GUGAH – Perjalanan Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali tidak dapat dipisahkan dari sejarah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi induknya. Jejak NU di Pulau Dewata bahkan telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka.
Berdasarkan daftar hadir Muktamar NU ke-IX yang diselenggarakan di Banyuwangi pada 23–24 April 1934, tercatat dua utusan dari Bali menghadiri forum tertinggi organisasi tersebut. Menurut penuturan para sesepuh di Jembrana, sebelum muktamar berlangsung, KH Abdul Wahab Chasbullah—salah satu pendiri NU—sempat datang langsung ke Jembrana untuk memperkenalkan NU sekaligus mengajak tokoh-tokoh Muslim Bali mengikuti muktamar di Banyuwangi yang secara geografis berdekatan dengan wilayah tersebut.
Salah satu keputusan penting Muktamar Banyuwangi adalah disetujuinya pembentukan wadah kepemudaan NU yang diberi nama Ansor Nahdlatul Oelama (ANO), yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Pemuda Ansor.
Sejak saat itu, NU semakin dikenal di kalangan masyarakat Muslim Bali. Pengaruhnya terlihat dari semakin banyaknya pelajar Muslim Bali yang menempuh pendidikan keagamaan di Jawa. Jika sebelumnya banyak yang belajar ke Lombok, sejak pertengahan 1930-an mereka mulai berbondong-bondong mondok ke pesantren-pesantren besar di Jawa.
Salah satunya adalah Affandi, pemuda asal Desa Pegayaman, Buleleng, yang pada 1935 menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Catatan ini termuat dalam skripsi Wayan Suardika dari Universitas Udayana berjudul Perkembangan Nahdlatul Ulama di Bali (1988).
Gelombang santri Bali yang belajar di Jawa terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya. Pada 1954, misalnya, Ahmad Damanhuri asal Loloan, Jembrana, berangkat ke Pondok Pesantren Tambakberas Jombang dan belajar langsung di bawah asuhan KH Abdul Wahab Chasbullah. Kelak, Damanhuri menjadi Ketua PC GP Ansor Jembrana pada 1963 dan memainkan peran penting dalam dinamika sosial-politik Bali pada masa 1965–1966.
Peran Penting GP Ansor di Bali
1. Terlibat dalam Perjuangan Kemerdekaan
Peran pertama GP Ansor tampak dalam masa revolusi mempertahankan kemerdekaan. Pemuda-pemuda NU turut bergabung bersama berbagai elemen masyarakat Bali dalam menghadapi upaya Belanda kembali menguasai Indonesia pasca-Proklamasi 1945.
Tradisi perjuangan lintas agama sebenarnya bukan hal baru di Bali. Sejak era kerajaan, komunitas Muslim telah lama terlibat dalam pasukan kerajaan yang dipimpin raja-raja Hindu. Semangat kebangsaan yang ditanamkan NU semakin memperkuat keterlibatan pemuda Muslim dalam perjuangan mempertahankan tanah air.
Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan melalui keberadaan sejumlah makam pejuang Muslim di berbagai Taman Makam Pahlawan di Bali.
2. Menghadapi Masa Kelam 1965–1966
Peran kedua muncul dalam periode paling turbulen dalam sejarah Indonesia, yakni pasca-peristiwa 1965. Di Bali, masa tersebut dikenal sebagai era Gestok, ketika konflik ideologi politik menelan korban dalam jumlah besar.
Sejarawan Soe Hok Gie mencatat sedikitnya 80 ribu orang menjadi korban dalam konflik yang merembet ke Bali. Dalam situasi penuh ketegangan itu, GP Ansor terlibat dalam berbagai dinamika sosial dan keamanan yang terjadi di lapangan.
Konflik terbuka antara GP Ansor dan kelompok yang berafiliasi dengan PKI tercatat dalam sejumlah pemberitaan media masa itu. Harian Suara Indonesia edisi 15 November 1965 melaporkan bentrokan di Gerokgak, Buleleng, yang mengakibatkan korban jiwa dari berbagai kelompok.
Bentrok serupa juga terjadi di Tegalbadeng, Jembrana, pada 30 November 1965. Situasi yang tidak menentu menyebabkan masyarakat hidup dalam ketakutan, sementara tuduhan keterlibatan dengan PKI dapat berujung pada ancaman keselamatan jiwa.
Di tengah kondisi tersebut, banyak tokoh Ansor berupaya melakukan pendekatan yang lebih hati-hati. Dalam berbagai kesaksian yang berkembang di masyarakat, kartu tanda anggota Ansor bahkan kerap dijadikan bukti bahwa seseorang tidak terafiliasi dengan PKI. Banyak warga meminta perlindungan kepada tokoh-tokoh Ansor agar terhindar dari salah sasaran dalam gelombang konflik yang terjadi saat itu.
Selain itu, kader Ansor bersama unsur pemuda lainnya aktif melakukan ronda malam dan menjaga keamanan lingkungan demi memberikan rasa aman kepada masyarakat.
3. Menjadi Jembatan Keharmonisan Pasca Bom Bali
Peran ketiga yang sangat penting adalah menjadi jembatan keharmonisan antarumat beragama, khususnya setelah tragedi Bom Bali 2002.
Peristiwa tersebut tidak hanya menghancurkan kawasan wisata Legian dan Kuta, tetapi juga sempat mengguncang hubungan harmonis yang selama ratusan tahun terjalin antara komunitas Hindu dan Muslim di Bali.
Sebagai organisasi yang menjunjung Islam moderat dan toleran, GP Ansor Bali bersama NU aktif membangun dialog, memperkuat komunikasi lintas agama, serta berkoordinasi dengan aparat keamanan dalam memetakan potensi penyebaran paham keagamaan radikal yang bertentangan dengan nilai kebangsaan dan keberagaman.
Salah satu simbol nyata dari upaya tersebut adalah kerja sama antara Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan Pecalang dalam berbagai kegiatan keagamaan. Pemandangan Banser membantu pengamanan kegiatan umat Hindu, atau sebaliknya Pecalang hadir dalam kegiatan umat Islam, menjadi simbol kuat bahwa harmoni dapat dijaga melalui kerja sama dan saling menghormati.
Kedekatan antara Banser dan Pecalang tidak hanya memiliki makna simbolik, tetapi juga menjadi pesan bahwa identitas keagamaan yang berbeda bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.
Menatap Masa Depan
Memasuki era modern, GP Ansor Bali tidak lagi hanya berkutat pada isu keagamaan dan kebangsaan. Organisasi ini terus memperluas peran sosialnya melalui berbagai program kemasyarakatan, mulai dari advokasi hukum bagi kelompok rentan, pemberdayaan ekonomi umat, pelestarian lingkungan, hingga penguatan literasi kebangsaan bagi generasi muda.
Dari medan perjuangan kemerdekaan, melewati masa-masa sulit konflik ideologi, hingga menjadi penjaga keharmonisan di tengah masyarakat multikultural, perjalanan GP Ansor di Bali menunjukkan satu hal penting: organisasi kepemudaan tidak hanya hadir untuk kadernya sendiri, tetapi juga untuk menjaga persatuan, merawat kebangsaan, dan memastikan keberagaman tetap menjadi kekuatan Indonesia.***



Tinggalkan Balasan