Getarkan Ribuan Hadirin di Sindangkerta, Ketua FKDT Tasikmalaya Soroti Nasib Guru Diniyah

|

GUGAH — Suasana di pesisir Pantai Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, mendadak hening ketika Ketua DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Tasikmalaya, Dr. H. Suryana, M.Si., naik ke panggung utama pembukaan Khajanah Diniyah 2026.

Di hadapan lebih dari 5.000 hadirin, Suryana tidak menyampaikan pidato formal. Ia memilih orasi puitis untuk menyuarakan kegelisahan tentang nasib guru Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), masa depan pendidikan keagamaan, serta peran madrasah diniyah dalam menjaga moral bangsa.

Dengan permainan intonasi, ritme, dan jeda yang teatrikal, Suryana menyampaikan pesannya di hadapan jajaran pejabat lintas instansi, mulai dari anggota DPR RI, DPRD Jawa Barat, Wakil Bupati Tasikmalaya, Kementerian Agama, hingga ribuan guru dan pejuang madrasah diniyah.

Menyentil Nasib Guru Diniyah

Bagian paling emosional dalam orasi itu ketika Suryana menyinggung pengabdian guru MDT di pelosok desa. Menurutnya, para ustaz dan ustazah selama ini berada di garis depan dalam membentengi anak-anak dari ancaman degradasi moral, kecanduan teknologi, dan derasnya perubahan digital.

Baca Juga:  KAHMI Ciamis Usulkan Penyaluran Bansos Digelar di Masjid

Namun, pengabdian tersebut belum selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan yang mereka terima.

“Tetapi mengapa penegak pancang kalimat takbir itu… justru mereka yang merana? Jalannya tertatih-tatih, badannya rapuh, bajunya lusuh, napasnya pun terengah-engah… Harga mereka hanya sebatas senyum tak berarti, padahal merekalah pembuka dan penguat bumi ini!” serunya.

Kalimat tersebut disampaikan dengan nada haru. Ribuan hadirin pun larut dalam suasana hening.

Pesan itu menjadi kritik sosial yang disampaikan secara terbuka kepada para pemangku kebijakan yang hadir. Suryana seolah mengingatkan bahwa perhatian terhadap pendidikan keagamaan tidak cukup berhenti pada seremoni, tetapi harus menyentuh kehidupan para guru yang menjalankannya.

Dari Porsadin ke Khajanah

Dalam orasinya, Suryana juga menjelaskan perubahan paradigma dari PORSADIN (Pekan Olahraga dan Seni Madrasah Diniyah) menuju KHAJANAH (Kompetisi Hasil Belajar Diniyah).

Baca Juga:  IPNU-IPPNU Pinang Dilantik, Tancap Gas Bidik Pelajar Putus Sekolah dan Kembangkan Potensi

Perubahan tersebut, kata dia, bukan sekadar pergantian nama kegiatan. Khajanah diarahkan untuk mengembalikan perhatian pendidikan diniyah kepada penguasaan ilmu keislaman dan hasil belajar peserta didik.

“Khajanah… kompetisi hasil belajar murid madrasah diniyah. Kita lepas olahraga yang bukan manhajnya, kita kuatkan hasil belajar untuk hidupnya! Dari Porsadin, kita hijrah ke Khajanah!” tegasnya.

Mengenang 385 Pejuang Diniyah

Suasana semakin emosional ketika Suryana mengenang 385 pejuang Diniyah Kabupaten Tasikmalaya yang telah meninggal dunia.

Ia menyebut perjuangan pendidikan diniyah hari ini tidak lahir dari ruang kosong, melainkan berdiri di atas pengabdian panjang para pendahulu.

“Wahai para leluhur… 385 pejuang Diniyah telah kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi. Tenanglah! Diniyah ada di sini, ada di arena ini! Bendera perjuanganmu kami ikat erat di bahu, di hati, dan dalam juang! Takkan pernah kami berikan pada orang yang hanya berkata tanpa fakta!” ucapnya.

Baca Juga:  Lima Janji Istimewa Tantan Jika Terpilih Jadi Ketua PWI Jabar

“Diniyah Milik Kita”

Orasi ditutup dengan seruan yang kemudian menggema di sepanjang arena.

Suryana bertanya kepada ribuan hadirin, “Wahai saudara-saudara… apabila saya tanya: milik siapa diniyah ini?”

Ribuan suara menjawab serentak.

“DINIYAH… MILIK KITA!”

Gemuruh jawaban tersebut menjadi penutup orasi sekaligus penanda dimulainya Khajanah Diniyah 2026 yang mempertandingkan 21 cabang lomba dengan sekitar 4.251 peserta dan official.

Namun, lebih dari sekadar pembukaan sebuah kompetisi, orasi tersebut membawa pesan yang lebih besar: madrasah diniyah tidak hanya berbicara tentang ruang kelas dan perlombaan, tetapi tentang masa depan pendidikan agama, penghormatan terhadap guru, serta upaya menjaga akidah dan karakter generasi bangsa di tengah perubahan zaman.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran