KH Anhar Haryadi: Pesantren Jangan Berubah Menjadi Sekadar Panggung Pertunjukan

|

GUGAH – Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ulum Wanayasa, KH Anhar Haryadi, mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam dunia pesantren bukanlah mendirikan lembaga pendidikan, melainkan membentuk karakter dan keteladanan manusia di dalamnya.

Menurutnya, membangun pesantren secara fisik relatif mudah dilakukan selama tersedia modal dan sarana yang memadai. Namun, pendidikan yang sesungguhnya tidak lahir dari bangunan megah atau fasilitas yang lengkap, melainkan dari keteladanan para pendidik.

“Mendirikan pesantren ternyata tidak selalu sulit. Yang sulit adalah mendidik manusia,” ujar KH Anhar dalam catatannya yang diterima, Senin (8/6/2026).

Ia menilai, banyak orang mampu membangun lembaga pendidikan, tetapi belum tentu mampu membangun kualitas dirinya sendiri. Akibatnya, nilai-nilai yang diajarkan sering kali tidak sejalan dengan perilaku yang ditampilkan sehari-hari.

Baca Juga:  KPK Turun Gunung, Disdik Purwakarta Perketat Pengawasan SPMB 2026

“Ada yang pandai berbicara tentang akhlak, tetapi mudah marah ketika dikritik. Ada yang sering mengajarkan keikhlasan, tetapi sibuk menghitung pujian. Ada yang mengajak orang hidup sederhana, sementara dirinya berlomba tampil paling mewah,” katanya.

KH Anhar menegaskan, kondisi tersebut berpotensi membuat pesantren kehilangan ruh pendidikannya. Santri lebih banyak menyaksikan pencitraan dibanding keteladanan nyata dari para pendidik.

“Maka yang tumbuh bukan pendidikan, melainkan pertunjukan,” tegasnya.

Menurutnya, para santri tidak hanya belajar dari materi pelajaran atau ceramah yang disampaikan guru. Mereka juga belajar dari sikap, perilaku, dan cara hidup para pendidik yang mereka lihat setiap hari.

“Santri akhirnya lebih sering melihat panggung daripada teladan. Mereka mendengar nasihat tentang kejujuran, tetapi menyaksikan praktik yang berbeda. Mereka diajari rendah hati, tetapi setiap hari melihat kesombongan dipoles menjadi karisma,” ujarnya.

Baca Juga:  KAI Jamin Masa Depan Pendidikan Anak Korban Insiden Bekasi Timur Melalui Program Asuransi Khusus

KH Anhar mengingatkan bahwa pesantren-pesantren besar di Indonesia tumbuh bukan karena kemegahan bangunan, melainkan karena kewibawaan moral para kiai dan pengasuhnya.

“Orang datang bukan karena gerbangnya tinggi, melainkan karena akhlaknya tinggi. Bukan karena spanduknya besar, tetapi karena ilmunya besar,” katanya.

Ia menilai, satu contoh nyata jauh lebih efektif dibandingkan ribuan nasihat yang disampaikan secara lisan.

“Murid tidak hanya belajar dari apa yang didengar. Mereka belajar dari apa yang dilihat. Satu contoh nyata lebih kuat daripada seribu ceramah,” ucapnya.

Karena itu, KH Anhar menegaskan bahwa ujian terbesar seorang pendidik bukanlah kemampuan berbicara di depan banyak orang, melainkan kemampuan menjaga integritas dan akhlaknya ketika tidak ada yang melihat.

Baca Juga:  Gus Yahya dan Kiai Imjaz Duduk Semeja di Cirebon, Sinyal Poros Baru Guncang Bursa Muktamar NU

“Tantangan terbesar seorang pendidik bukan bagaimana tampil meyakinkan di depan orang banyak. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana tetap menjadi orang baik ketika tidak ada yang melihat,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat mungkin bisa terpesona oleh penampilan dan popularitas seseorang. Namun pendidikan yang sejati hanya akan lahir dari keteladanan yang konsisten.

“Orang bisa menghafal kata-kata seorang guru. Namun yang paling lama tinggal dalam ingatan adalah cara hidupnya. Jika hidupnya tidak menjadi pelajaran, maka yang tersisa hanyalah panggung yang ramai tanpa pendidikan yang benar-benar terjadi,” pungkasnya.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran