Membaca Dinamika Partai Golkar Purwakarta: Dari Historis Orde Baru, Badai Politik 2024, hingga Secercah Harapan Konsolidasi

|

gugah.co – Perjalanan politik Partai Golkar di Kabupaten Purwakarta memiliki ritme dan dinamika tersendiri dalam panggung sejarah politik lokal. Menatap era kepemimpinan baru DPD Partai Golkar Kabupaten Purwakarta pasca-Musda XI, Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) DPD Partai Golkar Purwakarta, Dr. Suherman Saleh, memberikan pandangan mendalam mengenai akar sejarah kekuatan Golkar, dinamika Pemilu 2024, hingga langkah strategis membesarkan kembali partai di masa depan.

Secara historis, keberadaan Golkar pada masa Orde Baru merupakan tiang utama penopang stabilitas politik dan pembangunan nasional. Ketika gelombang Reformasi 1997–1998 merontokkan perolehan suara Golkar di mayoritas kabupaten/kota di Indonesia hingga berada di bawah 50 persen, Golkar di Purwakarta justru mampu bertahan kokoh.

Menurut Uda Herman, yang telah aktif berkiprah di Golkar sejak tahun 1980 saat bertugas di Kementerian Keuangan, ketahanan Golkar Purwakarta tidak lepas dari kepemimpinan yang menyatu dengan kultur masyarakat lokal.

Make-up politik Purwakarta kala itu menempatkan hubungan antara Tentara Siliwangi dan rakyat bak “ikan dengan air”. Kepemimpinan para tokoh militer purnawirawan seperti Mirad Saadi hingga, Bisri Harjoko yang dilanjutkan kepemimpinan sipil era Dedi Mulyadi, berhasil menjaga basis kepercayaan publik secara konsisten hingga perolehan suara tetap berada di atas 50 persen dibanding masa Orde Baru.

Baca Juga:  Menyambung Sejarah, Merapat ke Rakyat: Golkar Purwakarta Siap Peringati HUT ke-62

Ketangguhan basis Golkar Purwakarta sempat mengalami ujian terberat pada Pemilu 2024. Untuk pertama kalinya dalam sejarah lokal, perolehan kursi Golkar di DPRD Kabupaten Purwakarta mengalami penurunan dari semula 11 kursi menjadi 9 kursi.

“Setiap friksi dan perpecahan di internal Golkar akan merusak hubungan kemesraan antara partai dan para pemilihnya,” kata Uda Herman, kepada awak media, belum lama ini.

Penurunan tersebut terjadi akibat dinamika dan perpecahan di tingkat pimpinan jelang Pemilu, yang berujung pada keluarnya mantan Ketua DPD Golkar Purwakarta dari partai. Perpindahan figur sentral tersebut memicu krisis kepercayaan di ranah konstituen dan menimbulkan “tsunami politik” yang berdampak langsung pada tergerusnya perolehan kursi, termasuk bagi kader-kader potensial di lapangan.

Meski demikian, berkat perjuangan tiada henti seluruh kader, mesin partai, serta loyalitas konstituen yang tersisa, Golkar Purwakarta masih mampu bertahan sebagai salah satu kekuatan utama politik daerah.

Baca Juga:  Bang Jo Tegaskan Ansor Harus Satu Barisan, Beda Pilihan Jangan Tinggalkan Konflik

Menghadapi situasi rentan pasca-2024, penanganan yang salah dalam Musda XI Golkar Purwakarta berisiko memperparah keretakan internal. Jika mekanisme pemungutan suara (voting) dilakukan akan berpotensi meninggalkan luka politik bagi yang kalah dan memunculkan keangkuhan bagi yang menang.

Guna mencegah hal tersebut, Uda Herman juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Daniel Mutaqien Syafiuddin atas keputusan politik yang cerdas, terukur, dan terkendali.

Keputusan memprioritaskan mufakat dan aklamasi dianggap sebagai langkah bijaksana untuk menghentikan segala bentuk friksi dan gontok-gontokan internal, merangkul seluruh elemen dan basis massa partai dan menghindari polarisasi yang merugikan stabilitas organisasi jangka panjang.

Atas dasar pertimbangan keutuhan tersebut, Dewan Pertimbangan beserta jajaran Pengurus Kecamatan (PK) dan ormas pendiri/yang didirikan bersepakat bulat mendukung Dias Rukmana Praja (DRP) untuk memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Purwakarta periode 2025–2030.

Kemenangan Dias Rukmana Praja dalam Musda XI ditegaskan bukan semata kemenangan individu, melainkan kemenangan bersama seluruh kader. Menatap Pemilu 2029, Uda Herman merumuskan tiga agenda kerja nyata yang harus dijalankan kepengurusan baru:

Baca Juga:  Pemilu Sela AS 2026 Jadi Ujian Trump, Demokrat Bidik Kendali Kongres di Tengah Tekanan Ekonomi

1. Merawat Lumbung Tradisional.

Yaitu melakukan inventarisasi dan perawatan secara intensif terhadap basis-basis suara tradisional Golkar di seluruh pelosok Purwakarta yang selama ini menjadi benteng pertahanan partai.

2. Penguatan dan Peningkatan Kapasitas Kader Fraksi.

Kader-kader yang bertugas di Fraksi Golkar DPRD Purwakarta perlu dibekali wawasan dan keahlian baru secara berkala melalui pembinaan dari DPP maupun DPD Provinsi agar responsif terhadap perubahan tuntutan zaman.

3. Konsolidasi Berbasis Data dan Program Terukur.

Pemilih tidak dapat dipastikan kembali secara otomatis tanpa kerja keras yang terencana dan terukur. DPD Partai Golkar Purwakarta bersama Dewan Pertimbangan dan para senior harus merumuskan strategi taktis untuk menjemput kembali kepercayaan konstituen yang sempat beralih.

Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan Partai Golkar Purwakarta terletak pada persatuan internal dan kepekaan merawat aspirasi rakyat. Dengan kepemimpinan baru di bawah Dias Rukmana Praja yang ditopang kesatuan niat seluruh pengurus, Golkar Purwakarta siap menutup lembaran dinamika masa lalu dan melangkah mantap merebut kembali kejayaan pada Pemilu mendatang.*

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran