Sungai tidak pernah benar-benar diam. Air yang mengalir membawa lumpur, dedaunan, benih kehidupan, dan ingatan tentang ikan-ikan yang sejak lama menjadikan arus sebagai rumahnya. Namun, di banyak sungai Indonesia, yang kini justru mengalir adalah kabar tentang populasi yang terus menyusut.
Bilih di Danau Singkarak, wader pari di sungai-sungai Jawa, belida yang semakin sulit dijumpai di Citarum, hingga ikan-ikan endemik di Sungai Finke, Australia, memperlihatkan kisah yang serupa. Habitat rusak, penangkapan berlebihan berlangsung, pencemaran meningkat, spesies invasif datang tanpa kendali, sementara kebijakan sering kali berjalan sendiri-sendiri.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) dan wader pari (Rasbora argyrotaenia) sebagai spesies berstatus Rentan (Vulnerable). Status itu bukan sekadar klasifikasi ilmiah. Ia adalah penanda bahwa waktu bagi kedua ikan tersebut semakin sempit.
Direktur Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syahril Abdul Raup, mengatakan penurunan populasi terlihat dari semakin sedikitnya hasil tangkapan nelayan dan berkurangnya distribusi ikan di pasar maupun rumah makan. Menurutnya, restocking atau penebaran kembali benih menjadi salah satu jalan memulihkan populasi, tetapi keberhasilannya bergantung pada perbaikan habitat, pengaturan alat tangkap, musim penangkapan, serta pengawasan yang konsisten.
Persoalannya, ikan tidak hidup hanya dari benih yang ditebar.
Di Danau Singkarak, tekanan terhadap bilih datang dari berbagai arah. Penangkapan berlebih, pendangkalan danau, pencemaran, hingga mikroplastik yang telah terpecah menjadi partikel-partikel halus menjadi ancaman nyata. Kajian juga menemukan ketidaksinkronan regulasi antara pemerintah pusat dan daerah mengenai penggunaan bagan sebagai alat tangkap.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Yonvitner, menilai program restocking memang memberikan dampak positif, tetapi efektivitas biologisnya belum maksimal jika tidak diintegrasikan dengan pengelolaan ekosistem secara menyeluruh dan melibatkan masyarakat.
Kisah serupa terjadi pada ikan wader pari.
Guru Besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Bambang Retnoaji, menyebut populasi wader mengalami penurunan akibat degradasi habitat, polusi, perubahan iklim, penangkapan berlebihan, serta masuknya spesies invasif. Padahal, ikan kecil seperti wader merupakan sumber protein penting bagi masyarakat.
Menurutnya, restocking dapat meningkatkan kembali kelimpahan populasi, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi lingkungan, tata kelola desa, dan keterlibatan kelompok pengawas masyarakat.
Di Sungai Citarum, secercah harapan masih ditemukan.
Survei yang dilakukan Forum Komunikasi DAS Citarum (ForkadasC+) Foundation pada 2026 mencatat masih terdapat 23 spesies ikan, dua spesies udang, tiga spesies reptil, dan satu spesies kepiting sungai di kawasan hilir. Namun, data itu juga memperlihatkan kenyataan lain. Ikan ompok hanya ditemukan dua ekor, sedangkan Belida Jawa yang pernah tercatat pada survei sebelumnya belum lagi ditemukan.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa keanekaragaman hayati belum benar-benar hilang, tetapi sedang bergerak menuju batas yang mengkhawatirkan.
Ancaman lain datang dari spesies yang bukan penghuni asli sungai.
Populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) terus meningkat di berbagai perairan Indonesia. Peneliti Universitas Muhammadiyah Malang menjelaskan bahwa spesies invasif ini bersaing memperebutkan makanan, merusak habitat melalui aktivitas menggali tepian sungai, bahkan memangsa telur dan larva ikan lokal ketika sumber pakan berkurang.
Akibatnya, ikan-ikan seperti nilem, tawes, wader, dan betok semakin terdesak di habitatnya sendiri.
Sementara itu, ribuan kilometer dari Indonesia, Sungai Finke di Australia Tengah memperlihatkan pelajaran yang tak kalah penting. Sungai purba itu kini hanya mengalir beberapa hari dalam setahun. Kehidupan ikan bergantung pada kolam-kolam yang tersisa di antara bebatuan. Ketika satu kolam mengering atau rusak, satu populasi ikan dapat hilang karena tidak memiliki jalur untuk berpindah ke tempat lain.
Finke goby kini berstatus Rentan menurut IUCN. Tekanan datang dari perubahan iklim, ternak liar yang merusak tepian kolam, hingga penyebaran ikan invasif Gambusia.
Indonesia belum sampai pada kondisi sungai yang tinggal menyisakan kolam-kolam seperti Finke. Namun, tanda-tanda kehilangan itu mulai terlihat di banyak daerah.
Ironisnya, penyebabnya telah lama diketahui. Penangkapan berlebih, pencemaran, kerusakan daerah aliran sungai, lemahnya pengawasan, tumpang tindih regulasi, hingga minimnya kesadaran masyarakat terus berulang menjadi catatan tahunan.
Restocking memang penting. Tetapi benih yang dilepas ke sungai tidak akan mampu melawan air yang tercemar, habitat yang rusak, ataupun alat tangkap yang terus bekerja tanpa kendali.
Pada akhirnya, yang hilang bukan hanya seekor bilih, wader, atau belida.
Yang perlahan menghilang adalah keseimbangan sungai, sumber pangan masyarakat, pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi, dan keyakinan bahwa sungai masih mampu menjaga kehidupan.
Ketika semua pihak merasa persoalan ini adalah tanggung jawab orang lain, sungai tetap mengalir. Hanya saja, suatu hari nanti, mungkin tanpa ikan-ikan yang sejak dahulu menjadi denyut hidupnya.
Oleh: Solahudin – Penulis adalah Jurnalis Gugah.co



Tinggalkan Balasan