bisnis berbasis sharing fee sebesar 2,5 persen dengan peluang ekspansi, termasuk pada kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta mengedepankan dampak sosial melalui pendekatan Environmental, Social and Governance (ESG).
Transparansi Jadi Fondasi Bisnis
Skema bisnis APN dimulai dari pencatatan ketersediaan komoditas oleh supplier, dilanjutkan pemesanan oleh distributor melalui platform perusahaan. Dana transaksi kemudian ditempatkan pada rekening escrow hingga barang diterima dan diverifikasi. Setelah proses selesai, pembayaran diteruskan kepada pemasok dengan pemotongan sharing fee sebesar 2,5 persen sebagai pendapatan perusahaan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan antara penjual dan pembeli sekaligus memperkuat efisiensi rantai pasok pangan yang selama ini menjadi salah satu tantangan sektor pangan nasional.
Berkantor pusat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, PT Aset Pangan Nusantara tercatat memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) 0304260054361 yang diterbitkan pada 3 April 2026 sebagai perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) kategori usaha mikro.
Dengan memadukan teknologi digital, verifikasi mitra, dan integrasi rantai pasok, APN berupaya mengambil peran sebagai penghubung antara produsen pangan dan pasar yang lebih luas. Keberhasilan model bisnis tersebut ke depan akan bergantung pada kemampuan perusahaan memperluas jaringan mitra sekaligus menjaga konsistensi tata kelola yang transparan di sektor distribusi pangan Indonesia.***



Tinggalkan Balasan