GUGAH – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan siap kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Yahya saat ditemui di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026). Menurutnya, keinginan untuk memimpin organisasi merupakan hal yang lumrah mengingat posisi Ketua Umum PBNU memiliki tanggung jawab besar dalam mengarahkan perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia.
“Ya, kalau orang kepingin jadi Ketua Umum PBNU ya banyak yang kepingin lah, karena Ketua Umum kan gagah kayak saya gini,” ucap Gus Yahya.
Gus Yahya menegaskan, keputusannya untuk kembali mencalonkan diri bukan semata-mata persoalan jabatan. Ia ingin menuntaskan berbagai agenda transformasi organisasi yang telah dirintis sejak awal masa kepemimpinannya pada 2022.
“Sehingga kalau banyak yang kepingin, itu biasa, dari dulu juga begitu. Dan saya memang hendak mencalonkan lagi karena pertama, saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang ada, yang sejak awal sudah saya bangun,” tegasnya.
Selama satu periode terakhir, PBNU menjalankan sejumlah program strategis yang menjadi fondasi pembaruan organisasi. Diantaranya:
Digitalisasi Data dan Layanan (Digdaya) NU
Platform tersebut dikembangkan untuk mengintegrasikan tata kelola organisasi, administrasi, hingga pelayanan kepada warga Nahdliyin dalam satu sistem digital yang saling terhubung.
Menurut Gus Yahya, transformasi digital menjadi langkah penting agar organisasi mampu menjangkau seluruh struktur kepengurusan secara lebih efektif.
“Saya sudah mendapat gambaran bahwa apabila kita menjalankannya dengan strategi yang tepat, yang itu sudah ada di dalam skema yang kita pikirkan,” katanya Selasa (14/7/2026).
PBNU menargetkan seluruh kepengurusan, mulai dari tingkat pusat, Pengurus Wilayah (PWNU), Pengurus Cabang (PCNU), Majelis Wakil Cabang (MWCNU), hingga ranting dan anak ranting, dapat terkoneksi dalam satu ekosistem digital.
“Dengan begitu, daya jangkau kepada warga akan semakin efektif,” ujarnya.
Ia optimistis digitalisasi tersebut akan memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan berbangsa.
“Insyaallah, ini akan menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk membantu konsolidasi bangsa secara keseluruhan karena warga NU tersebar di seluruh belahan Nusantara,” katanya.
Perkuat Kaderisasi Berbasis Kompetensi
Di bidang kaderisasi, PBNU juga melakukan pembaruan melalui sistem pendidikan kader yang lebih terstruktur dan berbasis meritokrasi. Sistem tersebut terdiri atas Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU), Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (P-MKNU), hingga Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN-NU).
Gus Yahya menegaskan bahwa kader NU dibentuk melalui proses pendidikan, bukan ditentukan oleh garis keturunan.
“(Karena) yang beda itu antara warga dan kader. Kalau kader ikut pelatihan, kalau lulus dibaiat. Jadi pengurus di SK, dibaiat. Warga nggak usah dibaiat. Nanti kalau warga harus dibaiat, itu bakul-bakul gethuk, tukang becak njaluk baiat kabeh kan pusing kita. Nanti jangan-jangan copet-copet minta baiat semua, repot kita. Ada ukuran masing-masing. Semuanya NU, sudah NU,” ucap Gus Yahya, Senin (14/5/2023).
Dorong Kemandirian Ekonomi Nahdliyin
Selain memperkuat organisasi, PBNU juga mendorong peningkatan kesejahteraan warga melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi.
Melalui Lembaga Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU), organisasi mendampingi kelompok tani penerima program perhutanan sosial yang mencakup ratusan ribu hektare lahan.
“Ada sekitar tidak kurang dari 400 ribu hektare lahan yang diterima oleh petani-petani di lingkungan Nahdlatul Ulama melalui program perhutanan sosial,” jelasnya, Selasa (14/7/2026).
PBNU juga mulai mengembangkan kerja sama ekonomi internasional melalui inisiatif Global Sharia Services yang diharapkan dapat memperkuat jejaring ekonomi syariah dunia.
“Kalau dikembangkan lebih lanjut, NU bisa menjadi hub dari jaringan ekonomi syariah global,” ujarnya.
GKMNU Jadi Program Prioritas
Program lain yang menjadi perhatian adalah Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU). Program ini menyasar penguatan ketahanan keluarga melalui layanan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, hingga pencegahan stunting.
Gus Yahya menyebut GKMNU bersama transformasi digital menjadi dua program prioritas PBNU.
“Program prioritas kami untuk 2025 ini pertama soal Gerakan Keluarga Maslahat menjadi prioritas dan yang kedua soal digital,” ujarnya, Jum’at (3/1/2025).
Ia menjelaskan seluruh layanan organisasi akan diintegrasikan dalam platform Digdaya sehingga koordinasi antarstruktur NU menjadi lebih cepat dan efisien.
“Soal digital, kita ini buat DIGDAYA NU itu jadi semua data dan layanan NU ini akan kita tampung dalam satu platfrom digital, sehingga koordinasi bisa lebih mudah,” katanya.
Menurutnya, manfaat digitalisasi sudah mulai dirasakan oleh seluruh jajaran kepengurusan.
“Sekarang ini, sudah jalan untuk administrasi dan kita sudah rasakan faedahnya. Segala sesuatu yang jauh lebih efisien, proses jauh jadi lebih cepat dan seterusnya. Dan ini sudah mulai dari PBNU sampai ke tingkat cabang kabupaten kota. Alhamdulillah,” ujar Ketum PBNU.
Gus Yahya juga menegaskan bahwa GKMNU dirancang sebagai program yang inklusif dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang organisasi maupun agama.
“Perlu dicatat bahwa obyek atau sasaran dari GKMNU ini tidak khusus warga NU saja. Ini kita desain (GKMNU) sebagai layanan inklusif, yang ikut tidak ditanyakan NU atau agama apa, layanan (GKMNU) untuk semua masyarakat, pokoknya kalau mau ikut, ikut saja, ini layanan umum,” tegasnya.
Berbagai capaian tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu pertimbangan para muktamirin dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU pada Muktamar NU ke-35 mendatang. Selain memilih Ketua Umum PBNU, forum tertinggi organisasi itu juga akan menetapkan berbagai kebijakan strategis sebagai pijakan Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan masa depan.***



Tinggalkan Balasan