GUGAH – Pendaran api biru atau blue fire kembali teramati di kawasan Kawah Manuk, Kompleks Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Fenomena yang terlihat sejak 24 September 2026 itu tengah dianalisis Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengetahui karakter fenomena sekaligus potensi bahayanya.
Badan Geologi mencatat fenomena serupa bukan kali pertama muncul di Gunung Papandayan, tetapi kemunculan terbaru memiliki lokasi berbeda karena terjadi di area Kawah Manuk. Pemeriksaan lapangan menunjukkan adanya pelepasan panas cukup tinggi pada manifestasi panas bumi yang mampu memicu pembakaran material permukaan.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa nyala kebiruan tersebut berkaitan dengan keluarnya gas belerang bersuhu tinggi dari retakan fumarol yang kemudian bereaksi dengan oksigen di udara. Analisis tersebut sekaligus menunjukkan bahwa fenomena visual yang menarik perhatian masyarakat itu memiliki keterkaitan dengan aktivitas gas vulkanik di kawasan kawah.
Hasil pemeriksaan Badan Geologi juga menemukan material sisa pembakaran di sekitar lokasi kemunculan blue fire. Kondisi itu menjadi indikator bahwa panas yang dilepaskan dari manifestasi tersebut cukup tinggi hingga memengaruhi material yang berada di permukaan kawasan kawah.
Di balik fenomena yang secara visual tampak menarik tersebut, Badan Geologi mengingatkan adanya potensi bahaya gas vulkanik. Konsentrasi sejumlah gas di kawasan fenomena dapat berada di atas ambang batas normal sehingga masyarakat maupun wisatawan tidak dianjurkan mendekati area yang menjadi lokasi kemunculan blue fire.
Pemerintah daerah dan pengelola kawasan wisata kemudian meningkatkan perhatian terhadap akses menuju zona tersebut. Jalur yang menjadi lokasi kemunculan fenomena telah dibatasi untuk pengunjung, sementara aktivitas wisata masih dapat dilakukan dari area yang dinyatakan aman sambil menunggu rekomendasi lebih lanjut dari Badan Geologi.
Badan Geologi sebelumnya telah menurunkan tim tanggap darurat untuk melakukan pemeriksaan langsung terhadap fenomena tersebut. Tim tidak hanya mengamati kemunculan nyala biru, tetapi juga mengukur dan menganalisis potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pelepasan gas vulkanik di sekitar kawah.
Fenomena blue fire di Papandayan menjadi pengingat bahwa kawasan kawah gunung api memiliki dinamika geologi yang perlu dipahami secara ilmiah. Karena itu, keindahan fenomena alam tidak seharusnya membuat masyarakat mengabaikan batas keselamatan dan rekomendasi petugas di lapangan.
Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, BPBD Garut, dan pengelola kawasan wisata sebelum melakukan aktivitas di sekitar kawah. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan setiap kunjungan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi gas vulkanik dan rekomendasi keselamatan terbaru.***



Tinggalkan Balasan