GUGAH – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sukaresmi menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemandirian organisasi dan pelayanan kepada umat melalui penyelenggaraan Konferensi MWC yang digelar di Kompleks Kantor MWCNU Sukaresmi, Kamis (25/6/2026).
Forum permusyawaratan tertinggi NU di tingkat kecamatan tersebut tidak hanya menjadi agenda lima tahunan untuk memilih kepengurusan baru, tetapi juga menjadi momentum evaluasi perjalanan organisasi, penyampaian laporan pertanggungjawaban kepemimpinan, serta perumusan arah gerakan NU Sukaresmi untuk lima tahun ke depan.
Mengusung tema “Meneguhkan Harokah dalam Membangun Kemandirian Umat yang Sejahtera”, kegiatan dihadiri jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut, badan otonom, lembaga-lembaga NU, pengurus ranting dan anak ranting, tokoh masyarakat, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sukaresmi.
Dalam sidang laporan pertanggungjawaban, Ketua Tanfidziyah MWCNU Sukaresmi masa khidmat 2021–2026, KH A. Auf MF, memaparkan sejumlah capaian organisasi selama masa kepemimpinannya. Salah satu capaian yang mendapat perhatian peserta konferensi adalah keberhasilan menghadirkan kendaraan operasional roda empat yang diperuntukkan bagi pelayanan sosial dan kemanusiaan warga Nahdliyin.
Menurutnya, kendaraan tersebut diperoleh melalui ikhtiar organisasi dan dukungan warga NU sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian kelembagaan. Selama tiga bulan terakhir, kendaraan tersebut telah beroperasi selama 24 jam untuk membantu berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pelayanan sosial hingga kebutuhan kedaruratan.
“Kami ingin NU hadir bukan hanya dalam forum keagamaan, tetapi juga dalam pelayanan nyata yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Kendaraan operasional ini adalah salah satu bentuk khidmat organisasi kepada umat,” ujarnya di hadapan peserta konferensi.
Selain itu, KH A. Auf juga memaparkan berbagai program yang telah dijalankan selama satu periode kepengurusan, mulai dari penguatan gerakan Koin NU, rapat rutin organisasi, pengajian bulanan, kaderisasi badan otonom, penguatan kelembagaan, hingga penataan struktur kepengurusan sampai tingkat anak ranting.
Menurutnya, konsolidasi organisasi hingga lapisan paling bawah menjadi langkah strategis untuk memastikan program-program NU dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, efektif, dan berkelanjutan.
Konferensi MWC juga menjadi ruang refleksi terhadap peran NU di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan keagamaan yang berkembang di masyarakat. Dalam pandangan umum peserta sidang, kemandirian organisasi dinilai menjadi fondasi penting agar NU tetap mampu menjalankan fungsi pelayanan, pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat secara optimal.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Garut, KH Atjeng Abdul Wahid, yang hadir dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya menjaga kesinambungan gerakan organisasi melalui kaderisasi dan penguatan tata kelola kelembagaan. Menurutnya, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman melalui program-program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Rangkaian konferensi dipandu jajaran Bidang Organisasi PCNU Garut, yakni Wakil Ketua Bidang Organisasi Deni Rangga Jaya dan Sekretaris Bidang Organisasi AJ Mamad. Seluruh tahapan persidangan berlangsung dinamis dan kondusif, mulai dari pembahasan tata tertib, laporan pertanggungjawaban, rekomendasi organisasi, hingga proses pemilihan kepemimpinan baru.
Melalui mekanisme musyawarah dan tahapan persidangan yang telah ditetapkan organisasi, forum akhirnya menetapkan KH A. Auf MF sebagai Rais Syuriyah MWCNU Sukaresmi dan Asep Abdulloh sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Sukaresmi masa khidmat 2026–2031.
Terpilihnya kepemimpinan baru tersebut menandai dimulainya babak baru perjalanan organisasi. Tantangan yang dihadapi ke depan tidak hanya berkaitan dengan penguatan kelembagaan, tetapi juga bagaimana NU semakin berperan dalam bidang pendidikan, sosial-keagamaan, ekonomi umat, dan pelayanan kemasyarakatan yang menjadi kebutuhan warga Nahdliyin.
Melalui Konferensi MWC ini, MWCNU Sukaresmi menegaskan bahwa penguatan struktur organisasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada umat. Dengan fondasi kelembagaan yang semakin kuat serta kepemimpinan baru yang telah terbentuk, NU Sukaresmi diharapkan mampu terus menjadi penggerak pembangunan sosial-keagamaan di tingkat akar rumput sekaligus memperkokoh peran Nahdlatul Ulama dalam mewujudkan kemaslahatan masyarakat.***



Tinggalkan Balasan