IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Tapi Risiko Koreksi Mulai Mengintai

|

GUGAH – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum menunjukkan tanda kehilangan tenaga. Setelah melesat 1,68 persen ke level 6.501,58 pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), indeks diproyeksikan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (21/8/2026).

Namun, optimisme pasar dibayangi sejumlah risiko eksternal, terutama kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat dan pergerakan harga komoditas yang kembali bergejolak.

Analis Phintraco Sekuritas menilai penguatan IHSG pada perdagangan sebelumnya ditopang peningkatan volume transaksi. Kondisi tersebut membawa indeks kembali mendekati level MA100, sekaligus membuka peluang menuju area resistance berikutnya di kisaran 6.660–6.700.

Baca Juga:  Harga Jual Dolar AS di Sejumlah Perbankan Tembus Rp18.000

Meski demikian, investor diminta tidak mengabaikan sentimen eksternal dan kecenderungan pasar menjelang akhir pekan.

“Namun perlu diwaspadai sentimen negatif eksternal dan menjelang akhir pekan,” demikian catatan analis Phintraco Sekuritas kepada investor.

Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai target penguatan IHSG di level 6.500 telah tercapai. Penguatan tersebut turut didukung meningkatnya volume pembelian.

Dalam skenario optimistis, Herditya memperkirakan IHSG masih berada dalam fase wave v dari wave (c) dan wave (iv). Dengan skenario tersebut, indeks berpeluang bergerak menuju level 6.544.

Tetapi ruang kenaikan tersebut tidak berarti tanpa risiko.

Dalam skenario terburuk, Herditya memperkirakan IHSG telah menyelesaikan wave (a) dalam pola diagonal. Kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya koreksi menuju rentang 6.056–6.230 sebelum membentuk wave (b).

Baca Juga:  IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas di Tengah Aksi Jual Asing dan Sorotan Kondisi Fiskal Indonesia

Wall Street Melemah, Yield AS Naik

Tekanan eksternal juga menjadi perhatian investor domestik.

Pasar saham Wall Street cenderung melemah pada perdagangan Kamis setelah imbal hasil US Treasury kembali meningkat. Kenaikan yield tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya pendanaan perusahaan, yang pada akhirnya dapat menahan laju penguatan pasar saham.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah justru kembali menguat lebih dari 2 persen. Pergerakan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat berencana memberlakukan kembali sanksi berat terhadap Iran.

Baca Juga:  Investor Bersiap Borong, Harga Emas di Pegadaian Hari Ini Anjlok Massal

Sementara harga emas relatif stabil. Komoditas logam mulia itu turun tipis 0,1 persen menjadi sekitar US$4.516 per troy ounce, tetapi masih bergerak dalam rentang terbatas di tengah kekhawatiran terhadap risiko inflasi.

Dengan demikian, perdagangan IHSG Jumat tidak hanya akan menjadi ujian bagi daya tahan tren penguatan, tetapi juga kemampuan pasar domestik menyerap tekanan dari sentimen global.

Level 6.544 menjadi target terdekat dalam skenario bullish, sementara area 6.660–6.700 menjadi resistance berikutnya. Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati potensi koreksi apabila tekanan eksternal kembali menguat.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran