GUGAH – Pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi sorotan para ekonom. Pengamat ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, memperkirakan rupiah berpotensi menembus level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Juni 2026 jika tren pelemahan terus berlanjut.
“Saya hitung kalau pelemahannya per hari itu 0,5 persen, maka kita pada akhir Juni itu bisa tembus Rp20.000 per dolar,” kata Bhima di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Pada penutupan perdagangan pekan lalu, rupiah tercatat menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Menurut Bhima, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan dan pasar modal, tetapi juga akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga barang impor, bahan baku industri, dan biaya hidup.
Ia mengaku menerima banyak keluhan dari pelaku industri, terutama sektor manufaktur dan otomotif. Sejumlah perusahaan mulai menghadapi kenaikan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.
“Kalau kurs terus melemah, banyak perusahaan bisa kolaps atau paling tidak mempersiapkan PHK massal karena biaya produksi meningkat,” ujarnya.
Bhima menilai pemerintah perlu mengakui tekanan ekonomi yang sedang terjadi dan tidak meremehkan dampaknya terhadap masyarakat. Menurutnya, Indonesia tetap rentan terhadap gejolak ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Ia juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas. Kondisi tersebut dinilai dapat menambah tekanan terhadap APBN apabila tidak didukung sumber pembiayaan yang kuat dan berkelanjutan.
Menurut Bhima, pasar tidak hanya menilai besarnya program pemerintah, tetapi juga kemampuan negara membiayai program tersebut secara berkelanjutan. Keraguan terhadap kondisi fiskal dapat memicu pelemahan rupiah lebih dalam, meningkatkan biaya utang, dan mengurangi minat investasi.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat penciptaan lapangan kerja berkualitas, memperluas perlindungan sosial, serta menjaga daya beli masyarakat. Sektor manufaktur dan industri pengolahan dinilai masih menjadi penopang utama penciptaan lapangan kerja produktif.
Bhima juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal nasional.
Kalau orang bertanya bagaimana bisa percaya pada rupiah dan membangun pabrik di Indonesia, maka yang harus diperbaiki adalah kebijakan fiskalnya. Kuncinya ada pada trust.
Menurutnya, pemulihan kepercayaan pasar harus dimulai melalui evaluasi program-program yang dinilai bermasalah serta perbaikan tata kelola kebijakan ekonomi. Masuknya investasi baru akan menjadi faktor penting untuk memperkuat industri, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Rupiah Diproyeksi Sentuh Rp19.000
Sementara itu, pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak menuju level Rp19.000 per dolar AS hingga akhir Juni 2026.
Ia menilai meningkatnya ketegangan geopolitik global dan potensi kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dalam sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi rupiah bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS.
“Kalau gejolak geopolitik ini masih akan terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, di akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar 99,99 persen akan di Rp19.000,” katanya.
Menurut Ibrahim, konflik yang memanas di Timur Tengah turut mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang masih kuat memperbesar peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun.
“Data tenaga kerja yang dirilis lebih baik dan ini membuat Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi dan akan menaikkan suku bunga di kuartal keempat sebesar 25 basis poin,” jelasnya.
Ibrahim menambahkan, penguatan dolar AS akan terus memberi tekanan terhadap rupiah. Kondisi tersebut juga membuat harga emas dalam negeri tetap bertahan tinggi.
Ketahanan melemahnya logam mulia tertahan oleh pelemahan mata uang rupiah sehingga kalau rupiahnya tidak melemah, kemungkinan sudah di bawah Rp2,5 juta per gram
Di sisi lain, ia melihat sebagian masyarakat mulai mengalihkan dananya ke dolar AS karena memperkirakan mata uang Negeri Paman Sam itu masih akan menguat dalam jangka pendek.
“Masyarakat Indonesia sekarang fokus terhadap dolar karena ada kemungkinan besar sampai akhir bulan ini ke Rp19.000,” ucapnya.
“Ini membuat masyarakat mengalihkan dananya dari tabungan konvensional maupun logam mulia ke dolar Amerika yang menurut mereka akan menguntungkan secara jangka pendek,” pungkas Ibrahim.***



Tinggalkan Balasan