Ansor: 9 Bintang di Antara Hegemoni 9 Naga dan 9 Haji – Catatan Seorang Ansor

Secara komunikasi, Bintang – Naga – Haji, mengarah pada glorifikasi dari ketiga kata tersebut. Tujuan besarnya ialah agar masyarakat luas berselancar dalam ruang imajinasi tanpa batas.

Padahal dengan pendekatan lebih sederhana, justru 3 kata itu menjadi lebih autentik; Bintang tentang Inspirasi, Naga tentang Kekuatan, serta Haji tentang Nilai.

HAJI TENTANG NILAI

Haji merupakan rukun Islam kelima dan salah satu bentuk ibadah yang paling agung bagi umat Muslim. Setiap tahunnya, jutaan Muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Mekah untuk menunaikan ibadah ini. Selain memiliki dimensi spiritual yang dalam, haji juga menyimpan sejarah Panjang yang penuh dengan makna.

Sejarah haji dimulai dari Nabi Ibrahim hingga kini, memunculkan empat peristiwa besar yang menjadi cikal bakal peristiwa heroisme dibalik kata ‘haji’:

  1. Pertama, pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Mereka berdua membangun Ka’bah atas perintah Allah SWT sebagai pusat ibadah bagi umat manusia. Allah memerintahkan mereka untuk menyerukan haji kepada umat manusia sebagai wujud ketaatan kepada-Nya.

  2. Kedua, perjalanan Hajar mencari air di padang pasir. Istri Nabi Ibrahim, Hajar, ditinggalkan bersama putranya Ismail di Mekah yang pada saat itu merupakan daerah tandus. Ketika kehabisan air, Hajar berlari antara bukit Safa dan Marwah untuk mencari sumber air bagi anaknya. Perjuangan Hajar ini kemudian diabadikan dalam salah satu rukun haji, yaitu sa’i antara Safa dan Marwah.

  3. Ketiga, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Kisah ini mengajarkan umat Islam tentang pengorbanan dan keikhlasan. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sebagai ujian, Nabi Ibrahim dan Ismail siap melaksanakannya. Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor domba sebagai simbol ujian yang berhasil mereka lalui.

  4. Keempat, pelaksanaan haji di zaman Nabi Muhammad SAW. Setelah Rasulullah membebaskan Mekah dari kemusyrikan, beliau melaksanakan haji pada tahun ke-10 Hijriah. Haji Rasulullah ini dikenal sebagai Haji Wada, di mana beliau menyampaikan khutbah perpisahan yang penuh nasihat. Haji di masa Nabi Muhammad ini menjadi acuan pelaksanaan haji bagi umat Islam hingga kini.

Makna dan Hikmah Haji: Meraih Kedekatan dengan Allah dan Kesempurnaan Diri

Haji adalah perjalanan penuh makna yang memiliki banyak hikmah spiritual dan sosial. Setidaknya, terdapat lima peristiwa besar yang dapat menjadi barometer nilai dibalik kata ‘haji’:

  • Bukti kepatuhan dan penghambaan kepada Allah: Setiap tahapan dalam ibadah haji (tawaf, sa’i, hingga melontar jumrah) adalah wujud kepatuhan total kepada Allah SWT. Haji mengajarkan umat Islam untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada perintah-Nya, meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Hajar.

  • Pembersihan diri dan pengampunan dosa: Haji menjadi sarana bagi umat untuk memperoleh pengampunan, di mana mereka yang melaksanakannya dengan tulus kembali seperti bayi yang baru lahir. Ibadah ini adalah momen untuk introspeksi, memohon ampunan, dan memulai kehidupan dengan lembaran baru.

  • Persatuan umat Islam tanpa batas: Haji adalah momen di mana jutaan umat Islam dari seluruh dunia, tanpa memandang perbedaan budaya, ras dan bahasa, berkumpul dalam pakaian ihram yang seragam. Ini melambangkan persatuan, kesederhanaan, dan kesetaraan di hadapan Allah SWT.

  • Latihan kesabaran dan pengendalian diri: Sepanjang perjalanan haji, jamaah menghadapi berbagai tantangan fisik dan mental. Pengalaman ini mengasah kesabaran, tawakal, dan pengendalian diri—bekal penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Menghidupkan nilai pengorbanan: Melempar jumrah dan berkurban mengingatkan pada pengorbanan besar Nabi Ibrahim dan Ismail. Ini menjadi pelajaran penting tentang nilai pengorbanan dalam menjalankan perintah Allah, sekalipun itu berat bagi diri kita.

Haji adalah ibadah yang memiliki sejarah panjang dan makna yang dalam bagi setiap Muslim. Dari sejarah Nabi Ibrahim hingga pelaksanaannya di masa modern, haji selalu menjadi wujud ketundukan dan kepatuhan total kepada Allah. Bagi mereka yang menunaikannya, haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang memperkuat hubungan dengan Allah dan meningkatkan pemahaman akan makna kehidupan. Haji adalah perjalanan hidup yang penuh dengan kebajikan, kesabaran, dan ketakwaan yang akan melekat dalam diri setiap Muslim yang mengalaminya.

NAGA TENTANG KEKUATAN

Naga adalah salah satu makhluk mitologi yang dikenal oleh seluruh dunia. Cerita asal-usul naga memiliki berbagai versi yang berbeda di setiap peradaban, tetapi semua Naga diyakini memiliki kekuatan besar. Meskipun tidak ada yang tahu pasti bentuk Naga, namun makhluk ini sering digambarkan dalam bentuk ular besar yang sering dijadikan simbol kekuatan dan pertahanan.

Sejarah tentang Naga, dengan mengutip situs heritagedaily.com, pada abad ke-13, kata “Naga” pertama kali masuk dalam Bahasa Inggris, berasal dari kata Latin yaitu “Draconis” dan Yunani yaitu “Drakons”. Asal-usul Naga paling awal digambarkan dengan bentuk ular raksasa dalam seni dan sastra Mesopotamia. Guna memahami sedikit lebih terang perihal Naga, pendekatan yang dapat digunakan ialah secara mitologis. Menurut literatur umum, terdapat lima mitologi yang dikenal secara luas:

  1. Mitologi Mesir Kuno: Terdapat Apep (Apophis) yaitu ular raksasa yang berada di alam kematian atau di bawah cakrawala. Pada masa Dinasti ke-8, Apep diceritakan lahir dari tali pusar Ra. Dalam kitab Mysterius Netherworld, ditemukan gambar yang menunjukkan seekor ular atau naga memakan ekornya sendiri. Simbol ini bertahan di Mesir hingga zaman Romawi. Sedangkan dalam literatur Zoroaster dari Iran dan Persia, naga seperti Azi Dahaka sering dianggap sebagai personifikasi dosa dan keserakahan. Dalam literatur Sufi Persia, Jalal al-Din Muhammad Rumi menyatakan bahwa naga melambangkan jiwa sensual, keserakahan dan nafsu yang perlu dihilangkan.

  2. Mitologi Yunani: Diceritakan banyak pahlawan yang telah bertarung dengan naga yaitu Heracles membunuh Hydra, Jason membius naga yang tidak dapat tidur, Zeus melawan monster Typhon, dan Cadmus yang melawan Naga Ares. Cerita naga dari mitologi Yunani sering diadopsi oleh bangsa Romawi. Selama abad ke-2 Masehi, militer Romawi menggunakan draco sebagai standar militer kohort.

  3. Mitologi Asia: Dalam mitologi Cina, naga digambarkan sebagai simbol keberuntungan dan kekuatan. Naga disebut sering menemani dewa sebagai tunggangan atau pendamping. Kaisar Cina juga menggunakan naga sebagai simbol kekuatan kekaisarannya. Gambaran naga Tiongkok muncul pada Dinasti Shang (1766-1122 SM) dan Zhou (1046-256 SM), kemudian berkembang menjadi Yinglong yaitu naga bersayap. Terdapat perubahan dalam penggambaran naga, sehingga Yinglong digantikan dengan gambar Naga Kuning tanpa sayap. Naga dari Tiongkok mempengaruhi penggambaran naga di negara Asia lainnya. Naga Korea digambarkan memiliki janggut panjang dan membawa bola raksasa yang dikenal sebagai Yeouiji. Dalam mitologi Korea diceritakan bahwa naga berasal dari ular yang disebut Imugis. Ular tersebut dapat menjadi naga sejati jika berhasil menangkap Yeouiji yang jatuh dari surga. Di Filipina, terdapat Bakunawa atau ular bengkok adalah naga yang diyakini sebagai penyebab gerhana, gempa bumi, hujan dan angin. Banyak ular di Filipina dikaitkan dengan naga yang sedang menelan bulan.

  4. Mitologi Amerika: Di Amerika, terdapat legenda naga sendiri yang berbeda dengan mitologi naga lainnya. Suku Maya Yucatec diceritakan menyembah Kukulcan yaitu dewa ular Mesoamerika. Selain itu terdapat Suku Aztec yang menyembah Quetzalcoatl yaitu ular yang berharga. Dalam mitologi peradaban Andes di Amerika Selatan, terdapat ular atau naga yang dikaitkan dengan kekaisaran Tiwanaku dan Inca. Dalam mitologi Inca, Amaru adalah ular yang memiliki dua kepala dan tinggal di bawah tanah di dasar danau. Salah satu bentuk naga asli Amerika yang paling sering muncul di antara banyak suku adalah ular bertanduk, yang dikaitkan dengan air, hujan, petir, dan guntur.

  5. Mitologi Eropa: Pada abad ke-11 dan ke-13, orang Eropa menyebutkan naga sebagai makhluk hidup. Gambar tertua dari naga Eropa muncul dalam ilustrasi yang dilukis tangan dari manuskrip abad pertengahan MS Harley yang dibuat sekitar tahun 1260 M. Naga Eropa sering digambarkan sebagai monster yang rakus dengan nafsu makan besar dan tinggal di sungai atau gua bawah tanah. Naga Eropa dianggap sebagai makhluk jahat dan sering dikaitkan dengan Setan.

Baca Juga:  Kita, Tembok dan Bunga-bunga – Seri 2

Demikian asal-usul naga dari beberapa mitologi berbeda. Banyak ahli percaya bahwa naga berasal dari ketakutan manusia terhadap binatang buas seperti ular.

BINTANG TENTANG INSPIRASI

Ketika kita memandang langit malam yang cerah, kita akan melihat ribuan titik cahaya yang berkilauan. Rasi bintang adalah pola yang terbentuk dari kumpulan bintang-bintang ini, yang telah memikat imajinasi manusia sejak zaman kuno. Rasi bintang telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia, dari navigasi hingga mitologi, serta masih relevan di era modern ini.

Rasi bintang adalah sekelompok bintang yang posisinya di langit malam membentuk siluet sosok, benda, atau hewan imajiner. Saat ini, terdapat 88 rasi bintang resmi yang diakui oleh Astronomi modern yang mencakup seluruh langit. Ada yang dapat dilihat sepanjang tahun dan ada pula yang terlihat pada musim tertentu dalam setahun. Yang paling terkenal adalah rasi bintang zodiak.

Penggunaan rasi bintang dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno. Peradaban awal seperti Babilonia, Mesir, dan Yunani telah mengembangkan sistem rasi bintang mereka sendiri. Bagi mereka, rasi bintang bukan sekadar hiasan langit, tetapi merupakan alat penting untuk berbagai tujuan:

  • Navigasi: Pelaut menggunakan rasi bintang untuk menentukan arah di laut.

  • Pertanian: Petani menggunakan munculnya rasi bintang tertentu untuk menandai musim tanam dan panen.

  • Mitologi dan Agama: Banyak budaya mengaitkan rasi bintang dengan cerita-cerita dewa dan pahlawan mereka.

  • Pengukuran Waktu: Pergerakan rasi bintang digunakan untuk membuat kalender.

Baca Juga:  Senjata di Balik Pena: Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Keberanian Menulis

Beberapa rasi bintang yang paling terkenal dan cerita menarik di baliknya:

  • Ursa Major (Beruang Besar): Salah satu rasi bintang paling mudah dikenali, yang mencakup asterisme “The Big Dipper”.

  • Orion: Rasi bintang pemburu yang terkenal, mudah dikenali dari “sabuk” tiga bintang sejajarnya.

  • Cassiopeia: Rasi berbentuk W atau M yang dinamai menurut ratu dalam mitologi Yunani.

  • Scorpius: Rasi bintang berbentuk kalajengking yang menghiasi langit musim panas.

Pada tahun 1928, Persatuan Astronomi Internasional secara resmi mengelompokkan bola langit menjadi 88 rasi bintang, dan menamainya dengan nama tokoh binatang, agama atau mitologi. Yang paling terkenal adalah yang divisualisasikan di bidang terestrial, seperti: konstelasi Zodiak, konstelasi Salib Selatan, dan konstelasi Hydra.

Keuntungan mempelajari rasi bintang antara lain; meningkatkan apresiasi terhadap alam semesta, memahami sejarah dan budaya manusia, mengembangkan keterampilan observasi, serta membantu dalam navigasi dasar. Rasi bintang masih relevan dalam astronomi modern, karena hingga kini masih digunakan sebagai referensi untuk membagi langit dan membantu dalam komunikasi antar astronom.

Rasi bintang adalah jendela kita ke alam semesta dan warisan budaya manusia. Mereka menghubungkan kita dengan nenek moyang kita yang pertama kali memandang langit dengan kagum dan bertanya-tanya. Dengan mempelajari rasi bintang, kita tidak hanya belajar tentang astronomi, tetapi juga tentang sejarah, mitologi, dan tempat kita di alam semesta yang luas ini.

Jadi, saat Anda memandang langit malam berikutnya, ingatlah bahwa Anda sedang melihat peta yang sama yang telah memandu pelaut, menginspirasi penyair, dan membuat para ilmuwan kagum selama ribuan tahun. Rasi bintang adalah warisan bersama umat manusia, menghubungkan kita semua di bawah kanopi langit yang sama.

FENOMENA NASIONAL IHWAL PARA KONGLO (Lanjutan)

Pada akhir bulan Mei kemarin, belum lama, persisnya pada 28 Mei 2025. Melalui salah satu WhatsApp Grup yang penulis tergabung di dalamnya, salah satu anggota grup membagikan sebuah flyer dengan desain secara umum didominasi warna gradasi kuning dengan paduan warna hitam dan emas, elegan dan berkelas. Itulah kesan pertama kali yang muncul dalam benak, ditambah tulisan dengan ukuran font lebih besar dari yang lain: “ADA 9 NAGA, ADA JUGA 9 HAJI, PARA KONGLO DENGAN NAMA AKRAB HAJI”. Saat itu, kegelisahan penulis begitu kuat dan tertarik untuk merunut lebih jauh, apa skema dibalik munculnya flyer tersebut, semua itu tentu bukan sekadar kebetulan.

Beberapa pertanyaan liar yang muncul secara otomatis; mengapa flyer tersebut sengaja disebarkan sebagai isu publik pada akhir Mei 2025 M? Yang notabene bertepatan dengan awal masuknya Dzulhijjah 1446 H atau mudahnya disebut dengan ‘bulan haji’, mengapa dibuat dengan desain simpel namun begitu ciamik?, mengapa 9 haji atau tokoh tersebut yang dimunculkan?, mengapa profiling ditekankan pada dua hal? yaitu tempat kelahiran dan bidang usaha terbesar, dan mengapa seolah ‘head to head’ antara Naga dan Haji?.

Kesembilan haji tersebut berasal dari pulau-pulau besar di Nusantara. Secara spesifik Provinsi, dimulai dengan 3 haji dari Sulawesi Selatan, 3 haji dari Kalimantan Selatan, 1 haji dari Kalimantan Tengah, 1 haji dari Sumatra Utara dan 1 haji dari Maluku Utara.

Tiga hari berselang setelah munculnya fenomena sosial tersebut, persisnya pada 31 Mei 2025, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Kalimantan Selatan Masa Khidmah 2024-2028 membuat agenda Temu Kader dan Brainstorming, bertempat di Gedung Aula Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE). Forum tersebut bertujuan untuk membahas arah gerak serta rencana strategis (renstra) PW GP Ansor Kalimantan Selatan selama 4 tahun mendatang. Ide serta gagasan yang muncul dari forum tersebut, selanjutnya akan dimatangkan pada forum Rapat Kerja Wilayah (RAKERWIL) berbarengan dengan rangkaian Pelantikan Pengurus, yang dijadwalkan pada bulan Agustus 2025.

Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun 1924, para pemuda yang mendukung KH. Abdul Wahab —yang kemudian menjadi pendiri NU— membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagai penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor). Dalam perkembangannya, secara diam-diam salah satu Cabang di Pulau Jawa pada waktu itu, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Ansor Serbaguna).

Baca Juga:  Pendidikan sebagai Prioritas di Tengah Ketidakpastian Zaman

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, sejak berdiri dan ditetapkannya 24 April 1934 sebagai hari lahir GP Ansor hingga sekarang, dengan kemampuan dan kekuatan serta komitmen keagamaan dan kebangsaan yang kuat, GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalanan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang strategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional. GP Ansor merupakan organisasi kepemudaan populer di Indonesia.

10 Arti Lambang Gerakan Pemuda Ansor

Lambang Gerakan Pemuda Ansor ialah sebuah segitiga dengan didominasi warna hijau. Lambang ini tidak sekadar lambang biasa, sebab terkandung banyak arti dan makna yang menggambarkan identitas, ideologi, dan komitmen GP Ansor sebagai sebuah organisasi yang matang di Indonesia:

  1. Segitiga: Garis alas berarti tauhid, garis sisi kanan berarti fiqh, dan garis sisi kiri berarti tasawwuf.

  2. Segitiga sama sisi: Keseimbangan pelaksanaan ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang meliputi Iman, Islam, dan Ihsan (atau Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, dan Ilmu Tasawwuf).

