IHSG Berpotensi Uji Level 5.500, Sentimen Domestik Masih Membayangi Pasar

|

GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan ini dan berpotensi menguji level psikologis 5.500 di tengah minimnya katalis positif serta meningkatnya sentimen negatif dari dalam negeri.

Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai tekanan jual masih mendominasi pasar seiring munculnya sejumlah ketidakpastian kebijakan yang mendapat respons negatif dari pelaku pasar.

Salah satu isu yang menjadi perhatian investor adalah wacana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Pasar mengkhawatirkan perubahan regulasi tersebut dapat memengaruhi independensi lembaga-lembaga keuangan yang selama ini menjadi penopang stabilitas sistem keuangan nasional.

Di sisi lain, sentimen fiskal turut membebani pergerakan pasar. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 mencatat defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibandingkan defisit Rp20,9 triliun atau 0,09 persen PDB pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, realisasi defisit tersebut masih berada di bawah target defisit APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

Baca Juga:  IHSG Melejit ke Level 7.186 di Awal Perdagangan, Tertular Sentimen Positif Global

Tekanan juga terlihat di pasar valuta asing. Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan rupiah yang berlanjut memunculkan spekulasi di pasar mengenai kemungkinan Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) di luar jadwal sebelum RDG reguler yang dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Juni 2026. Pelaku pasar kini mencermati langkah-langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal maupun domestik.

Analis Phintraco Sekuritas menilai sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pekan ini berpotensi menjadi penggerak pasar. Data tersebut meliputi cadangan devisa Mei 2026 yang diumumkan pada 8 Juni, Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 pada 10 Juni, serta data penjualan ritel April 2026 pada 11 Juni.

Namun, selama belum muncul sentimen positif yang cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan investor, pasar saham domestik masih berisiko melanjutkan tren pelemahannya.

“Di tengah minimnya katalis positif dan masih kuatnya tekanan sentimen negatif, IHSG diperkirakan berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

Baca Juga:  Dolar AS Tembus Angka Cantik Rp17.717, Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah

Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup merosot 4,20 persen ke level 5.594,77. Koreksi terjadi di seluruh sektor, dengan sektor transportasi mencatat pelemahan terdalam sebesar 5,97 persen.

IHSG dan Rupiah Tertekan

Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan signifikan sepanjang sepekan terakhir. IHSG jatuh ke level terendah dalam lima tahun terakhir, sementara nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya.

Dalam sepekan, IHSG terkoreksi 8,73 persen dan diikuti aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp13,78 triliun.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan koreksi IHSG masih didominasi tekanan jual yang cukup besar.

Dari sisi sentimen, Herditya mencatat aliran dana asing keluar (capital outflow) secara tahun berjalan telah mencapai Rp57,63 triliun. Pada saat yang sama, rupiah juga melemah sekitar 1,3 persen dalam sepekan terakhir.

“Pelemahan pasar diperkirakan dipicu oleh menurunnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan yang terjadi di Indonesia,” kata Herditya.

Senada, Head of Research and Education Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, menilai sejumlah ketidakjelasan kebijakan pemerintah serta rumor yang berkembang di pasar kembali memicu tekanan jual di pasar modal domestik.

Baca Juga:  Tekanan Pasar Keuangan Indonesia Kian Dalam, Investor Dinilai Sedang Koreksi Risiko Nasional

Menurutnya, revisi UU P2SK menjadi salah satu faktor yang menimbulkan kekhawatiran investor terkait potensi gangguan terhadap independensi lembaga keuangan.

Proyeksi Perdagangan Ini

Untuk perdagangan Senin (8/6/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan area support di level 5.517 dan resistance di level 5.734.

Menurutnya, berbagai sentimen yang membayangi pasar pada pekan ini masih berpotensi berlanjut pada pekan kedua bulan Juni.

Adapun sejumlah saham yang direkomendasikan MNC Sekuritas antara lain ANTM dengan target harga Rp3.020–Rp3.200, BRMS pada kisaran Rp610–Rp660, serta MBMA dengan target Rp472–Rp520.

Sementara itu, Valdy mengatakan investor akan mencermati sejumlah data ekonomi penting pada pekan kedua bulan Juni, mulai dari data cadangan devisa Mei 2026, Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026, hingga data penjualan ritel April 2026.

“Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,” jelas Valdy.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran