Krisis Pangan Gaza Memburuk, Tujuh Toko Roti Terancam Tutup akibat Stok Tepung Habis

|

GUGAH – Krisis pangan di Jalur Gaza kembali memburuk setelah asosiasi pemilik toko roti memperingatkan bahwa tujuh toko roti yang masih beroperasi terancam berhenti berproduksi dalam waktu 48 jam akibat habisnya persediaan tepung. Peringatan yang disampaikan pada Kamis (22/10/2026) itu menambah kekhawatiran terhadap akses pangan warga Palestina, terutama keluarga pengungsi yang bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Asosiasi Toko Roti Jalur Gaza, Abdul Nasser al-Ajrami, menyatakan persediaan tepung di gudang-gudang wilayah tersebut telah habis. Ia memperingatkan, tanpa pasokan baru, tujuh toko roti yang tersisa dari total 20 toko roti yang sebelumnya beroperasi dapat ikut menghentikan produksi. Sejumlah toko roti lainnya dilaporkan telah lebih dahulu berhenti beroperasi akibat keterbatasan bahan baku.

Menurut laporan kantor berita Palestina WAFA, krisis pasokan tersebut berkaitan dengan penutupan perlintasan Gaza selama sepekan sebelumnya dan pembatasan masuknya tepung komersial, meskipun perlintasan dilaporkan dibuka kembali secara terbatas. Tepung yang masih tersedia di pasar lokal sebagian berasal dari Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP), sementara toko roti komersial yang bergantung pada pasokan dari luar wilayah menghadapi penghentian operasional.

Ancaman berhentinya produksi roti menjadi persoalan serius karena roti merupakan salah satu sumber pangan penting bagi masyarakat Gaza. Bagi keluarga yang kehilangan rumah, pekerjaan, dan sumber penghasilan akibat perang, berkurangnya ketersediaan roti dapat semakin membatasi pilihan makanan, terutama ketika harga kebutuhan pokok sulit dijangkau.

Baca Juga:  Mengenang Nakba: Luka Sejarah Palestina dan Tragedi Kemanusiaan di Gaza

Bantuan Pangan WFP Dipangkas, 500 Ribu Orang Terdampak

Krisis pasokan tepung berlangsung bersamaan dengan pengurangan bantuan pangan oleh WFP akibat kekurangan pendanaan. Pada 19 Oktober 2026, lembaga tersebut mengumumkan pengurangan jumlah penerima bantuan bulanan di Gaza dari 1,6 juta menjadi 1,1 juta orang. Perubahan itu berarti sekitar 500 ribu orang tidak lagi menerima bantuan bulanan melalui program tersebut.

Pemangkasan juga berdampak pada jumlah bantuan yang diterima keluarga. Jatah pangan rumah tangga dipotong hingga separuh, sedangkan distribusi makanan siap santap berkurang dari 250 ribu menjadi 150 ribu porsi per hari. Warga di sejumlah wilayah yang sulit dijangkau bahkan menghadapi pengurangan frekuensi distribusi makanan.

WFP membutuhkan pendanaan sebesar 450 juta dolar AS untuk mempertahankan operasi penting di Gaza dan Tepi Barat hingga Maret 2027. Kekurangan dana tersebut membatasi kemampuan lembaga kemanusiaan untuk mempertahankan cakupan bantuan, padahal kebutuhan pangan masyarakat masih tinggi dan kondisi ekonomi rumah tangga belum pulih.

Baca Juga:  Serangan Israel di Gaza, Tujuh Warga Palestina Syahid dan Dimakamkan Bersama

Data WFP menunjukkan sekitar 1,4 juta orang, atau 67 persen populasi Gaza, masih menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat krisis atau lebih buruk. Angka tersebut menunjukkan bahwa perbaikan akses bantuan sebelumnya belum cukup untuk menghilangkan risiko kelaparan. Lebih dari 80 persen penduduk juga dilaporkan menganggur, sehingga banyak keluarga kesulitan membeli makanan meskipun barang tersedia di pasar.

Ancaman Musim Dingin Perberat Kondisi Pengungsi

Tekanan terhadap kebutuhan pangan berlangsung ketika kondisi tempat tinggal warga juga menghadapi persoalan serius menjelang musim dingin. Laporan yang dikutip Roya News menyebut Kementerian Pembangunan Sosial Gaza pada 13 Oktober memperingatkan sekitar 300 ribu keluarga tidak memiliki tempat berlindung yang memadai. Hampir 90 persen tenda yang digunakan warga dilaporkan telah usang dan tidak layak huni.

Keterbatasan tempat tinggal, pangan, dan pendapatan saling memperburuk kondisi keluarga yang terdampak perang. Warga yang tinggal di tenda atau tempat penampungan sementara membutuhkan makanan sekaligus perlindungan dari cuaca, sementara kemampuan mereka memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri sangat terbatas.

Dalam situasi tersebut, toko roti dan dapur umum memiliki peran penting dalam membantu memenuhi kebutuhan pangan harian. Jika pasokan tepung tidak segera tersedia, penghentian produksi roti berpotensi menambah tekanan pada distribusi bantuan yang saat ini juga menghadapi keterbatasan pendanaan.

Baca Juga:  Musim Panas Memperparah Krisis: Penyakit Kulit Menyebar di Kamp Pengungsi Gaza

Pasokan Tepung Mendesak untuk Mencegah Gangguan Produksi

Peringatan asosiasi toko roti menegaskan pentingnya memastikan pasokan tepung kembali masuk ke Gaza agar produksi roti dapat berlanjut. Kepala asosiasi menyatakan bahwa tanpa pengiriman baru, toko-toko roti yang masih beroperasi berisiko menghentikan kegiatan dan memutus salah satu sumber pangan bagi penduduk.

Pada saat yang sama, kebutuhan pendanaan WFP memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga kemampuan lembaga kemanusiaan untuk mempertahankan distribusi. Pengurangan bantuan dan terbatasnya pasokan komersial dapat membuat keluarga semakin sulit memperoleh makanan yang cukup.

Situasi ini menempatkan warga Gaza pada tekanan berlapis: persediaan tepung menipis, bantuan pangan berkurang, daya beli melemah, dan kebutuhan perlindungan meningkat menjelang musim dingin. Tanpa pemulihan pasokan serta dukungan kemanusiaan yang memadai, risiko memburuknya kerawanan pangan akan tetap tinggi.

Bagi masyarakat yang telah lama menghadapi pengungsian dan kehilangan mata pencaharian, keberlanjutan produksi roti bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian penting dari akses terhadap kebutuhan dasar. Pemulihan distribusi pangan dan masuknya pasokan tepung menjadi langkah mendesak untuk mencegah situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran