IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas, Investor Cermati BI Rate dan Arus Asing

|

GUGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan Bursa Efek Indonesia, Kamis (20/8/2026). Pelaku pasar mencermati keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan sekaligus menimbang arah aliran dana asing ke pasar saham domestik.

Pada perdagangan sebelumnya, sebanyak 365 saham tercatat menguat, 147 saham melemah, sedangkan 200 saham lainnya stagnan.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak di rentang 6.330–6.490. Secara teknikal, muncul pola shooting star di area resistance 6.490 setelah indeks dua kali gagal menembus zona 6.400–6.450.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang terjadinya konsolidasi atau aksi ambil untung (profit taking).

“Secara teknikal, terbentuk shooting star di area resistance 6.490 setelah dua kali rejection di zona 6.400–6.450, mengindikasikan potensi konsolidasi atau profit taking lanjutan,” demikian dikutip dari riset BRI Danareksa Sekuritas.

Meski demikian, IHSG masih bertahan di atas MA20 dan indikator MACD berada di area positif. Kondisi ini membuat tren jangka pendek belum menunjukkan perubahan menjadi bearish.

Baca Juga:  Investor Bersiap Borong, Harga Emas di Pegadaian Hari Ini Anjlok Massal

Dari sisi sentimen, pasar juga merespons keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.

Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar. Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75 persen, sedangkan Lending Facility berada di level 6,5 persen.

Menurut Phintraco Sekuritas, kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia juga masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional 2026 di kisaran 4,9–5,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Dukungan terhadap pertumbuhan salah satunya terlihat dari penyaluran kredit perbankan yang tumbuh 13,58 persen yoy pada Juli 2026. Angka itu meningkat dibandingkan pertumbuhan 12,67 persen yoy pada Juni 2026.

Phintraco menilai pertumbuhan kredit tersebut turut ditopang kebijakan makroprudensial yang longgar, termasuk optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.

Baca Juga:  IHSG Berdarah! Nyaris Ambruk 5% di Sesi II, Aksi Jual Masif Guncang Bursa

Arus Asing Jadi Perhatian

Selain kebijakan Bank Indonesia, keputusan FTSE Russell menunda penambahan konstituen baru Indonesia hingga Desember 2026 turut menjadi perhatian investor, khususnya terkait potensi arus dana asing (foreign flow).

BRI Danareksa Sekuritas menilai arah pasar berikutnya juga akan dipengaruhi respons investor terhadap FOMC Minutes, terutama dampaknya terhadap imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, dolar AS, dan minat investor terhadap aset berisiko.

Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia melihat sejumlah sentimen eksternal berpotensi menopang IHSG. Penguatan bursa Wall Street dan kenaikan mayoritas harga komoditas diperkirakan menjadi katalis positif.

Namun, tekanan dari aksi jual investor asing masih perlu diwaspadai. Tekanan pada saham BYAN setelah perusahaan membantah kabar yang beredar juga dinilai berpotensi menjadi sentimen negatif.

CGS memperkirakan IHSG bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. Level support berada di 6.355–6.315, sedangkan resistance di 6.435–6.470.

Baca Juga:  IHSG Berpotensi Uji Level 5.500, Sentimen Domestik Masih Membayangi Pasar

Berbeda dengan proyeksi tersebut, Panin Sekuritas justru memperkirakan IHSG berpotensi melemah. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kembali tensi geopolitik serta kenaikan harga minyak.

“Untuk hari ini kami memperkirakan IHSG akan melemah,” demikian dikutip dari riset Panin Sekuritas.

Saham Pilihan

Di tengah beragam proyeksi tersebut, sejumlah sekuritas memasukkan beberapa saham sebagai pilihan perdagangan hari ini.

BRI Danareksa Sekuritas memilih BULL, IATA, dan SSIA.

Phintraco Sekuritas merekomendasikan ERAA, ELSA, MEDC, ENRG, dan ACES.

CGS International Sekuritas Indonesia memilih TINS, MEDC, SSIA, PWON, BRPT, dan DSNG.

Sementara Panin Sekuritas menempatkan BULL, JSMR, dan RATU sebagai saham pilihan.

Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan pasar masih menghadapi sejumlah katalis yang saling berlawanan. Kebijakan suku bunga dan fundamental domestik menjadi penopang, sementara arus dana asing, perkembangan pasar global, harga komoditas, serta risiko geopolitik masih menjadi faktor yang dapat menentukan arah IHSG sepanjang perdagangan.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran