GUGAH – Indonesia perlu bersiap menghadapi tantangan multidimensi yang berpotensi mengguncang stabilitas nasional dalam beberapa waktu ke depan.
Ekonom senior, Faisal Basri, sekira dua tahun yang lalu telah melemparkan peringatan dini mengenai potensi terjadinya krisis besar yang dipicu oleh kombinasi rapuhnya ketahanan fiskal negara serta memanasnya suhu politik domestik.
Dalam sebuah pemaparan yang ramai diunggah di media sosial, Faisal Basri menyoroti ancaman nyata dari pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap stabilitas anggaran belanja negara.
Menurut analisisnya, apabila mata uang Garuda terus mengalami tekanan dan menembus angka psikologis baru, dampak sistemik tidak akan lagi dapat dihindari.
“Kalau nanti Rupiahnya ke 18.000, apalagi 19.000, udah kacau semua, enggak bisa terkendali,” ujar Faisal Basri dengan nada lugas.
Faisal menekankan bahwa titik paling rawan dari pelemahan kurs ini terletak pada kemampuan finansial negara dalam menopang kebutuhan domestik.
Ketika asumsi makro merosot tajam, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipastikan tidak akan mampu lagi menyerap beban subsidi yang membengkak.
Kondisi ini diperparah dengan prioritas alokasi anggaran belanja pemerintah yang dinilai sudah terlalu terkuras untuk program-program pembangunan berskala besar lainnya.
“Subsidi enggak bisa lagi dari APBN, karena dari mana lagi? Enggak ada kan, habis buat yang lain-lain,” tambahnya.
Faktor pemicu krisis tidak hanya datang dari sektor keuangan.
Faisal Basri memproeksikan bahwa turbulensi ekonomi ini akan berjalan beriringan dengan pergeseran peta koalisi dan ketegangan struktural di jajaran elit pemerintahan nasional.
Secara spesifik, beliau membaca adanya potensi keretakan hubungan politik strategis pasca-pemilu 2024 yang melibatkan figur-figur kunci di lingkaran kekuasaan saat ini.
“Pada saat yang bersamaan terjadi konflik politik. Saya rasa sebentar lagi Prabowo akan meninggalkan Jokowi, Jokowi-nya kecewa, macam-macam, mulai tensions gitu-gitu,” urai Faisal menggambarkan dinamika politik yang diprediksinya akan terjadi.
Kombinasi antara tekanan ekonomi makro akibat jebolnya pertahanan fiskal dan pecahnya stabilitas politik di tingkat elite dinilai menjadi sumbu utama yang dapat memicu krisis nasional yang lebih masif.
Faisal menutup pandangannya dengan memberikan estimasi linimasa kapan akumulasi dari kedua masalah besar ini akan mencapai puncaknya.
“Nah kalau politik dan ekonominya nyatu, itulah krisis itu terjadi, yang saya perkirakan paling lama 2026,” pungkasnya.
Untuk diketahui, kondisi ekonomi Indonesia saat ini nilai tukar rupiah sudah mencapai Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.***



Tinggalkan Balasan