GUGAH – Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan mengenai melonjaknya mata uang Dollar Amerika Serikat yang menekan berbagai lini ekonomi, sebuah aroma manis nan legit menyeruak dari sudut Kota Tasikmalaya. Seolah mengabaikan kecemasan pasar global, buah tropis eksotis asli Nusantara justru sedang merayakan momentum emasnya.
Di sepanjang Jalan AH. Nasution, Cipari, Mangkubumi, sebuah pemandangan kontras terlihat jelas. Di saat daya beli terhadap barang-barang impor mulai goyah, masyarakat justru berbondong-bondong merapatkan kendaraan mereka ke sebuah gerai bertajuk “Hasil Tani Durian Lokal”. Di sanalah berkah ekonomi mengalir deras bagi para petani desa.
Adalah Saepul Aziz (35), sosok pemuda visioner di balik gerai yang sedang viral tersebut. Alih-alih ikut mengeluh dengan kondisi makro ekonomi, Saepul justru melihat peluang emas untuk mengangkat harkat buah lokal asli Tasikmalaya.
Kios yang baru resmi dibuka pada 4 Juni 2026 lalu ini langsung menyita perhatian publik berkat sebuah keberanian bisnis yang tak lazim: Garansi rasa mutlak. “Bagi kami, kepuasan pelanggan adalah prioritas paling utama, bukan sekadar mengejar kuantitas atau angka penjualan. Jika durian yang dibuka ternyata tidak lezat, jangan dibeli. Uang kembali, jangan dibayar,” ujar Saepul dengan penuh keyakinan.
Strategi “jujur dan adil” ini bak magnet yang menyedot antusiasme warga. Dengan “Hasil Tani Durian Lokal Tasik Masak Di Pohon”, Saepul menjamin bahwa setiap buah yang ia jajakan adalah hasil matang alami di dahan, bukan hasil peraman atau karbitan. Harganya pun sangat membumi dan bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung pada ukuran dan kelas kualitasnya.
Hasilnya? Luar biasa. Baru beroperasi hitungan hari, kios Saepul telah mencatatkan omzet impresif dengan penjualan rata-rata mencapai 70 butir durian per hari.
Keberhasilan Saepul bukan sekadar keberhasilan pribadi, melainkan sebuah rantai keberkahan yang menyentuh para petani di tingkat akar rumput. Seluruh durian yang dijual didapatkan langsung dari lahan milik pribadinya serta hasil kolaborasi dengan jaringan petani durian di pelosok desa-desa Tasikmalaya.
Menariknya, ledakan penjualan yang terjadi saat ini baru merupakan “pemanasan”. Pasokan Saat Ini: Baru sekitar 25% dari total durian di kebun yang berhasil dipasarkan Cadangan Melimpah: Masih tersisa 75% durian lokal berkualitas tinggi di pohon yang saat ini sedang memasuki proses panen dan tahap kurasi ketat untuk memastikan kelayakannya sebelum disuguhkan kepada konsumen.
Di gerai ini, Saepul juga menyediakan area khusus yang nyaman. Para pencinta durian bisa langsung duduk santai, membelah buah yang masih segar, dan menikmati hasil jerih payah para petani desa secara langsung di tempat (dine-in).
Kelezatan durian lokal racikan Saepul kini telah melintasi berbagai sekat sosial, memikat lidah masyarakat awam hingga kaum intelektual daerah. Salah satu pelanggan setianya adalah H. Abdul Wahid (55), seorang Kepala SMA ternama di Tasikmalaya.
Bagi Abdul Wahid, kehadiran kios durian lokal ini adalah momen yang selalu ia tunggu-tunggu setiap musimnya.
“Kualitas yang dihasilkan oleh para petani kita di desa itu sangat terpercaya. Kelezatannya luar biasa dan konsisten. Saya selalu menyempatkan membeli dari Kang Saepul, bukan hanya untuk dinikmati bersama keluarga di rumah, tetapi juga sering saya jadikan oleh-oleh premium untuk rekan-rekan kerja saya,” ungkap H. Abdul Wahid dengan raut wajah puas.
Di akhir cerita, fenomena melesatnya penjualan durian lokal di tengah naiknya mata uang asing ini memberikan kita sebuah pelajaran berharga: Bahwa ketika badai ekonomi global menerpa, ketahanan pangan, kejujuran dalam berbisnis, dan kecintaan pada produk lokal adalah benteng pertahanan terbaik yang mampu membawa keberkahan nyata bagi bumi pertiwi.*



Tinggalkan Balasan