GUGAH — Rencana tes urine bagi pelajar di Jawa Barat belum juga turun dari level wacana. Ketua Fraksi PPP DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari, mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak sekadar menjadi agenda pemeriksaan, tetapi didahului edukasi yang matang kepada para siswa.
Menurut Zaini, tes urine terhadap pelajar harus mempertimbangkan berbagai aspek. Jangan sampai pemeriksaan justru membuat siswa merasa tertekan atau dicurigai sebelum memahami alasan dan tujuan kebijakan tersebut.
“Kalau tes urin mau dilakukan, harus mempertimbangkan banyak aspek. Salah satunya adalah kesiapan dari para siswa agar tidak terdampak,” ujar Zaini saat hadir di acara Latihan Instruktur GP Ansor di Subang, Jumat (14/8/2026)
Ia menilai, edukasi mengenai bahaya narkoba harus diperkuat terlebih dahulu di lingkungan SMA, SMK, maupun Madrasah Aliyah.
Menurutnya, sekolah dapat menggandeng kepolisian, psikolog, pemuka agama, serta pihak terkait lainnya untuk memberikan pemahaman secara masif dan terukur.
Dengan cara tersebut, kata Zaini, siswa tidak akan merasa memiliki beban apabila suatu saat pemeriksaan urine benar-benar diterapkan.
“Jadi tidak punya beban kalaupun dites juga, karena memang sudah ada semacam penyuluhan yang baik, yang bagus, dan terukur serta terarah,” katanya.
Zaini juga menekankan pentingnya peran guru Bimbingan Konseling, guru agama, dan orang tua. Pengawasan terhadap anak, menurutnya, tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.
Ia bahkan mengaitkan pengawasan aktivitas anak pada malam hari dengan upaya mencegah berbagai persoalan sosial.
“Jam 9 enggak boleh ada di luar, itu salah satunya untuk menekan itu,” ujarnya.
Zaini menyebut penyalahgunaan narkoba dapat berdampak pada perilaku seseorang dan berpotensi mendorong munculnya berbagai tindakan negatif, mulai dari persoalan emosional hingga pembegalan, judi online, dan pencurian.
Namun, di tengah pembicaraan mengenai tes urine, Zaini memastikan satu hal: mekanisme pemeriksaan bagi siswa belum ada.
“Ah itu belum, itu kan hanya baru wacana yang disampaikan oleh Gubernur. Belum masuk ke tataran teknis apa bisa terjadi atau tidak,” katanya.
Dengan demikian, untuk saat ini para siswa belum perlu bersiap antre membawa sampel urine. Yang lebih mendesak justru bagaimana sekolah, keluarga, pemerintah, dan berbagai pihak terkait membangun kesadaran tentang bahaya narkoba sebelum pemeriksaan benar-benar diberlakukan.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan melakukan tes urine kepada seluruh pelajar SMA/SMK.
“Tes tersebut dilakukan untuk pengujian untuk mendeteksi penyalahgunaan atau ketergantungan obat sediaan farmasi,” ucap Dedi Mulyadi disela-sela menghadiri press release pengungkapan kasus begal sadis di Mapolres Subang, Senin(10/8/2026).***



Tinggalkan Balasan