Workshop Pesantren Hadirkan Ketum PBNU, Dinilai Jadi Momentum Konsolidasi Jelang Muktamar NU?

|

GUGAH – Kehadiran Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dalam Workshop Pengelolaan Pesantren yang digelar Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (Bima) Cirebon menjadi sorotan sejumlah kalangan. Selain membahas penguatan tata kelola pesantren, kegiatan tersebut dinilai memiliki dimensi strategis dalam dinamika internal Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar NU mendatang.

Workshop yang digagas Pengasuh Ponpes Bima 2, KH Imam Jazuli atau yang akrab disapa Kiai Imjaz, diikuti para pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat. Gus Yahya hadir sebagai pembicara utama dalam kegiatan tersebut.

Sekretaris PCNU Subang, Uung Mashuri, menegaskan bahwa agenda tersebut merupakan kegiatan murni pesantren yang berfokus pada penguatan manajemen dan pengelolaan lembaga pendidikan Islam.

“Itu murni acara pondok pesantren. Kiai Imjaz mengundang para pengasuh pesantren untuk mengikuti workshop pengelolaan pesantren. Kebetulan Ketum PBNU sedang berada di Jawa Barat sehingga diundang menjadi keynote speaker,” ujarnya saat dihubungi awak media pada Sabtu (6/6).

Baca Juga:  Gus Yahya Hadir di Workshop Pesantren, Isyarat Politik Muktamar Mulai Terbaca?

Menurutnya, workshop tersebut merupakan gelombang keempat yang digelar untuk wilayah Jawa Barat. Kegiatan itu melibatkan perwakilan pesantren dari sekitar 10 kabupaten dan dihadiri langsung para pengasuh pesantren tanpa dapat diwakilkan.

Meski dikemas sebagai forum penguatan kapasitas pesantren, kehadiran sejumlah tokoh PBNU dan para pimpinan cabang NU dari berbagai daerah turut memunculkan penilaian bahwa kegiatan tersebut juga menjadi ruang konsolidasi organisasi menjelang agenda-agenda besar NU.

Uung Mashuri menegaskan tidak ada agenda lain di luar kegiatan workshop pengelolaan pesantren yang diselenggarakan Ponpes Bina Insan Mulia.

“Iya, tidak ada acara lain. Kebetulan Ketum PBNU menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan itu,” ujar Uung.

Menurutnya, kehadiran Gus Yahya semata-mata untuk memberikan materi dan pandangan terkait pengelolaan pesantren serta penguatan peran pesantren di tengah masyarakat.

“Jadi narasumber utamanya sih apa. Kiai Imjaz. Heeh. Nah, mengundang Ketum untuk keynote speaker, kayak gitulah. Kurang lebih kayak gitu,” ungkap dia.

“Iya, tidak lebih dari itu. Yang saya tahu, kebetulan posisi Ketum PBNU sedang berada di Jawa Barat. Katanya ada agenda juga di Garut. Sementara workshop ini sendiri sudah lama dirancang oleh pihak pesantren,” ujar Uung.

Baca Juga:  Negara Jangan Berlindung di Balik Frasa ‘Sesuai Kemampuan Keuangan’: Pesantren Bukan Beban, Tapi Pilar Bangsa

Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian workshop yang dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan pengasuh pesantren dari berbagai daerah.

“Pesertanya diundang secara bergelombang. Kebetulan untuk kegiatan kali ini pesertanya berasal dari sekitar 10 kabupaten. Beberapa pondok pesantren dari 10 kabupaten itu hadir, dan pihak pondok juga mengundang para ketua PCNU di daerah-daerah tersebut,” katanya.

Uung kembali menegaskan bahwa kehadiran Gus Yahya dalam kegiatan tersebut merupakan kapasitasnya sebagai salah satu narasumber workshop, bukan dalam agenda lain di luar kegiatan pesantren.

“Tidak ada acara lain. Kebetulan Ketum PBNU menjadi salah satu narasumber dalam workshop itu,” tegasnya.

Selain Gus Yahya, sejumlah pengurus PBNU lainnya turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kiai Masyhuri Malik. Sementara rangkaian workshop serupa disebut akan berlanjut ke wilayah Banten dan Jawa Timur.

Baca Juga:  Gus Yahya Tegaskan Tambang NU untuk Umat, PBNU Siapkan Audit dan Reformasi Tata Kelola

Menanggapi dinamika menjelang Muktamar NU, Uung menegaskan bahwa seluruh materi dan arah pembahasan organisasi akan terlebih dahulu dibahas melalui forum resmi, seperti Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU.

“Muktamar nanti tentu didahului Munas dan Konbes. Materi-materi yang akan dibahas di muktamar digodok terlebih dahulu melalui forum-forum tersebut,” katanya.

Ia berharap seluruh proses yang berlangsung menjelang muktamar dapat berjalan kondusif dan menghasilkan keputusan terbaik bagi organisasi.

“Harapan kita, apa pun hasilnya nanti dapat membawa kemaslahatan bagi jam’iyah dan jemaah Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

Sejumlah pengamat internal NU menilai intensitas pertemuan antara pengurus PBNU, pimpinan pesantren, dan pengurus cabang di berbagai daerah menjelang muktamar merupakan hal yang lumrah dalam organisasi. Selain menjadi sarana penguatan program, forum-forum semacam itu juga kerap menjadi ruang komunikasi politik organisasi untuk menyerap aspirasi dari akar rumput Nahdliyin.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran