Mengingat Kembali Peringatan Faisal Basri, Rupiah Sudah Tembus Rp18.000

|

GUGAH – Indonesia perlu bersiap menghadapi tantangan multidimensi yang berpotensi mengguncang stabilitas nasional dalam beberapa waktu ke depan.

Ekonom senior, Faisal Basri, sekira dua tahun yang lalu telah melemparkan peringatan dini mengenai potensi terjadinya krisis besar yang dipicu oleh kombinasi rapuhnya ketahanan fiskal negara serta memanasnya suhu politik domestik.

Dalam sebuah pemaparan yang ramai diunggah di media sosial, Faisal Basri menyoroti ancaman nyata dari pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap stabilitas anggaran belanja negara.

Menurut analisisnya, apabila mata uang Garuda terus mengalami tekanan dan menembus angka psikologis baru, dampak sistemik tidak akan lagi dapat dihindari.

Baca Juga:  Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Pengamat Desak Pemerintah Ambil Langkah Berani

“Kalau nanti Rupiahnya ke 18.000, apalagi 19.000, udah kacau semua, enggak bisa terkendali,” ujar Faisal Basri dengan nada lugas.

Faisal menekankan bahwa titik paling rawan dari pelemahan kurs ini terletak pada kemampuan finansial negara dalam menopang kebutuhan domestik.

Ketika asumsi makro merosot tajam, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipastikan tidak akan mampu lagi menyerap beban subsidi yang membengkak.

Kondisi ini diperparah dengan prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah yang dinilai sudah terlalu terkuras untuk program-program pembangunan berskala besar lainnya.

“Subsidi enggak bisa lagi dari APBN, karena dari mana lagi? Enggak ada kan, habis buat yang lain-lain,” tambahnya.

Baca Juga:  Pemerintah RI Kutuk Keras Aksi Brutal Israel Bajak Kapal GSF

Faktor pemicu krisis tidak hanya datang dari sektor keuangan.

Faisal Basri memproeksikan bahwa turbulensi ekonomi ini akan berjalan beriringan dengan pergeseran peta koalisi dan ketegangan struktural di jajaran elit pemerintahan nasional.

Secara spesifik, beliau membaca adanya potensi keretakan hubungan politik strategis pasca-pemilu 2024 yang melibatkan figur-figur kunci di lingkaran kekuasaan saat ini.

“Pada saat yang bersamaan terjadi konflik politik. Saya rasa sebentar lagi Prabowo akan meninggalkan Jokowi, Jokowi-nya kecewa, macam-macam, mulai tensions gitu-gitu,” urai Faisal menggambarkan dinamika politik yang diprediksinya akan terjadi.

Baca Juga:  Beban Bunga Utang Menghantui, Pemerintah Pasang Strategi Defensif di Lelang Sukuk Hari Ini

Kombinasi antara tekanan ekonomi makro akibat jebolnya pertahanan fiskal dan pecahnya stabilitas politik di tingkat elite dinilai menjadi sumbu utama yang dapat memicu krisis nasional yang lebih masif.

Faisal menutup pandangannya dengan memberikan estimasi linimasa kapan akumulasi dari kedua masalah besar ini akan mencapai puncaknya.

“Nah kalau politik dan ekonominya nyatu, itulah krisis itu terjadi, yang saya perkirakan paling lama 2026,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kondisi ekonomi Indonesia saat ini nilai tukar rupiah sudah mencapai Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran