GUGAH — Hamparan bendera Merah Putih berukuran raksasa membentang di lereng Gunung Sembung, Desa Sukajaya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Senin (17/8/2026). Pengibaran bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu bukan sekadar seremoni, tetapi juga membawa pesan pelestarian lingkungan dan harapan baru bagi kawasan tersebut.
Ketua pelaksana kegiatan, Hadi Ismanto, mengatakan pengibaran bendera di Gunung Sembung merupakan yang pertama kali dilakukan. Menurutnya, lokasi tersebut belum pernah digunakan sebagai titik pengibaran bendera dalam skala besar sehingga persiapan dilakukan selama sekitar satu bulan.
“(Pengibaran bendera raksasa) di Gunung Sembung ini adalah yang pertama kali karena ini gunung perawan yang belum pernah dijamah oleh para pemanjat. Oleh karena itu, persiapan untuk kegiatan ini sampai satu bulan,” kata Hadi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara penyerahan bendera Merah Putih berukuran standar dari Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Selanjutnya, tim pemanjat yang terdiri atas sejumlah komunitas pecinta alam membawa bendera dan tiang menuju puncak Gunung Sembung untuk dikibarkan.
Setelah prosesi upacara selesai, bendera raksasa berukuran 30 x 20 meter dibentangkan di badan gunung. Ukurannya yang besar membuat Merah Putih terlihat dari berbagai titik di sekitar Purwakarta, termasuk dari kawasan Waduk Djuanda.
Medan Terjal dan Angin Kencang Jadi Tantangan
Hadi mengungkapkan, proses pemasangan bendera tidak berlangsung mudah. Tim harus menghadapi kontur bebatuan yang terjal serta terpaan angin kencang yang berpotensi membahayakan proses pengibaran.
“(Tantangan) yang utama itu adalah angin (kencang), kemudian tajamnya bebatuan yang membuat kita harus melakukan tali-temali dengan betul penempatannya agar aman,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda tahunan setiap peringatan 17 Agustus. Selain memperkuat semangat kebangsaan, pengibaran bendera juga diharapkan menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian Gunung Sembung dari eksploitasi yang berlebihan.
Warga Dorong Gunung Sembung Jadi Destinasi Wisata
Kepala Desa Sukajaya, Nirwan Hermawan, menyampaikan harapan masyarakat agar Pemerintah Kabupaten Purwakarta mengembangkan Gunung Sembung sebagai destinasi wisata alam. Menurutnya, potensi kawasan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan aspek konservasi.
Dalam kesempatan yang sama, Nirwan juga menyinggung persoalan pembayaran ganti rugi lahan terkait proyek Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC) yang hingga kini masih menjadi perhatian warga.
“Di 2019 itu ada proyek KCIC (Kereta Cepat Indonesia-Cina). Dari proyek KCIC itu membutuhkan trase di bawah gunung itu ada terowongan itu dibayar oleh KCIC, dibebaskan oleh KCIC dengan total Rp13,9 miliar sekian. Uang itu dititipkan di pengadilan tapi kenapa belum ada inkrah hukum uang itu sudah (diserahkan) ke seseorang,” tuturnya.
Menurut Nirwan, masyarakat sejak lama memahami bahwa kawasan Gunung Sembung merupakan lahan milik negara. Ia menyebut aktivitas penambangan batu di kawasan tersebut selama ini berlangsung secara resmi di bawah pengawasan pemerintah, dengan sebagian hasilnya disetorkan kepada negara sebagai pemilik lahan.
Harapan masyarakat, semangat kemerdekaan yang diwujudkan melalui pengibaran bendera raksasa tidak berhenti sebagai simbol seremonial. Momentum tersebut diharapkan menjadi titik awal penguatan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian Gunung Sembung sekaligus mendorong penyelesaian berbagai persoalan yang masih dihadapi warga di kawasan tersebut.***



Tinggalkan Balasan