JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Kamis (21/5/2026) ditutup melemah ke angka 6.094 atau sekitar 3.54 persen.
Dikutip Gugah.co dari laman Kontan, jumlah transaksi di Saham pada hari mencapai Rp18,03 triliun dengan volume perdagangan 33,45 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,11 juta kali.
Aksi lepas aset massal terpantau melanda pasar modal domestik dengan tekanan jual yang terjadi nyaris merata di seluruh papan perdagangan.
Berdasarkan data penutupan bursa, sebanyak 700 saham terjerembab di zona merah, sementara hanya 91 saham yang mampu bertahan menguat, dan 168 saham lainnya bergerak stagnan.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa faktor utama kejatuhan indeks kali ini berbeda dengan fase pelemahan sebelumnya yang murni disebabkan oleh sentimen penyesuaian bobot portofolio atau rebalancing indeks MSCI.
Menurut Hasan, pergerakan arus modal dan sentimen investor di lantai bursa saat ini sedang mengalkulasi ulang dampak dari pengumuman regulasi strategis yang dirilis oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo memutuskan untuk memusatkan seluruh rantai penjualan komoditas mentah andalan Indonesia—mulai dari batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), hingga besi fero alloy—wajib melalui satu pintu di bawah kendali PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Sistem kuota dan pemasaran terpusat ini sengaja dideklarasikan pemerintah demi menyumbat celah manipulasi pajak, praktik harga transfer (transfer pricing), nota tagihan bodong, sekaligus mengunci aliran Devisa Hasil Ekspor (DHE) agar menetap di sistem perbankan nasional.
“Saya kira pasti ya, artinya itu pasti direspons secara jangka pendek,” kata Hasan Fawzi saat ditemui di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Hasan menyebut pergeseran regulasi mendasar ini secara langsung maupun tidak langsung telah memengaruhi proyeksi serta persepsi investor terhadap valuasi dan profitabilitas emiten komoditas dalam jangka pendek hingga menengah.
Di sisi lain, respons menenangkan dikeluarkan oleh otoritas bursa. Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, meminta para pemodal tidak terjebak dalam kepanikan sesaat (panic selling) dan tetap memegang teguh filosofi dasar pasar modal.
“Kemarin waktu ada kunjungan dari DPR dan Danantara ke sini kan, juga sudah disampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang,” terang Jeffrey di Gedung BEI.
Manajemen BEI meyakini pondasi makroekonomi Indonesia tetap solid berkat adanya jaminan kemudahan berusaha dari kepala negara, salah satunya reformasi birokrasi pemotongan durasi izin usaha dari semula tahunan menjadi hitungan minggu.
“Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian dan nanti tentunya implikasinya kepada pasar modal dalam waktu jangka menengah panjang kita. Jadi kami sih positif,” tutur Jeffrey.***



Tinggalkan Balasan