GUGAH – Perkembangan teknologi informasi dan perubahan pola pergaulan generasi muda menghadirkan berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks di Kota Bekasi. Salah satu isu yang belakangan menjadi perhatian sejumlah elemen masyarakat adalah fenomena LGBT yang disebut mengalami peningkatan berdasarkan hasil pendataan dan kajian yang dilakukan oleh beberapa lembaga di Kota Bekasi.
Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat langkah-langkah preventif melalui pendidikan, pembinaan karakter, penguatan ketahanan keluarga, serta pendampingan generasi muda secara berkelanjutan. Upaya tersebut dinilai penting untuk membangun lingkungan yang sehat dan mendukung tumbuh kembang pelajar di tengah derasnya arus informasi digital.
Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Bekasi, Yusup Kurniawan, menegaskan bahwa pendekatan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial harus dilakukan melalui jalur edukatif dan pembinaan yang menyentuh akar persoalan. Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidak hanya berkaitan dengan pergaulan bebas, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lemahnya ketahanan keluarga, tekanan ekonomi, krisis identitas, minimnya literasi digital, serta kurangnya ruang pembinaan yang positif bagi pelajar dan remaja.
“Kami memandang tantangan yang dihadapi pelajar saat ini semakin kompleks. Karena itu, penguatan karakter, literasi digital, dan pembinaan keagamaan harus berjalan beriringan agar generasi muda memiliki ketahanan moral yang kuat dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif di era digital,” ujar Yusup.
Sebagai organisasi kaderisasi pelajar, IPNU Kota Bekasi berkomitmen untuk terus memperkuat pembinaan generasi muda melalui berbagai program pengkaderan, kajian keislaman, pelatihan kepemimpinan, literasi digital, serta penguatan karakter. Program-program tersebut diharapkan mampu membentuk pelajar yang berakhlakul karimah, memiliki wawasan kebangsaan, serta ketahanan moral yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
Dalam menjalankan program pembinaan tersebut, IPNU Kota Bekasi juga membangun sinergi dengan berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Kota Bekasi, Kementerian Agama Kota Bekasi, Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bekasi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, Polres Metro Bekasi Kota, PCNU Kota Bekasi, lembaga pendidikan, pondok pesantren, serta berbagai organisasi kepemudaan lainnya.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat program edukasi, sosialisasi nilai-nilai keagamaan, penguatan karakter, serta pendampingan psikososial bagi kalangan pelajar. Melalui pendekatan yang melibatkan berbagai unsur, pembinaan generasi muda diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Yusup menilai bahwa penguatan pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, organisasi kepelajaran, hingga masyarakat. Oleh karena itu, IPNU Kota Bekasi terus mendorong lahirnya gerakan pelajar yang aktif, kreatif, inovatif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital.
“IPNU Kota Bekasi berkomitmen menjadi ruang pembinaan yang positif bagi pelajar. Kami ingin menghadirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral, spiritual, sosial, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya,” tambahnya.
Melalui program kaderisasi yang berkelanjutan dan dukungan berbagai pihak, IPNU Kota Bekasi optimistis dapat berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Dengan semangat kolaborasi dan pembinaan yang berkesinambungan, pelajar diharapkan tidak hanya mampu menghadapi berbagai pengaruh negatif, tetapi juga berperan aktif dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis, religius, dan berdaya saing. ***



Tinggalkan Balasan