GUGAH – Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai desa di Kecamatan Balubur Limbangan memadati kawasan Makam Kangjeng Sunan Rumenggong di Kampung Poronggol, Desa Ciwangi, Kamis (25/6/2026). Tradisi ziarah tahunan yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Balubur Limbangan itu kembali menjadi momentum memperkuat spiritualitas, merawat sejarah, serta mempererat ukhuwah warga Nahdliyin.
Di tengah lantunan tahlil, salawat, dan doa bersama yang menggema sejak pagi, sedikitnya 1.457 jamaah mengikuti kegiatan yang bertepatan dengan 10 Muharam 1448 Hijriah tersebut. Para peserta berasal dari berbagai ranting NU di wilayah Limbangan, melibatkan pengurus MWCNU, badan otonom, lembaga NU, tokoh agama, santri, hingga masyarakat umum.
Bagi masyarakat Nahdliyin Limbangan, ziarah ke makam Sunan Rumenggong bukan sekadar agenda rutin tahunan. Tradisi ini telah menjadi bagian dari upaya menjaga memori kolektif terhadap tokoh yang diyakini memiliki peran penting dalam perkembangan Islam dan peradaban awal di kawasan Limbangan.
Rais Syuriyah MWCNU Balubur Limbangan, KH Ismail Mustofa Ibrahim, mengatakan ziarah merupakan sarana memperkuat hubungan spiritual dengan para pendahulu sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga NU.
Menurutnya, tradisi keagamaan seperti ini harus terus dijaga agar generasi muda tidak kehilangan jejak sejarah dan nilai perjuangan para ulama yang telah membangun kehidupan keagamaan masyarakat hingga saat ini.
“Kita ingin generasi sekarang memahami bahwa kemajuan yang dirasakan hari ini tidak lahir begitu saja. Ada perjuangan panjang para ulama dan tokoh terdahulu yang harus terus dikenang dan diteladani,” ujarnya.
Selain pembacaan tawasul dan doa bersama, kegiatan juga diisi dengan pemaparan sejarah serta silsilah Kangjeng Sunan Rumenggong. Materi tersebut menjadi bagian dari upaya edukasi sejarah agar masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai tokoh lokal yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Garut bagian utara.
Dalam tausiyahnya, KHR Imam Abdurachman, mengajak masyarakat menjadikan Sunan Rumenggong sebagai teladan dalam mencintai agama sekaligus tanah air.
Menurutnya, para ulama terdahulu berhasil menyebarkan Islam melalui pendekatan yang bijaksana, menghargai budaya lokal, serta mengedepankan persatuan. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial saat ini.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga komitmen terhadap ajaran Ahlussunnah wal Jamaah serta memperkuat kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi keislaman warga NU.
Selain menghadirkan suasana religius, kegiatan tersebut turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sejak pagi, puluhan pedagang makanan, minuman, perlengkapan ibadah, hingga jasa transportasi memanfaatkan momentum berkumpulnya ribuan jamaah untuk menjalankan aktivitas usaha.
Kehadiran ribuan peserta dalam satu lokasi menciptakan perputaran ekonomi yang cukup signifikan bagi warga sekitar kawasan makam. Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami peningkatan transaksi dibandingkan hari-hari biasa, terutama pada sektor kuliner dan kebutuhan jamaah.
Sekretaris MWCNU Balubur Limbangan, Ajengan Ali Lukman, menilai tingginya partisipasi jamaah menunjukkan kuatnya ikatan organisasi dan kesadaran kolektif warga Nahdliyin dalam menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut menjadi modal sosial penting bagi NU untuk terus menjalankan program-program keumatan di bidang keagamaan, pendidikan, maupun pemberdayaan masyarakat.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin KH Rd Tatang Nahrowi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Mahfudz Wates. Ribuan jamaah tampak khusyuk memanjatkan doa untuk para ulama, keselamatan bangsa, serta keberlangsungan perjuangan Nahdlatul Ulama di tengah perubahan zaman.
Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, tradisi ziarah yang tetap dijaga warga Nahdliyin Limbangan menjadi bukti bahwa sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan masih menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat. Dari kawasan perbukitan Ciwangi, pesan penghormatan kepada para pendahulu kembali diteguhkan: membangun masa depan harus berakar pada sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan para ulama.***



Tinggalkan Balasan