GUGAH – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut menerima kunjungan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat di Aula Lantai 1 Kantor PCNU Kabupaten Garut, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi forum evaluasi menyeluruh terhadap progres organisasi selama satu tahun pertama kepengurusan sejak dilantik pada 11 April 2025.
Tim evaluator PWNU Jawa Barat terdiri atas lima orang, yakni tiga unsur Syuriyah dan dua unsur Tanfidziyah. Mereka melakukan verifikasi administrasi, mencermati dokumen kelembagaan, mengevaluasi implementasi program kerja, hingga mengonfirmasi berbagai capaian yang telah dilaksanakan PCNU Kabupaten Garut bersama seluruh MWCNU, lembaga, dan badan otonom.
Ketua, sekretaris, bendahara, para wakil ketua, ketua lembaga, pimpinan badan otonom, serta jajaran pengurus PCNU Kabupaten Garut mengikuti kegiatan tersebut. Seluruh unsur organisasi mempresentasikan perkembangan bidang masing-masing, mulai dari tata kelola administrasi, kaderisasi, pendidikan, dakwah, ekonomi, kesehatan, hingga pelayanan sosial yang telah dijalankan selama satu tahun terakhir.
Sekretaris PCNU Kabupaten Garut, H. Aceng Hilman Umar, memaparkan bahwa tahun pertama kepengurusan difokuskan pada penguatan fondasi organisasi melalui penataan administrasi, digitalisasi data, pengembangan kader, serta peningkatan pelayanan kepada warga Nahdliyyin. Menurutnya, seluruh program dirancang agar mampu membangun jam’iyah yang lebih tertib, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Selama satu tahun ini kami berupaya memperkuat sistem organisasi, bukan hanya memperbanyak kegiatan. Seluruh bidang diarahkan agar memiliki target yang terukur sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga Nahdliyyin,” ujarnya saat mempresentasikan laporan progres organisasi.
Dalam bidang kaderisasi, PCNU Garut melaporkan telah menyelenggarakan 40 angkatan Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) dengan jumlah 3.225 alumni kader yang tersebar di berbagai kecamatan. Selain itu, organisasi juga telah mendata sekitar 28 ribu warga Nahdliyyin sebagai bagian dari pembangunan basis data organisasi yang terintegrasi.
Di sektor ekonomi umat, PCNU memperkuat sinergi antara LPNU, LPPNU, dan NU CARE-LAZISNU. Salah satu capaian yang mendapat perhatian adalah keberhasilan Gerakan KOIN NU menghimpun dana sebesar Rp728,4 juta yang kemudian dialokasikan untuk mendukung program pendidikan, kesehatan, santunan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga penanganan kondisi darurat masyarakat.
Melalui LPPNU, PCNU Garut juga melakukan pendampingan terhadap 17 Kelompok Perhutanan Sosial yang melibatkan 2.744 kepala keluarga. Program tersebut menjadi bagian dari penguatan ekonomi berbasis sumber daya alam sekaligus pemberdayaan masyarakat desa di kawasan hutan sosial.
Pada bidang aset dan wakaf, organisasi telah mendata 74 lokasi tanah wakaf SIWAKNU dengan luas mencapai 137.090,30 meter persegi. Dari jumlah tersebut, empat bidang tanah telah memperoleh sertifikat wakaf, sementara proses sertifikasi terhadap lokasi lainnya terus didorong untuk memberikan kepastian hukum terhadap aset-aset Nahdlatul Ulama.
Bidang pelayanan sosial dan kesehatan juga menjadi salah satu fokus utama kepengurusan. Berbagai program telah dilaksanakan, di antaranya layanan Ambulans NU 24 Jam, khitanan massal, santunan anak yatim, bantuan kebencanaan, dukungan pembangunan pondok pesantren, pemberian beasiswa pendidikan, hingga gerakan penanaman pohon di kawasan rawan bencana melalui kolaborasi LPPNU dan NU CARE Hijau.
Di sektor pendidikan, PCNU Kabupaten Garut memperkuat pengembangan STIEBS NU Garut sebagai perguruan tinggi milik organisasi yang berorientasi mencetak sumber daya manusia unggul. Sementara di bidang kesehatan, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) terus mengembangkan pelayanan melalui RSU Nurhayati sebagai salah satu aset strategis organisasi dalam bidang kesehatan masyarakat.
Dalam aspek tata kelola organisasi, PCNU Garut melaporkan pembinaan administrasi telah menjangkau 42 MWCNU, 329 Ranting NU, serta 102 Anak Ranting NU yang telah terbentuk di Kecamatan Selaawi, Cisurupan, dan Banyuresmi. Penguatan administrasi tersebut dilakukan melalui sistem persuratan, pembinaan kelembagaan, serta digitalisasi data organisasi.
Selain itu, sejumlah agenda rutin organisasi terus dijalankan secara konsisten, antara lain Turba ke MWCNU setiap enam bulan, Yaumul Ijtima, Pengajian Bulanan PCNU, layanan pemeriksaan kesehatan gratis, rapat koordinasi bidang bersama lembaga, serta rapat koordinasi rutin dengan MWCNU, badan otonom, dan lembaga melalui platform digital.
Salah seorang evaluator PWNU Jawa Barat, Ujang Nurjaman, menyampaikan bahwa proses monitoring dilakukan bukan untuk mencari kekurangan organisasi, melainkan memastikan seluruh data dan capaian yang dipaparkan sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, seluruh dokumen diverifikasi secara administratif maupun faktual agar hasil evaluasi benar-benar objektif.
“Monitoring ini merupakan bagian dari pembinaan organisasi. Kami melakukan verifikasi terhadap data yang disampaikan, mencocokkannya dengan dokumen pendukung, kemudian memberikan catatan dan rekomendasi agar tata kelola organisasi semakin baik. Dari hasil pemaparan dan verifikasi awal, PCNU Kabupaten Garut menunjukkan perkembangan yang positif dalam penguatan kelembagaan, kaderisasi, administrasi, serta sinergi antar perangkat organisasi,” ujar Ujang.
Ia juga mengapresiasi sejumlah capaian yang dinilai menjadi nilai tambah bagi PCNU Garut, di antaranya konsistensi kaderisasi melalui PD-PKPNU, pembentukan ranting dan anak ranting, penguatan digitalisasi administrasi, penghimpunan KOIN NU, pengembangan aset organisasi, hingga keberhasilan membangun kolaborasi antarlembaga dalam pelayanan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Mengakhiri presentasi, H. Aceng Hilman Umar menyampaikan bahwa capaian selama satu tahun pertama menjadi pijakan untuk memasuki tahap pengembangan organisasi yang lebih luas. Ke depan, PCNU Garut menargetkan penyelesaian database organisasi terintegrasi, pengembangan Klinik NU di setiap zonasi, penambahan armada Ambulans NU, penguatan BMT NU, pengembangan KBIHU NU dan Biro Umrah NU, peningkatan jumlah peserta didik di lembaga pendidikan Ma’arif dan STIEBS NU Garut, serta optimalisasi penghimpunan KOIN NU sebagai instrumen kemandirian ekonomi jam’iyah.
Melalui proses monitoring dan evaluasi tersebut, PCNU Kabupaten Garut berharap seluruh rekomendasi dari PWNU Jawa Barat dapat menjadi bahan penyempurnaan organisasi. Dengan tata kelola yang semakin profesional, kaderisasi yang berkelanjutan, serta pelayanan umat yang terus berkembang, PCNU Garut optimistis mampu memperkuat perannya sebagai organisasi keagamaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Garut. *



Tinggalkan Balasan