  3. Garis tebal sebelah luar dan tipis sebelah dalam pada sisi segitiga: Keserasian dan keharmonisan hubungan antara pemimpin (garis tebal) dan yang dipimpin (garis tipis).

  4. Warna hijau: Kedamaian, kebenaran, dan kesejahteraan.

  5. Bulan sabit: Kepemudaan.

  6. SEMBILAN BINTANG: Satu yang besar berarti Sunnah Rasulullah, empat di sebelah kanan berarti sahabat nabi (Khulafaur Rasyidin), empat di sebelah kiri berarti madzhab yang empat yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali.

  7. Tiga sinar ke bawah: Pancaran cahaya dasar-dasar agama yaitu Iman, Islam, dan Ihsan yang terhujam dalam jiwa dan hati.

  8. Lima sinar ke atas: Berarti manifestasi pelaksanaan terhadap rukun Islam yang lima, khususnya shalat lima waktu.

  9. Jumlah sinar yang delapan: Pancaran semangat juang dari delapan Ashabul Kahfi dalam menegakkan hak dan keadilan, menentang kebathilan dan kedzaliman serta pengembangan agama Allah ke delapan penjuru mata angin.

  10. Tulisan ANSOR (huruf besar tebal): Berarti ketegasan sikap dan pendirian.

Jadi, menyikapi fenomena nasional ihwal para konglo yang masih dan akan terus hangat diperbincangkan, perlu dan pentingnya telaah secara komprehensif dari hulu ke hilir, dengan menggunakan kacamata makro sebagai alat ukur serta fungsi. Sebuah fenomena baru yang berpotensi akan menciptakan tatanan baru di tengah-tengah masyarakat, berimplikasi pada pergeseran nilai-nilai budaya hingga pada segala hal yang berkaitan dengan ekonomi – sosial – politik.

Menurut Wikipedia, Konglomerat adalah kombinasi dari dua perusahaan atau lebih yang menjalin bisnis yang secara keseluruhan berbeda, biasanya melibatkan sebuah perusahaan induk dan beberapa subsider. Seringkali, sebuah konglomerat adalah sebuah perusahaan multi-industri. Konglomerat seringkali besar dan multinasional. Konglomerat menjadi populer pada tahun 1960-an karena kombinasi dari pasar beruang/kerbau tetap dan tingkat kepentingan rendah, yang membolehkan konglomerat membeli perusahaan-perusahaan dalam leveraged buyout, terkadang pada nilai deflasi temporer.

Istilah konglomerasi 9 Naga atau 9 Haji sebenarnya kelompok ini tidak nyata, dikelompokkan karena kesamaan sapaan akrab. Salah satu kemiripan mereka adalah terkenal dekat dan royal pada masyarakat. Ciri selanjutnya ialah memberikan sumbangan atau bantuan dengan nominal fantastis, serta mendapatkan rasa hormat yang tinggi dan pengakuan secara sosial.

Jadi, terlepas dari semua analisa yang dilakukan dengan berbagai macam cara dan sudut pandang yang digunakan, muaranya adalah apa yang dapat kita perbuat di antara pergeseran tata dan nilai sosial tersebut? Hal ini menjadi penting dan mendasar, daripada kita terlampau kagum dengan fenomena yang sedang terjadi.

SEMBILAN BINTANG sebagai inspirasi para Pemuda Ansor begitu nampak dan jelas terpampang pada lambang organisasi. Kaya akan nilai historis, komitmen kuat serta nilai dan norma yang dimiliki, sudah lebih dari cukup sebagai modal kolektif untuk berada pada “posisi tawar” dengan para konglomerat. SIAP dalam tarikan nafas yang sama secara mindset, prinsip dan kekuatannya para NAGA, pun kita wajib BISA dalam tataran semangat jihad dan nilainya para HAJI.

Akhirnya, mari kita berlayar menggunakan kapal yang handal, teruji dan paten ini Sahabatku! Sembari sama-sama menyanyikan lagu dari ‘Padi – Sahabat Selamanya’. Memulai, tumbuh, menguatkan, hingga kelak kita sandar pada pelabuhan dengan tujuan berbeda-beda, secara bersama-sama.

Oleh: Muhammad Ramli Jauhari – Penulis adalah Sekretaris PW GP Ansor Kalimantan Selatan

Disclaimer: Artikel ini merupakan opini, bukan karya jurnalistik Gugah.co. Kolom Suara Pinggiran menjadi wadah bagi akademisi, aktivis, dan analis untuk menyuarakan gagasan bebas.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran