GUGAH – Kelangkaan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram terjadi di Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Sabtu (11/7/2026). Antrean panjang terjadi di sejumlah pangkalan dan warung akibat meningkatnya kebutuhan LPG yang tidak hanya digunakan rumah tangga, tetapi juga dimanfaatkan petani sebagai bahan bakar mesin pompa air untuk mengairi sawah pada musim kemarau.
Meningkatnya penggunaan LPG oleh petani dipicu sulitnya memperoleh bahan bakar minyak bersubsidi di SPBU. Sejumlah petani mengaku harus memenuhi persyaratan administrasi, termasuk surat rekomendasi dari pemerintah desa, sehingga memilih menggunakan tabung gas 3 kilogram yang dinilai lebih mudah diperoleh dan lebih hemat biaya operasional.
Raskani, seorang petani di Cipunagara, mengatakan penggunaan LPG mampu menekan biaya pengairan sawah secara signifikan dibandingkan menggunakan bensin.
“Untuk sekali mengairi, bensin habis 10 liter. Dengan LPG 3 kg cukup satu tabung, dan biayanya bisa hemat sampai jutaan per musim tanam,” ujar Raskani, petani setempat.
Menurutnya, penghematan biaya menjadi pertimbangan utama para petani di tengah tingginya ongkos produksi pertanian.
Berdasarkan perhitungan petani, biaya pengairan sawah menggunakan bensin dapat mencapai sekitar Rp10 juta per hektare dalam satu musim tanam. Sementara jika menggunakan LPG 3 kilogram, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp6 juta per hektare atau lebih hemat sekitar Rp4 juta.
“Selisih harganya sangat jauh. Wajar jika petani memilih yang lebih menguntungkan untuk bertahan di tengah biaya produksi yang tinggi,” kata Raskani.
Di sisi lain, tingginya konsumsi LPG untuk kebutuhan pertanian berdampak pada berkurangnya pasokan bagi masyarakat yang berhak menerima subsidi. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran karena tabung gas 3 kilogram pada dasarnya diperuntukkan bagi rumah tangga, usaha mikro, serta kelompok penerima manfaat sesuai ketentuan pemerintah.
Sejumlah warga berharap pemerintah daerah bersama Pertamina dapat mencari solusi agar kebutuhan petani tetap terpenuhi tanpa mengganggu distribusi LPG bersubsidi untuk masyarakat. Beberapa usulan yang muncul di antaranya penyediaan kuota energi khusus bagi sektor pertanian, kemudahan akses BBM bersubsidi bagi kelompok tani, hingga pengembangan pompa air berbasis energi alternatif.
“Kami tidak menolak aturan. Tapi tolong beri alternatif, agar sawah tetap bisa diairi dan dapur warga tetap bisa menyala,” ungkap seorang warga Cipunagara.
Warga berharap langkah penyelesaian dilakukan secara menyeluruh sehingga kebutuhan rumah tangga dan sektor pertanian dapat berjalan beriringan, terutama selama musim kemarau yang meningkatkan kebutuhan air untuk lahan pertanian.
“Jika ada kebijakan yang adil, kami siap mendukung. Yang penting transparan dan tidak memberatkan salah satu pihak,” tutup Raskani.***



Tinggalkan Balasan