Maniis Bersholawat, Merawat Persaudaraan dari Ruang Spiritual

|

GUGAH – Di tengah masyarakat yang kerap dihadapkan pada polarisasi, tekanan ekonomi, hingga memudarnya budaya gotong royong, ruang-ruang kebersamaan menjadi semakin penting. Salah satunya hadir melalui Maniis Bersholawat, sebuah ikhtiar kolektif yang digagas Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Maniis bersama MWCNU, pemerintah kecamatan, dan berbagai elemen masyarakat, Sabtu (3/10/2026).

Lebih dari sekadar agenda keagamaan, Maniis Bersholawat menjadi pengingat bahwa membangun daerah tidak hanya bertumpu pada infrastruktur dan program pembangunan. Modal sosial berupa persatuan, saling percaya, dan kepedulian antarsesama juga menjadi fondasi yang tak kalah penting.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan lantunan 1.000 Sholawat Jibril dan 1.000 Sholawat Nariyah, kemudian ditutup dengan Mahalul Qiyam dan doa bersama untuk keselamatan masyarakat serta keberkahan bagi Kecamatan Maniis.

Baca Juga:  Amengan Sepuh di Pondok Pesantren Darussalam, 20 Lansia Jadi Santri Semalam

Ketua Pelaksana Maniis Bersholawat, Cecep Kusaeri, mengatakan kegiatan ini lahir dari semangat untuk mempertemukan masyarakat dalam satu majelis yang menguatkan persaudaraan.

“Maniis Bersholawat bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi menjadi ikhtiar bersama untuk memperkuat silaturahmi, meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan memohon keberkahan serta keselamatan bagi masyarakat Maniis,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan Ketua MUI Kecamatan Maniis, KH Asep Aliyudin. Menurutnya, sholawat bukan sekadar lantunan, melainkan doa yang diharapkan menjadi jalan bagi hadirnya kedamaian dan keselamatan bagi daerah.

Baca Juga:  DPC PPP Purwakarta Apresiasi DPW Jabar atas Workshop Penguatan Kader dan Pengurus

“Semoga dengan sholawat, Purwakarta menjadi selamat, Maniis menjadi harmonis dan agamis, serta terhindar dari malapetaka dan berbagai bencana,” katanya.

Sekretaris Camat Maniis, H. Asep Mamduh, menilai kolaborasi antara ulama, pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat menjadi kekuatan yang perlu terus dirawat. Sebab, tantangan sosial tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.

“Kegiatan seperti ini menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan antara pemerintah, ulama, organisasi keagamaan, dan masyarakat. Semoga Maniis Bersholawat membawa keberkahan, mempererat persatuan, serta menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam menjaga Maniis agar tetap aman, damai, dan harmonis,” ujarnya.

Baca Juga:  85 Perkara Cerai Prodeo di PA Purwakarta

Di balik lantunan ribuan sholawat, tersimpan pesan yang lebih besar. Ketika masyarakat berkumpul tanpa sekat kepentingan, duduk bersama dalam doa dan harapan yang sama, saat itulah modal sosial sedang dibangun. Dari kebersamaan semacam inilah lahir kepercayaan, solidaritas, dan semangat saling menjaga.

Pada akhirnya, Maniis Bersholawat bukan hanya tentang ritual keagamaan. Ia menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang, ia berawal dari hati yang dipersatukan, doa yang dipanjatkan bersama, lalu diwujudkan dalam kepedulian dan tindakan nyata untuk menjaga kerukunan, merawat lingkungan sosial, serta membangun Maniis yang damai dan berkeadaban.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran