Pelantikan PC PMII Purwakarta: Usung Misi ‘Revelasi Pergerakan’ dan Posisi Oposisi Fidelis

PURWAKARTA – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Purwakarta masa khidmat 2026–2027 resmi dilantik pada Senin (9/11/2026). Prosesi pelantikan ke-XV ini tidak hanya menjadi seremoni pergantian kepemimpinan, tetapi juga panggung konsolidasi ideologis bagi gerakan mahasiswa di tengah tantangan krisis keberpihakan negara terhadap rakyat kecil.

Mengusung tema besar “Revelasi Pergerakan”, kepengurusan baru ini menegaskan komitmen untuk membangkitkan kesadaran kritis kader. PMII Purwakarta berupaya menghidupkan kembali watak gerakan mahasiswa sebagai alat kontrol sosial yang independen, dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Ketua PC PMII Purwakarta yang baru dilantik, I. Aldi Wiguna, dalam pidato perdananya menekankan bahwa “Revelasi Pergerakan” adalah panggilan sejarah bagi PMII untuk kembali ke rahim rakyat. Ia menegaskan posisi organisasi sebagai Oposisi Fidelis—sebuah posisi oposisi yang setia pada cita-cita kebangsaan.

Baca Juga:  Sumedang ‘Pesta’ Produk Lokal: 92 Persen Anggaran Pengadaan 2026 Mengalir ke Industri Dalam Negeri

“PMII tidak akan menjadi oposisi yang sekadar mencari panggung politik atau menjadikan kritik sebagai komoditas kekuasaan. Kami adalah oposisi ideologis yang mengawal kebijakan publik dengan keberpihakan jelas terhadap masyarakat luas,” tegas Aldi.

Menurutnya, di tengah risiko demokrasi yang “dibajak” oleh kepentingan oligarki, mahasiswa tidak boleh kehilangan keberanian untuk bersikap. “PMII harus kembali menjadi parlemen jalanan yang menyuarakan denyut nadi rakyat kecil. Kami akan menjadi kekuatan moral yang tidak takut mengkritik kebijakan yang melukai masyarakat, namun tetap berdiri bersama pemerintah jika kebijakan tersebut berpihak pada kemaslahatan publik,” imbuhnya.

Senada dengan semangat tersebut, Majelis Pembina Cabang (Mabicab) PMII Purwakarta, Dr. H. Ramlan Maulana, M.Hum., mengingatkan adanya ancaman neo-kolonialisme dalam wajah baru. Menurutnya, penjajahan hari ini masuk melalui penetrasi ekonomi, budaya, dan eksploitasi pola pikir melalui teknologi.

Baca Juga:  Gubernur Dedi Mulyadi Anulir Penutupan Jalan Diponegoro: Tegaskan Otoritas dan Kelancaran Publik

“Anak muda hari ini sering kali merasa merdeka, padahal pikirannya dijajah oleh algoritma dan gaya hidupnya ditentukan pasar. Ini adalah bentuk baru kolonialisme yang harus dilawan melalui kesadaran intelektual dan gerakan sosial,” ujar Ramlan.

Dari unsur Pengurus Besar, Wakil Sekretaris Jenderal PB PMII, Yusril Nager, menambahkan bahwa medan pertempuran saat ini telah merambah ke ruang digital. Ia mengingatkan kader agar tidak terjebak pada aktivisme semu yang hanya mengejar popularitas tanpa kedalaman gagasan.

Baca Juga:  Usai Terima SK DPP, PDIP Kota Bekasi Diminta Tekan Angka Kemiskinan

“Perjuangan digital tanpa basis ideologi sangat mudah dibajak. Sejarah membuktikan bahwa perubahan lahir dari keberanian mereka yang tidak tunduk pada ketakutan, meski harus menghadapi pembungkaman opini digital,” kata Yusril.

Menutup rangkaian orasi, Ketua IKA PMII Purwakarta, Drs. K.H. Akhfaz Fauzi Asyqin, menekankan pentingnya nilai Aswaja sebagai benteng dari arus pragmatisme politik dan radikalisme. Ia memandang Aswaja sebagai metodologi berpikir yang mampu menjaga keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan kemanusiaan.

Pelantikan PC PMII Purwakarta ke-XV ini menjadi momentum krusial bagi organisasi untuk menjaga daya kritis di tengah arus kapitalisme. Sejarah panjang gerakan mahasiswa kembali diingatkan: bahwa perubahan besar selalu lahir dari keberanian kaum muda yang memilih berdiri bersama rakyat.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *