DPU STAI Al-Muhajirin: Mahasiswa Jangan Sekadar Datang, Tapi Hadir Menjawab Persoalan Warga

|

GUGAH — Mahasiswa tidak cukup hanya datang ke desa membawa program, menjalankan agenda, lalu pulang membawa laporan.

Lewat Dakwah Pengabdian Umat (DPU), STAI Al-Muhajirin Purwakarta justru didorong untuk belajar membaca persoalan warga dan menjadikan ilmu yang mereka miliki sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Teh Hj Ifa Faizah Rohmah saat melepas mahasiswa STAI Al-Muhajirin untuk menjalankan kegiatan DPU di Desa Kertamanah, Kecamatan Sukasari, Purwakarta.

Ia menegaskan, pengabdian masyarakat tidak boleh berhenti sebagai formalitas akademik. Mahasiswa harus turun, melihat langsung kondisi warga, mendengar kebutuhan mereka, kemudian mencari bentuk kontribusi yang benar-benar dirasakan.

“Tidak selalu harus bawa kitab Al-Fiyah, tidak selalu harus bawa buku-buku yang tebal. Kita lihat kebutuhan di masyarakat,” ujar Teh Ifa -begitu ia akrab disapa-, dalam keterangannya diterima Senin (24/8/2026).

Menurutnya, pengalaman berada di tengah masyarakat justru menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk menguji ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

Karena itu, mahasiswa diminta membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan warga Kertamanah. Kehadiran mereka diharapkan tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi ikut menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat.

“Mahasiswa harus belajar melihat persoalan yang ada di masyarakat. Dari sana, ilmu yang dimiliki bisa diterapkan dan dikembangkan menjadi solusi,” kata Teh Ifa.

Baca Juga:  IKA PMII Kota Bekasi Bentuk Pokja Pendirian Politeknik Lingkungan dan Energi Sirkular

34 Tahun Al-Muhajirin: Tumbuh dari Kebutuhan Masyarakat

Semangat menjawab kebutuhan masyarakat, menurut Ketua Yayasan, bukan sesuatu yang baru bagi Al-Muhajirin.

Pondok Pesantren Al-Muhajirin kini memasuki usia 34 tahun. Lembaga yang berada di bawah perjuangan Syekhuna al-Mukarram Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA. itu terus berkembang dengan memperluas layanan pendidikan dan kepesantrenan.

Saat ini, Al-Muhajirin menaungi 22 unit pendidikan, mulai PAUD, SD, SMP, SMA, MTs, MA hingga SMK. Dua perguruan tinggi juga berada dalam ekosistem tersebut, yakni STAI Al-Muhajirin dan Institut Teknologi Al-Muhajirin.

Total peserta didik di lingkungan Al-Muhajirin kini mencapai sekitar 6.000 orang.

Angka tersebut tidak lahir dalam semalam. Menurut Ketua Yayasan, perjalanan Al-Muhajirin sejak awal dibangun dari kedekatan dengan masyarakat.

Ia mengenang kiprah KH. Abun Bunyamin yang sejak dahulu hadir di tengah warga untuk mengajarkan ilmu agama, mulai dari membaca Al-Qur’an, hafalan Juz Amma hingga berbagai pengetahuan keislaman.

“Berbasis kebutuhan masyarakat inilah, alhamdulillah, dirasakan manfaatnya dan terus didukung sampai sekarang Al-Muhajirin bisa terus eksis di dunia pendidikan juga pesantren,” tuturnya.

Baca Juga:  Muhammad Hanif Gabung PKB Kuningan, Bawa Misi Ini

Bukan Hanya Mencetak Sarjana

Perjalanan Al-Muhajirin kini diarahkan pada tiga agenda besar: mencetak sarjana, kader ulama, dan kader pengusaha.

Di sektor pendidikan tinggi, Al-Muhajirin ingin melahirkan sarjana yang bukan hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya.

Di saat yang sama, kaderisasi ulama menjadi perhatian penting. Program tersebut diarahkan untuk menyiapkan generasi yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus mampu membimbing masyarakat menghadapi perubahan zaman.

“Kalau bukan kita, kalau bukan anak-anak kita, kalau bukan pesantren yang mengkader para calon ulama, maka siapa lagi?” katanya.

Program kader ulama itu juga dibuka bagi kaum dhuafa dan anak yatim. Harapannya, keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan seseorang kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan pesantren.

Pesantren Tak Boleh Gagap Ekonomi

Agenda ketiga adalah mencetak kader pengusaha.

Ketua Yayasan menilai pesantren tidak cukup hanya menjadi tempat belajar agama dan pendidikan formal. Pesantren juga harus mampu membangun kemandirian ekonomi sekaligus membekali santri dengan keterampilan menghadapi dunia usaha.

Sejumlah unit usaha telah dikembangkan di lingkungan Al-Muhajirin, seperti koperasi, percetakan, laundry, dan konveksi.

Unit-unit tersebut bukan sekadar sumber pendapatan pesantren. Di dalamnya, santri juga dapat belajar mengenal praktik usaha dan kemandirian ekonomi sejak dini.

Baca Juga:  Ketika Nasihat Tak Lagi Sampai: Demonstrasi Damai dalam Perspektif Ushul Fiqh

DPU Jadi Ujian Nyata Ilmu Mahasiswa

Semangat itulah yang kini dibawa melalui DPU STAI Al-Muhajirin di Desa Kertamanah.

Mahasiswa tidak hanya dituntut membawa program ke desa. Mereka ditantang untuk melakukan hal yang lebih mendasar: mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menawarkan solusi.

Di tengah masyarakat, teori yang dipelajari di ruang kuliah akan berhadapan dengan persoalan nyata. Ada kebutuhan warga, keterbatasan sumber daya, persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, hingga berbagai dinamika kehidupan desa.

Di situlah DPU menemukan maknanya.

Kehadiran mahasiswa di Kertamanah diharapkan menjadi jembatan antara kampus, pesantren, pemerintah desa, dan masyarakat.

Sebab ukuran keberhasilan pengabdian bukan semata berapa banyak program yang terlaksana, tetapi seberapa jauh kehadiran mahasiswa meninggalkan manfaat dan pengalaman yang bisa terus tumbuh setelah mereka kembali ke kampus.

Pada akhirnya, DPU bukan hanya tentang apa yang diberikan mahasiswa kepada masyarakat.

Lebih jauh, DPU adalah tentang apa yang mahasiswa pelajari dari masyarakat.

Dari desa, mereka belajar bahwa ilmu tidak selalu hadir dalam buku. Kadang, ilmu justru menunggu untuk ditemukan di tengah kehidupan warga.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran