Antisipasi Kemarau dan Perbaikan Irigasi Cikunten, Petani di Kota Tasikmalaya Lakukan Percepatan Masa Tanam

TASIKMALAYA – Sejumlah kelompok tani di Kecamatan Mangkubumi dan Tamansari, Kota Tasikmalaya, mengambil langkah strategis dengan memajukan jadwal masa tanam padi guna memitigasi risiko kekeringan di tahun 2026.

Langkah cepat ini dilakukan sebagai respons terhadap dua tantangan besar yang mengancam ketahanan pangan lokal, yakni prediksi musim kemarau yang datang lebih awal serta adanya rencana perbaikan infrastruktur pada Saluran Cikunten yang menjadi urat nadi pengairan sawah di wilayah tersebut.

Percepatan tanam ini diinisiasi agar siklus produksi tetap berjalan aman sehingga para petani diharapkan sudah memasuki masa panen sebelum debit air menurun drastis pada puncak kemarau mendatang.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Tasikmalaya, Mumu Nuryaman, menegaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan para petani untuk segera melakukan penanaman agar tidak kehilangan momentum ketersediaan air.

Baca Juga:  Amankan Produksi Padi, Pemkab Kuningan Perkuat Strategi Pengendalian Hama Berbasis Ekosistem

Selain faktor cuaca, Mumu menyoroti urgensi pengaturan distribusi air selama masa perbaikan Saluran Cikunten yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

“Ada perbaikan. Saya juga sudah usulkan ke BBWS agar lahan tetap terairi, ada giliran dalam pembagian air bagi petani,” ujar Mumu saat memberikan keterangan pada Minggu, 26 April 2026.

Menurutnya, koordinasi lintas instansi ini sangat krusial karena Saluran Cikunten memegang peran vital tidak hanya bagi pertanian di Kota Tasikmalaya, tetapi juga bagi wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Dampak dari fluktuasi debit air di Saluran Cikunten ternyata melampaui sektor agraris, karena saluran ini juga berfungsi sebagai penyedia air baku bagi pemukiman penduduk sekitar.

Mumu memperingatkan bahwa jika debit air Cikunten berkurang secara signifikan, dampaknya akan langsung dirasakan oleh warga yang mengandalkan saluran tersebut untuk kebutuhan domestik.

Baca Juga:  PW GP Ansor Jawa Barat Gandeng PT Elevarm Perkuat Kemandirian Petani Lewat Kemitraan Budidaya Kentang Granola L di Kertasari

“Iya bukan hanya pertanian, tapi ini juga jadi sumber air masyarakat. Kalau Cikunten debitnya kurang, warga juga kekurangan air bersih,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa stabilitas irigasi Cikunten berkaitan erat dengan ketersediaan air bersih bagi masyarakat luas selama masa transisi cuaca ini.

Melalui percepatan masa tanam, KTNA berharap produktivitas hasil pertanian di Kota Tasikmalaya tetap stabil dan tidak terganggu secara ekstrem oleh ancaman hidrometeorologi kering.

Target utamanya adalah memastikan para petani dapat melakukan panen raya sebelum dampak kekeringan mencapai titik terparah.

“Mudah-mudahan ya, ketika puncak kemarau, petani sudah panen,” kata Mumu.

Ia juga mendesak Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui peran para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk lebih proaktif dalam mendampingi petani di lapangan guna memberikan edukasi teknis mengenai langkah-langkah mitigasi yang diperlukan selama musim kemarau berlangsung.

Baca Juga:  GP Ansor Pasang Badan untuk Supriadi: Sebut Tuduhan Penganiayaan Ajengan di Cikatomas Adalah Disinformasi

Berdasarkan data prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mulai memasuki masa transisi menuju musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026.

Sementara itu, puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan akan terjadi pada bulan Agustus mendatang. Dengan waktu yang kian terbatas, percepatan tanam dan usulan pembagian air secara bergilir melalui BBWS menjadi solusi paling logis bagi petani di Mangkubumi dan Tamansari untuk tetap mempertahankan hasil bumi mereka di tengah ancaman kekeringan dan perbaikan infrastruktur pengairan.***

Artikel Menarik Lainnya

2 tanggapan untuk “Antisipasi Kemarau dan Perbaikan Irigasi Cikunten, Petani di Kota Tasikmalaya Lakukan Percepatan Masa Tanam”

  1. Avatar Den Yoga Firmansyah
    Den Yoga Firmansyah

    Sawah di Wilayah kami kecamatan maniis termasuk sawah tadah hujan semoga kedepan pemerintah bisa membangun irigasi agar para petani bisa menanam padi maksimal 2 atau 3 kali dalam setahun

  2. Avatar Den Yoga Firmansyah
    Den Yoga Firmansyah

    Sawah di Wilayah kami kecamatan maniis termasuk sawah tadah hujan semoga kedepan ada program pemerintah yg bisa membangun irigasi agar para petani bisa menanam padi maksimal 2 atau 3 kali dalam setahun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *