53 Ribu Warga dari 74 Desa di Ciamis Kekurangan Air Bersih

|

GUGAH – Krisis air bersih di Kabupaten Ciamis kian meluas seiring kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino dan perubahan iklim. Ribuan sumur warga mengering, sementara kebutuhan air bersih terus meningkat. Di tengah kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis mengintensifkan distribusi air bersih ke wilayah-wilayah terdampak.

Hingga awal Oktober 2026, BPBD mencatat sebanyak 18.861 kepala keluarga (KK) atau sekitar 53.001 jiwa di 74 desa yang tersebar di 24 kecamatan bergantung pada bantuan pasokan air bersih.

Data tersebut menunjukkan bahwa kekeringan tidak lagi menjadi persoalan musiman di beberapa titik, tetapi telah berkembang menjadi tantangan serius yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, terutama di wilayah dataran tinggi yang selama ini mengandalkan sumur sebagai sumber air utama.

Baca Juga:  Dari Lahan Sepi ke Kebun Kakao, Ansor Ciamis Menanam Asa Kemandirian Ekonomi

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, mengatakan, kekeringan tahun ini telah berdampak pada 167 dusun. Karena itu, distribusi air bersih dilakukan secara gratis dan akan terus berlanjut hingga kondisi kembali normal.

“Petugas BPBD berupaya memasok air bersih ke berbagai pelosok. Langkah ini dilakukan agar warga tidak terbebani dan tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup meski kondisi air sumur menyusut,” ujar Ani Supiani, Rabu (7/10/2026).

Menurut Ani, pendistribusian air dilakukan dari siang hingga malam hari agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Air tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan pokok seperti memasak, minum, mandi, hingga berwudu.

Di sisi lain, dampak kemarau panjang juga mulai merambah sektor pertanian. Lahan yang mengeras akibat minimnya curah hujan menyebabkan banyak petani kesulitan mengolah sawah dan kebun, bahkan sebagian mengalami gagal tanam.

Baca Juga:  Kunjungi Pelatihan Barista di Paskopi, Disnakertrans Bidik Peserta Langsung Kerja

Tak hanya memicu krisis air, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BPBD Ciamis mencatat sepanjang musim kemarau telah terjadi 51 kejadian kebakaran di 50 dusun yang tersebar di 44 desa pada 19 kecamatan.

Luas lahan yang terbakar mencapai 81,389 hektare, meliputi kawasan hutan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA), hingga Tempat Pemakaman Umum (TPU). Meski demikian, seluruh titik api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.

Melihat kondisi tersebut, BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak hanya bijak menggunakan air, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran yang masih tinggi selama musim kemarau berlangsung.

Baca Juga:  Pagar Nusa Purwakarta Meneguhkan Khittah, Keluar dari Aliansi Kiansantang

“Kami mengimbau warga agar menghemat penggunaan air bersih. Selain itu, kami terus mengedukasi masyarakat agar tidak membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan, karena ilalang kering di hutan dan lahan sangat mudah terbakar saat kemarau,” pungkas Ani.

Dengan curah hujan yang belum turun secara merata, distribusi air bersih diperkirakan masih akan menjadi kebutuhan mendesak bagi ribuan warga Ciamis dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya penguatan sistem penyediaan air baku dan mitigasi bencana kekeringan sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim yang kian nyata.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran