GUGAH – Malam di Lapangan Parkir Timur Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (23/8/2026), bukan sekadar tentang hiburan.
Ribuan nahdliyin yang memadati kawasan Expo dan Bazar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) larut dalam lantunan sholawat, musik keroncong, progresif rock hingga pop rock. Mereka datang dari berbagai latar, tetapi malam itu bertemu dalam satu suasana: menikmati panggung yang menjadi ruang bersama.
Hari keempat Expo dan Bazar Muktamar ke-35 NU terasa semakin hidup ketika para siswa madrasah mulai mengambil alih panggung. Siswa MTsN 2 Jombang membuka parade dengan lantunan sholawat. Penampilan kemudian berlanjut dengan Zahra, perwakilan MTsN 3 Jombang, yang tampil sebagai penyanyi solo.
Suasana semakin hangat ketika grup musik MAN 8 Jombang menyuguhkan keroncong. Tak lama berselang, siswa MAN 7 Jombang mengubah atmosfer menjadi lebih energik lewat musik progresif rock.
Namun, perhatian ribuan penonton benar-benar tersedot ketika Reto Band, grup musik bentukan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jombang, naik ke panggung.
Mengusung musik pop rock, Reto Band membuka penampilannya dengan lagu Para Pencari-Mu milik Ungu. Tepuk tangan dan suara penonton langsung memenuhi area expo.
Nuansa kemudian bergeser menjadi nostalgia saat Cinta di Kota Tua milik Nicky Astria dimainkan.
Di tengah suasana itulah kejutan terjadi.
Kepala Kemenag Jombang, Muhajir, tiba-tiba muncul di atas panggung. Mengenakan blangkon, jaket bomber, dan celana kasual, Muhajir mengambil posisi sebagai vokalis.
Ia kemudian membawakan lagu Menanti Kejujuran dengan gaya rock.
Penampilan tersebut sontak mengundang sorak dan tepuk tangan. Bukan hanya karena sosok pejabat yang tampil bernyanyi, tetapi karena malam itu jarak antara panggung dan penonton seolah hilang.
Dari atas panggung, Muhajir juga menyampaikan pesan sederhana yang terasa relevan dengan suasana Muktamar.
“NU adalah rumah kita semua,” tegas Muhajir dikutip Gugah.co pada Senin (24/8/2029).
Pesan itu kemudian diwujudkan dalam aksi berikutnya. Muhajir mengajak Zulfikar Damam Ikhwanto atau Gus Anto, Ketua GP Ansor Jombang periode 2014-2022, naik ke panggung untuk berduet.
Reto Band melanjutkan penampilan dengan Mars Banser dalam aransemen rock. Lagu Rumah Kita, Bus Kota, Virus, hingga Mungkinkah kemudian mengalun.
Menariknya, ketika malam semakin larut, penonton justru belum beranjak. Ribuan nahdliyin ikut bernyanyi hingga lagu terakhir dimainkan.
Momen tersebut menunjukkan bahwa Expo dan Bazar Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi tempat transaksi dan pameran. Di tengah agenda besar organisasi, terdapat ruang bagi masyarakat untuk bertemu, menikmati hiburan, sekaligus merasakan kembali ikatan kebersamaan.
Lebih dari itu, keterlibatan para siswa madrasah memperlihatkan bahwa ruang pendidikan tidak berhenti pada pelajaran di kelas. Sholawat, keroncong, rock dan berbagai ekspresi musik menjadi cara lain bagi para pelajar untuk menunjukkan kreativitas mereka.
Panggung musik akhirnya menjadi salah satu magnet terbesar Expo Muktamar ke-35 NU. Santri, pelajar, warga, pelaku usaha hingga warga Nahdliyin dari berbagai daerah bercampur dalam satu kerumunan.
Dan ketika lagu terakhir selesai, ribuan orang masih bertahan.
Mungkin karena malam itu mereka tidak hanya sedang menonton musik. Mereka sedang menikmati sebuah ruang yang membuat banyak orang merasa pulang: rumah besar bernama NU.***



Tinggalkan Balasan