PESANTREN di tatar Sunda bukan sebatas lembaga pendidikan keagamaan, melainkan ruang kultural yang memiliki peran historis dalam menjaga kesinambungan peradaban Sunda.
Pesantren menjadi peneguh “pamageuh” jatidiri kasundaan. Keberadaan Pesantren Syekh Quro sejak awal abad ke-15 di tatar Sunda menghadirkan hubungan erat antara tradisi keilmuan Islam dan pelestarian identitas budaya lokal.
Ngaji, Ngalogat, dan Ngamumule merepresentasikan tiga pilar utama yang memperlihatkan bagaimana pesantren menjadi penjaga memori kolektif urang Sunda.
Pilar Pertama: Ngaji
Ngaji merupakan fondasi utama kehidupan pesantren. Tradisi ini bukan hanya aktivitas mempelajari kitab-kitab keislaman, tetapi juga proses internalisasi nilai-nilai spiritual, moral, dan intelektual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pilar Kedua: Ngalogat
Tradisi ngalogat kitab kuning menggunakan bahasa Sunda menunjukkan adanya proses adaptasi yang unik, di mana ilmu-ilmu keislaman klasik diterjemahkan melalui struktur bahasa lokal agar lebih mudah dipahami oleh santri.
Tradisi ngalogat menunjukkan bahwa pesantren memiliki kontribusi besar dalam menjaga eksistensi bahasa Sunda sebagai bahasa ilmu. Pesantren hadir sebagai ruang konservasi linguistik yang menjaga keberlanjutan bahasa Sunda.
Pilar Ketiga: Ngamumule
Ngamumule berarti merawat dan melestarikan warisan budaya. Pesantren telah lama menjadi ruang penerjemahan nilai-nilai kasundaan, seperti silih asah, silih asih, dan silih asuh, yang hidup dalam praktik keseharian.
Melalui ngaji, pesantren menanamkan ilmu. Melalui ngalogat, pesantren menjaga tradisi intelektual. Melalui ngamumule, pesantren memastikan budaya tetap hidup dalam denyut kehidupan generasi masa depan.
Salam: Pesantren Penopang Peradaban Sunda
Oleh: H. Dien Attasiki – Penulis adalah Pengurus PWNU Jawa Barat
Disclaimer: Artikel ini merupakan opini, bukan karya jurnalistik Gugah.co. Kolom Suara Pinggiran menjadi wadah bagi akademisi, aktivis, dan analis untuk menyuarakan gagasan bebas.




Tinggalkan Balasan